Longsor besar-besaran menghantam kawasan perbukitan di Kabupaten Otonomi Pengshui Miao dan Tujia, Chongqing, China, pada Jumat (17/7) sekitar pukul 09.08 waktu setempat. Tanah dan batu yang longsor dari lereng curam menghancurkan gugusan bangunan perumahan di tepi sungai Wujiang, menewaskan dan mengubur sejumlah warga yang sempat dievakuasi.
Menurut laporan media negara CCTV, petugas kelurahan telah mendeteksi batu-batu kecil bergulir sejak pukul 08.00 pagi dan segera mengeluarkan peringatan darurat. Otoritas memerintahkan evakuasi lebih dari 60 warga, namun longsoran utama terjadi saat proses pengungsian berlangsung, menimpa mereka yang belum sempat menjauh.
Kementerian Manajemen Darurat China mengaktifkan respons darurat tingkat dua dan mengirimkan tim penyelamat 100 orang ke lokasi. Sebanyak 206 personel serta 49 kendaraan dari pasukan kebakaran dan penyelamatan dikerahkan untuk menggali puing dan mencari korban yang masih terjebak.
Rekam kamera dashboard yang diverifikasi Reuters memperlihatkan momen lereng bukit runtuh tiba-tiba, menghancurkan rumah dan toko di bawahnya, serta melintasi jalan raya yang memaksa kendaraan berhenti mendadak. Debu tebal menutupi area setelah longsoran, menyulitkan visibilitas dan upaya evakuasi.
Sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di barat daya China, Chongqing memiliki topografi perbukitan yang ekstrem dengan kepadatan penduduk tinggi di lereng-leregan sungai. Kondisi geologi rawan longsor diperparah oleh musim hujan dan erosi sungai Wujiang yang terus-menerus mengikis kaki lereng.
Kecelakaan ini mengingatkan pada serangkaian bencana geologi serupa di wilayah Sungai Yangtze. Pada 2023, longsor di Wushan, Chongqing, menewaskan 12 orang. Pemerintah pusat telah menginvestasikan miliaran yuan untuk sistem pemantauan awal, namun deteksi mikro-seismik dan gerakan tanah tetap tantangan teknis di area padat penghuni.
Bagi Indonesia yang juga memiliki topografi perbukitan serupa di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi, insiden ini menjadi pengingat kritis. Data BNPB mencatat 1.200 kejadian longsor di 2023, dengan Jawa Barat dan Jawa Tengah sebagai provinsi paling rawan. Sistem peringatan dini berbasis sensor IoT dan analisis citra satelit mulai diterapkan di beberapa daerah, namun cakupan dan kecepatan evakuasi masih jadi PR besar.
Ahli geologi LIPI, Dr. Eko Yulianto, menilai kunci mitigasi bukan hanya teknologi deteksi, tapi tata ruang yang memisahkan zona rawan dari pemukiman. "China punya kekuatan evakuasi massal yang cepat, tapi jika pemukiman tetap di kaki lereng rawan, risiko tetap tinggi," ujarnya saat dihubungi Jumat sore.
Sementara operasi penyelamatan berlanjut di Pengshui, otoritas belum mengumumkan penyebab pasti longsoran. Investigasi akan melibatkan survei geoteknik, analisis curah hujan minggu lalu, serta evaluasi struktur bangunan yang roboh. Hasilnya akan jadi acuan perbaikan standar bangunan di zona rawan se-China.
Di sisi lain, warga media sosial China menuntut transparansi data korban dan tanggung jawab pengembang properti yang membangun di zona larangan. Tekanan opini publik ini mendorong Kementerian Sumber Daya Alami memperketat izin lokasi bangunan dekat lereng sungai besar.
Untuk Indonesia, pelajaran utamanya jelas: integrasi data geologi ke perencanaan tata ruang kota harus ketat, bukan sekadar rekomendasi. Investasi sistem peringatan dini berbasis AI dan komunitas berbasis desa (Destana) perlu dipercepat, agar saat bencana datang, waktu emas evakuasi tidak terbuang sia-sia.