Kebakaran hebat melanda restoran dan bar populer Rong Beer Na Lad Phrao di Bangkok pada malam Ahad, 12 Juli 2026. Pusat Medis Darurat Erawan melaporkan korban tewas bertambah menjadi 32 orang dan 73 lainnya luka-luka per Rabu 15 Juli, dengan belasan masih kritis. Mayat banyak ditemukan di dekat toilet, pertanda kepanikan saat jalur evakuasi terputus.
Kunjungan Perdana Menteri Anutin Charnvirakul ke lokasi memunculkan fakta mengenai pintu darurat. Dua pintu keluar berfungsi, namun satu diberi label khusus staf tanpa tanda darurat yang jelas, sementara pintu lain terkunci. Seorang petugas penyelamat menyebut pintu staf sengaja dibiarkan tidak informatif agar pengunjung tidak kabur tanpa membayar. Kelalaian ini mengubah kebakaran yang seharusnya bisa diatasi menjadi bencana mematikan.
Thailand sebenarnya memiliki catatan kelam soal regulasi hiburan. Pada 2009, klab Santika di Bangkok terbakar saat perayaan Tahun Baru dan menewaskan 67 orang serta melukai lebih dari 200 pengunjung. Janji perbaikan sistem keselamatan sempat bergema, tetapi Rong Beer tetap beroperasi tanpa izin pertunjukan musik langsung.
Bar tersebut rutin menggelar pertunjukan live meski surat klasifikasi tempat tidak mencakupnya. Ketidaksesuaian antara dokumen perizinan dan praktik di lapangan merupakan masalah umum di kawasan hiburan perkotaan. Pemerintah setempat mengakui akan meninjau ulang peraturan klasifikasi usaha hiburan pasca-insiden.
Ahli keselamatan bangunan menegaskan Rong Beer tidak memiliki sistem pengaman memadai untuk menampung kerumunan besar dan konser langsung. Interior mudah terbakar, tidak ada sprinkler, dan rute evakuasi buruk mempercepat penyebaran api. Kombinasi tersebut membuat korban tidak punya waktu bereaksi.
Bagi pembaca di Indonesia, tragedi ini mencerminkan risiko serupa. Kebakaran klab malam di Bekasi, Jakarta, dan Bali kerap dipicu pintu keluar terhalang serta minim alat pemadam otomatis. Urgensi pemasangan sistem pemantauan gedung cerdas seperti sensor panas IoT dan buka pintu otomatis sangat tinggi.
Teknologi pencegahan kebakaran sebenarnya sudah tersedia di Indonesia. Beberapa vendor lokal memasarkan detektor asap berbasis algoritma yang terhubung ke dashboard pusat, namun penetrasinya di tempat hiburan skala kecil masih rendah. Regulator daerah perlu mewajibkan teknologi tersebut sebagai syarat izin operasional.
Di sisi lain, aplikasi seluler untuk penanda arah evakuasi darurat dapat menggantikan papan tanda fisik yang gagal berfungsi. Kasus Bangkok membuktikan kesalahan signage bisa berakibat fatal, padahal panduan digital mampu menavigasi pengunjung ke jalur teraman. Inovasi ini relevan untuk diterapkan di pusat hiburan tanah air.
"Jadi, ini berarti orang-orang tidak menyadari bahwa itu adalah pintu darurat kebakaran," ucap Anutin merujuk pintu berlabel staf. Sang pemimpin juga menegaskan, "Bisnis yang tidak mematuhi peraturan tidak akan bertahan lama, dan pemilik tempat ini akan menghadapi tuntutan hukum yang seberat-beratnya." Pernyataan tersebut menekankan pertanggungjawaban pidana.
Sementara itu, penyelamat di lokasi menyebut, "Mungkin ini dilakukan untuk mencegah pelanggan kabur tanpa membayar." Mentalitas yang menempatkan pendapatan di atas nyawa harus dibasmi melalui audit keselamatan berkala. Pemilik bar kini dirawat di ICU, namun status hukumnya tetap diproses.
Pemerintah Thailand sudah memerintahkan pemeriksaan mendesak terhadap seluruh tempat hiburan di negeri itu. Peninjauan klasifikasi hiburan juga bergulir agar tidak ada lagi selisih antara izin dan aktivitas nyata. Langkah serupa perlu dicontoh negara ASEAN lain.
Ke depan, integrasi teknologi keselamatan ke dalam syarat perizinan menjadi keniscayaan. Harmonisasi standar kebakaran regional akan melindungi sektor pariwisata sekaligus menyelamatkan nyawa. Peristiwa Rong Beer menjadi pelajaran pahit bahwa hiburan murah dapat berujung pada tragedi tak ternilai.