Mojtaba Khamenei resmi memegang tampuk kepemimpinan tertinggi Iran dan langsung menghadapi ujian berat. Ia menyampaikan ucapan terima kasih kepada rakyat Iran serta Irak atas kehadiran massa dalam prosesi pemakaman ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan mematikan akhir Februari lalu.
Pesan tersebut tidak disampaikan langsung oleh Mojtaba. Kakak tertuanya, Hojjatoleslam Seyyed Mostafa Khamenei, membacakan pernyataan tersebut dalam upacara peringatan di Masjid Mosalla, Teheran, pada Selasa (14/7). Ribuan warga memadati lokasi tersebut. Presiden Masoud Pezeshkian, para dubes asing, serta pejabat militer tinggi turut hadir.
Mojtaba memimpin acara tersebut namun tetap tidak menampakkan wujudnya di depan publik. Kemunculan fisiknya yang minim menimbulkan spekulasi mengenai tingkat keamanan serta strategi komunikasi politik yang diambil pemimpin baru Negeri Para Mullah itu di tengah perang terbuka dengan Amerika Serikat dan Israel.
Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia pada 28 Februari silam. Serangan udara gabungan AS dan Israel menghantam kantor pusatnya di jantung Kota Teheran. Peristiwa tersebut tidak hanya merenggut nyawa sang pemimpin, tetapi juga empat anggota keluarganya dan sejumlah petinggi militer Iran.
Prosesi penghormatan terakhir berlangsung selama lima hari di Teheran, Kota Qom, dan Irak. Jutaan orang berdesakan memberikan penghormatan kepada ulama yang selama ini menjadi marja taklid bagi umat Islam global. Jenazah Ali Khamenei akhirnya dimakamkan di Kompleks Makam Imam Reza, Mashhad, lima hari sebelum upacara peringatan digelar.
Kematian tokoh berpengaruh yang memimpin Iran sejak Juni 1989 itu memicu gelombang kecaman internasional. Lebih dari sekadar duka, peristiwa tersebut menjadi detonator militer. Iran merespons dengan melancarkan operasi balasan berskala besar terhadap instalasi milik AS dan Israel di seluruh Timur Tengah.
Perang antara Washington dan Teheran pun meluas. Negara-negara Arab yang menampung pangkalan militer Amerika ikut terseret ke dalam konflik. Eskalasi ini mengubah peta keamanan regional secara drastis dan memutus rantai pasok energi global yang sudah rapuh sejak krisis sebelumnya.
Bagi Indonesia, eskalasi militer di Timur Tengah membawa konsekuensi langsung meski jarak geografis terpisah jauh. Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, stabilitas kawasan tersebut sangat memengaruhi harga minyak mentah dan elpiji yang menjadi komponen krusial bagi industri domestik. Gejolak harga energi berpotensi memperberat beban inflasi masyarakat kelas bawah.
Di sisi diplomasi, pemerintah Indonesia dihadapkan pada tantangan menjaga netralitas sekaligus memenuhi mandat konstitusi untuk mendukung perdamaian dunia. Kementerian Luar Negeri dipastikan akan meningkatkan intensitas komunikasi dengan negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) guna mendorong gencatan senjata. Warga negara Indonesia yang berada di zona konflik juga menjadi prioritas evakuasi.
Dalam pidatonya, Hojjatoleslam Mostafa mengutip ayat suci Al-Quran yang menjanjikan kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar. Ia menafsirkan kesabaran bukan sebagai pasifisme, melainkan kemampuan menghadapi musibah sambil tetap teguh melangkah di ‘jalan yang lurus’ hingga tujuan akhir tercapai.
Mostafa menegaskan bahwa kesabaran sama sekali tidak bertentangan dengan pembalasan. Para pelaku kejahatan besar dalam serangan mematikan tersebut harus tetap dihadapkan pada pertanggungjawaban di dunia. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa rezim baru di Teheran tidak akan melepaskan agresivitas militernya.
Ke depan, langkah Mojtaba Khamenei akan diawasi ketat oleh intelijen Barat dan sekutu regionalnya. Ketidakhadiran fisiknya di publik merupakan manuver perlindungan diri, namun hal itu juga menguji legitimasi kepemimpinannya di mata rakyat Iran yang terbiasa melihat sosok pemimpin tertinggi berorasi di depan umum.
Konflik bersenjata ini diproyeksikan akan berlangsung lama. Tanpa jalur diplomasi yang nyata, Timur Tengah akan terus menjadi pusat ketegangan yang berdampak sistemik bagi ekonomi negara berkembang, termasuk Indonesia, yang sangat bergantung pada impor bahan bakar dari kawasan tersebut.