Berita

KLH Ungkap Tantangan Utama Pemadaman Kebakaran TPA Jatiwaringin

KLH Ungkap Tantangan Utama Pemadaman Kebakaran TPA Jatiwaringin

Ringkasan

  • Kementerian Lingkungan Hidup mengungkapkan bahwa kebakaran TPA Jatiwaringin sulit dipadamkan karena memiliki karakteristik seperti lahan gambut.

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memberikan penjelasan mendalam terkait sulitnya proses pemadaman kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten. Menurut Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, karakteristik api di lokasi tersebut memiliki kemiripan dengan kebakaran lahan gambut yang sangat sulit dikendalikan hanya dengan metode penyiraman konvensional.

Kondisi tumpukan sampah yang tebal menyebabkan api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga merembet dan terjebak di bagian bawah tumpukan sampah. Fenomena ini menciptakan risiko laten, di mana api dapat terus membara meski terlihat padam dari luar. Selain itu, keberadaan gas metana (CH4) di bawah tumpukan sampah meningkatkan potensi bahaya ledakan yang mengancam keselamatan petugas di lapangan.

Untuk mengatasi kendala tersebut, pemerintah telah memutuskan untuk menerapkan teknologi pemantauan canggih. Pihak KLH akan menerjunkan thermal drone yang dilengkapi kamera inframerah untuk mendeteksi radiasi panas secara akurat. Langkah ini krusial untuk memetakan titik api di bawah permukaan sehingga upaya pemadaman dapat dilakukan secara presisi dan tepat sasaran.

Di samping itu, dua sistem pemantauan seluler telah dikerahkan untuk memonitor kualitas udara di sekitar lokasi kebakaran. Pengukuran dilakukan terhadap parameter berbahaya seperti sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2), serta partikel debu PM 1.0 dan PM 2.5. Data menunjukkan bahwa kualitas udara sempat mencapai tingkat berbahaya dengan indeks mencapai 1.000, sebelum akhirnya menunjukkan penurunan signifikan setelah penanganan intensif dilakukan.

Untuk mempercepat proses pemadaman, pemerintah melibatkan tim Manggala Agni dari Sulawesi dan Jawa Barat. Sebanyak 30 personel ahli dengan peralatan bertekanan tinggi (high pressure) diterjunkan untuk melakukan injeksi langsung ke titik api di bawah permukaan sampah. Metode ini dinilai jauh lebih efektif dibandingkan menyiram air dari permukaan saja, yang sering kali tidak mampu menembus tumpukan sampah yang padat.

Sebagai langkah pamungkas, KLH bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk menyiapkan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Operasi ini diharapkan dapat mempercepat pemadaman di area seluas kurang lebih 15 hektare tersebut sehingga situasi kedaruratan dapat segera teratasi dan dampak lingkungan bagi masyarakat sekitar dapat diminimalisir.

Mengapa Ini Penting

Insiden ini menyoroti pentingnya adopsi teknologi deteksi dini dan manajemen limbah yang lebih modern di Indonesia untuk mencegah bencana lingkungan skala besar. Kasus ini juga menjadi pengingat bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan standar keamanan operasional TPA guna melindungi kesehatan masyarakat dari dampak buruk polusi udara.

Sumber Asli
Antaranews
Tanggal
4 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit