TOKYO. Asosiasi Perusahaan Minyak Bumi Jepang (PAJ) menyatakan akan mengubah peta pasokan minyak mentah domestik sekaligus terlibat dalam pengembangan jalur pipa yang memutar Selat Hormuz. Langkah tersebut diumumkan langsung oleh presiden asosiasi, Shunichi Kito, dalam konferensi pers pada Rabu (15/7) di Tokyo.
Kito, yang merangkap sebagai chairman kilang Idemitsu Kosan, menegaskan bahwa strategi ini bukan sekadar mencari pengganti minyak dari Timur Tengah. Ia menekankan pentingnya membangun alternatif transportasi yang andal bagi pasokan yang selama ini harus melewati selat strategis tersebut.
Selat Hormuz merupakan titik penyempitan maritim paling kritis bagi perdagangan energi global. Sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati perairan ini, sehingga gangguan di sana langsung mengerek harga minyak mentah internasional. Jepang, sebagai negara yang hampir seluruh kebutuhan minyaknya diimpor, sangat rentan terhadap gejolak rute tersebut.
Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk telah menjadi alarm bagi Tokyo. Pengalaman dari krisis Iran sebelumnya membuat industri hulu dan hilir negeri matahari terbit itu belajar bahwa ketergantungan pada satu jalur pengiriman adalah risiko besar. Oleh karena itu, produsen di Timur Tengah pun mulai merancang opsi darat.
Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi telah mengajukan permintaan resmi kepada pemerintah Jepang untuk berpartisipasi atau mendukung perluasan pipa penghindar Hormuz. UEA berencana mempercepat konstruksi pipa baru guna menggandakan kapasitas ekspor melalui pelabuhan Fujairah pada 2027. Sementara itu, Saudi mempertimbangkan ekspansi pipa menuju pesisir Laut Merah di barat.
Bagi Indonesia, berita ini membawa catatan penting. Negara kita juga mengimpor sebagian besar minyak mentah dari Timur Tengah dan sangat terpapar terhadap fluktuasi harga jika Hormuz terganggu. Kilang-kilang Pertamina di Cilacap, Balongan, dan Balikpapan dirancang untuk memproses grade Timur Tengah, mirip dengan kondisi kilang Jepang.
Namun, diversifikasi yang dilakukan Jepang menunjukkan bahwa kemandirian energi tidak hanya soal mencari sumber baru, tetapi juga membangun infrastruktur alternatif. Indonesia masih minim investasi pada rute pipa regional atau penyimpanan strategis berskala besar. Ke depan, volatilitas pasokan bisa berdampak langsung pada harga BBM subsidi.
Di sisi lain, masuknya minyak mentah Amerika Serikat sempat disebut Kito sebagai opsi. Kendala utama adalah konfigurasi kilang Jepang yang kurang cocok menangani volume besar grade tersebut. Hal serupa terjadi di Indonesia, di mana kilang domestik butuh penyesuaian jika ingin menyerap shale oil AS dalam jumlah masif.
"Hal yang paling utama adalah membangun alternatif yang layak bagi minyak mentah yang lewat Selat Hormuz, bukan sekadar mengganti sumber dari Timur Tengah," ujar Kito dalam paparannya. Pernyataan itu menegaskan bahwa fokus utama adalah kelancaran logistik, bukan sekadar asal negara penyuplai.
Terkait pasokan, Kito juga menyoroti rencana pengadaan minyak AS. "Mengingat konfigurasi kilang saat ini yang lebih sesuai untuk grade Timur Tengah, sulit menangani volume besar minyak mentah AS saat ini," katanya. Ia tidak memberikan komentar mengenai wacana penimbunan naphtha yang digagas menteri industri setempat.
Pemerintah Jepang sendiri ditargetkan merampungkan paket ketahanan energi pada akhir Agustus mendatang. Paket tersebut diharapkan memberi jaminan pasokan stabil sekaligus meningkatkan daya saing industri pengolahan. Sinergi antara produsen Timur Tengah dan kilang Jepang diproyeksikan memperkuat rantai pasok global.
Menyongsong 2027, percepatan pipa UEA bakal mengubah peta ekspor minyak Timur Tengah. Jika Saudi merealisasikan ekspansi pipa ke Laut Merah, ketergantungan pada Hormuz akan berkurang drastis. Dunia, termasuk Asia Timur dan Tenggara, akan menyaksikan era baru distribusi energi yang lebih beragam dan tahan krisis.