Jakarta – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) terus memperkuat komitmennya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui optimalisasi kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) di sektor perfilman. Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan pentingnya mengangkat narasi berbasis budaya lokal sebagai fondasi utama dalam menciptakan nilai tambah ekonomi yang signifikan bagi daerah.
Salah satu langkah strategis yang kini tengah dijalankan adalah pengembangan proyek film berjudul 'Foufo', hasil kolaborasi antara SKAK Studios dan SinemArt. Kemenekraf memberikan dukungan penuh melalui serangkaian audiensi, fasilitasi kolaborasi lintas sektor, penguatan nilai IP, hingga strategi perluasan jangkauan pasar untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap karya tersebut.
Dalam keterangannya, Teuku Riefky Harsya menekankan bahwa budaya tidak boleh hanya berhenti pada tahap pelestarian, tetapi harus dihilirisasi melalui inovasi, kreativitas, dan integrasi teknologi. Harapannya, langkah ini dapat memicu para sineas di berbagai pelosok Indonesia untuk lebih berani mengeksplorasi kearifan lokal dalam karya kreatif mereka.
Proyek film 'Foufo' menjadi contoh nyata bagaimana narasi kedaerahan mampu bertransformasi menjadi produk ekonomi kreatif yang kompetitif. Produksi ini melibatkan sekitar 90 persen talenta lokal sebagai pendatang baru serta menggandeng 120 animator dari Hompimpa Animworks Surabaya untuk pengembangan karakter, yang menunjukkan bahwa ekosistem kreatif di daerah memiliki potensi besar untuk digarap secara profesional.
Sutradara sekaligus pendiri SKAK Studios, Bayu Skak, menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh pemerintah dalam memfasilitasi produksi dan jejaring industri. Menurutnya, visi Kemenekraf untuk membangun ekonomi dari daerah sangat sejalan dengan semangat film 'Foufo' yang mengedepankan talenta lokal dan penggunaan bahasa daerah sebagai identitas kuat dalam karya mereka.
Lebih dari sekadar film, 'Foufo' dikembangkan sebagai IP yang komprehensif, mencakup pengembangan merchandise dan berbagai aktivasi kreatif lainnya. Film yang didominasi oleh dialog bahasa daerah ini direncanakan akan tayang serentak di seluruh jaringan bioskop di Indonesia mulai tanggal 9 Juli 2026, sebagai bukti nyata bahwa cerita lokal memiliki daya tarik kuat di pasar nasional.