Nasional

Pemerintah Diminta Hentikan Kebijakan Pengendalian Penduduk yang Targetkan Perempuan

Ringkasan

  • Komnas Perempuan mendesak pemerintah menghentikan kebijakan kependudukan yang memprioritaskan perempuan, mendorong pembagian tanggung jawab reproduksi yang adil dan berperspektif gender menjelang Hari Populasi Dunia 2026.

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mendesak pemerintah untuk menghentikan pendekatan pengendalian penduduk yang menjadikan perempuan sebagai sasaran utama. Seruan ini muncul seiring dengan persiapan Hari Populasi Dunia 2026, yang mengungkap bahwa kebijakan kependudukan saat ini masih memperlakukan tubuh, rahim, dan pilihan reproduksi perempuan sebagai objek pengendalian.

Irwan Setiawan, salah satu komisioner, menegaskan bahwa sangat penting untuk memperkuat tanggung jawab laki-laki dalam kesehatan reproduksi, penggunaan kontrasepsi, dan pengasuhan anak. Ia mengatakan hal ini perlu dilakukan untuk mengalihkan beban yang selama ini dibebankan sepenuhnya pada perempuan.

Komnas Perempuan memperingatkan bahwa kebijakan demografi yang ada cenderung mereduksi perempuan menjadi instrumen untuk mencapai target populasi. Target yang berkaitan dengan tingkat kesuburan, penggunaan alat kontrasepsi, dan jumlah kehamilan seringkali mengabaikan otonomi perempuan dan menganggap mereka sebagai angka‑angka statistik.

Chatarina Pancer Istiyani, komisioner lainnya, berpendapat bahwa kebijakan kependudukan yang adil harus menjamin perempuan dapat menentukan nasib sendiri atas tubuh mereka secara bebas, aman, bermartabat, dan setara. Kebijakan tersebut tidak boleh mengendalikan tubuh perempuan, melainkan memberdayakan mereka.

Komisi ini mengusulkan integrasi penanganan kekerasan berbasis gender ke dalam perencanaan kependudukan, penghentian pendekatan yang menjadikan perempuan sebagai objek, serta peningkatan layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang berkualitas, terjangkau, dan berbasis persetujuan. Upaya ini juga mencakup percepatan penurunan angka kematian ibu, terutama di wilayah tertinggal.

Selain itu, Komnas Perempuan mendorong pembagian tanggung jawab yang setara dalam reproduksi dan pengasuhan, termasuk keterlibatan laki-laki. Kebijakan ekonomi perawatan dan perlindungan sosial yang responsif gender juga dianggap penting untuk mencapai keseimbangan demografis yang berkelanjutan.

Data sebelumnya menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan populasi. Ketimpangan layanan kesehatan antara wilayah perkotaan dan pedesaan memperlihatkan bahwa transisi demografis belum merata.

Seruan "quick wins" dalam pengendalian penduduk yang diungkapkan DPR sejalan dengan rekomendasi Komnas Perempuan. Para anggota legislatif menekankan perlunya kolaborasi antar kementerian dan pemangku kepentingan untuk menghasilkan solusi konkret.

Sebuah studi yang dikutip Wihaji mengungkapkan bahwa setiap dolar yang diinvestasikan dalam program keluarga berencana menghasilkan manfaat sekitar 120 dolar bagi masyarakat. Angka ini menjadi bukti bahwa investasi pada kesehatan reproduksi berdampak luas pada ekonomi dan kesejahteraan sosial.

Hari Populasi Dunia 2026 akan menjadi momentum bagi pemerintah untuk menunjukkan langkah nyata menuju kebijakan kependudukan yang inklusif dan berbasis hak. Aktivis berharap pemerintah dapat menyajikan roadmap yang jelas dan terukur.

Pengamat memperingatkan bahwa pengabaian terhadap seruan ini dapat memperpanjang ketidaksetaraan gender dan menghambat pembangunan berkelanjutan. Mengintegrasikan perspektif hak asasi manusia ke dalam kebijakan demografi dianggap sebagai kunci untuk masa depan yang lebih adil.

Ke depan, Komnas Perempuan mendesak pemerintah untuk mengadopsi peta jalan komprehensif yang mencakup mekanisme pemantauan, audit gender terhadap kebijakan yang ada, dan kampanye edukasi publik untuk mengubah persepsi masyarakat tentang reproduksi dan keluarga berencana.

Mengapa Ini Penting

Seruan Komnas Perempuan mengungkap ketimpangan struktural dalam kebijakan kependudukan Indonesia yang selama ini membebani perempuan, sekaligus membuka peluang bagi reformasi yang lebih inklusif. Dengan mendorong tanggung jawab bersama antara laki-laki dan perempuan, serta mengintegrasikan perspektif gender ke dalam perencanaan demografis, pemerintah dapat mempercepat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, terutama dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi. Perubahan ini juga berpotensi mengurangi angka kematian ibu dan meningkatkan kualitas layanan reproduksi, yang pada gilirannya akan memperkuat modal sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Selain itu, kebijakan yang lebih berorientasi hak akan memperbaiki citra Indonesia di mata dunia sebagai negara yang menghormati hak asasi manusia dan kesetaraan gender.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit