Gelandang tangguh Argentina, Leandro Paredes, kini berada di persimpangan jalan karier internasionalnya. Pemain berusia 32 tahun tersebut secara terbuka mempertimbangkan untuk gantung sepatu dari skuad Albiceleste menyusul serangkaian peristiwa pahit yang melanda dirinya dan tim nasional pasca-Piala Dunia 2026.
Paredes mengungkapkan keraguannya untuk melanjutkan pengabdian bagi negara setelah menerima sanksi larangan bermain dalam 10 pertandingan internasional. Hukuman berat ini dijatuhkan FIFA akibat insiden kekerasan yang melibatkan dirinya terhadap dua penggawa Spanyol, Eric Garcia dan Gavi, dalam laga final yang berakhir dengan kekalahan Argentina.
Selain faktor sanksi yang cukup lama, keputusan sang kapten sekaligus ikon sepak bola Argentina, Lionel Messi, untuk mengakhiri karier internasionalnya menjadi pukulan telak bagi Paredes. Ia merasa era keemasan tim Tango yang telah meraih berbagai prestasi besar kini telah mencapai titik akhir yang alami.
Kondisi fisik dan mental pemain yang kini merumput bersama Boca Juniors itu juga menjadi pertimbangan utama. Paredes menyadari bahwa menjaga standar performa di level tertinggi internasional setelah hukuman panjang bukanlah perkara mudah. Ia mulai berpikir untuk memberikan ruang bagi talenta-talenta muda Argentina yang siap mengambil tongkat estafet kepemimpinan di lapangan.
Secara teknis, skorsing 10 pertandingan ini membuat Paredes absen dari agenda timnas dalam waktu yang sangat lama. Mengingat kalender internasional yang biasanya hanya menyisakan dua laga per jeda, ia baru berpotensi kembali merumput pada November 2027. Jeda selama itu seringkali menjadi vonis tidak tertulis bagi pemain veteran untuk segera pensiun.
Namun, Paredes menegaskan bahwa dirinya belum mengambil keputusan final. Ia berencana melakukan pembicaraan mendalam dengan pelatih Lionel Scaloni dalam waktu dekat. Diskusi tersebut akan menjadi penentu apakah ia masih masuk dalam rencana jangka panjang tim atau harus merelakan posisinya di lini tengah.
Bagi publik sepak bola Indonesia, situasi yang dialami Paredes memberikan pelajaran berharga mengenai disiplin di lapangan hijau. Kasus insiden kekerasan yang berujung sanksi berat ini menjadi pengingat bagi setiap pemain profesional, termasuk di Liga 1, bahwa emosi yang tidak terkendali dapat menghancurkan karier internasional yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Di Indonesia, sanksi serupa atau hukuman larangan bermain yang panjang seringkali menjadi topik hangat di kalangan suporter dan pengamat. Kedisiplinan pemain menjadi instrumen krusial dalam menjaga integritas kompetisi. Kasus Paredes menunjukkan bahwa nama besar sekalipun tidak mendapatkan keistimewaan di mata komite disiplin FIFA.
Kepergian pemain sekaliber Paredes tentu akan menyisakan lubang besar di sektor gelandang bertahan Argentina. Pengalamannya dalam memutus aliran bola lawan dan membangun serangan merupakan aset yang sulit digantikan oleh pemain muda yang minim jam terbang di turnamen besar.
Jika Paredes benar-benar pensiun, Argentina akan memasuki babak baru tanpa dua pilar utama yang telah mendefinisikan kesuksesan mereka dalam satu dekade terakhir. Transisi ini akan menjadi ujian nyata bagi regenerasi sepak bola di negara tersebut.
Proyeksi masa depan timnas Argentina kini sepenuhnya bergantung pada bagaimana staf kepelatihan meramu strategi tanpa kehadiran sosok senior. Fokus utama mereka kemungkinan akan bergeser pada pengembangan pemain berbakat dari liga-liga Eropa untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan para pemain veteran.
Langkah selanjutnya kini berada di tangan Paredes sendiri. Apakah ia akan memilih untuk berjuang kembali setelah masa hukuman berakhir, atau mengakhiri perjalanan internasionalnya dengan kepala tegak sebagai bentuk penghormatan pada era Messi yang telah usai? Jawabannya akan segera terjawab setelah pertemuan krusial dengan tim pelatih nanti.