Penjualan tiket awal MotoGP Indonesia di Mandalika International Circuit habis hanya dalam waktu seminggu, meraup pendapatan sekitar Rp2,4 miliar. Direktur Operasional ITDC, Troy Reza Warokka, menyatakan angka tersebut biasanya baru tercapai sebulan setelah penjualan dibuka pada penyelenggaraan sebelumnya. Kecepatan penjualan ini disebutnya didorong oleh kehadiran dua pembalap asal Indonesia, Mario Aji dan Veda Ega Pratama, yang akan berlomba di kelas Moto2 dan Moto3.
“Kalau kita lihat angka (penjualan) sudah di angka setara 2,4 miliar Rupiah. Tahun lalu untuk mencapai angka ini itu masih lama, masih menjelang sebulan baru penuh,” kata Troy dalam sebuah wawancara di Jakarta, Selasa. Pernyataan ini menunjukkan betapa cepatnya minat penggemar terhadap event tahun ini, yang didukung oleh narasi “Indonesia Mendunia” yang diusung panitia.
ITDC memperkirakan tingkat okupansi penonton akan jauh lebih tinggi dibandingkan musim balap sebelumnya. Selain dua pembalap lokal, panitia juga menyiapkan hiburan dan sportainment yang lebih segar untuk menarik perhatian penggemar di seluruh Indonesia dan dunia. Upaya ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk meningkatkan daya tarik destinasi pariwisata di Nusa Tenggara Timur.
Kehadiran Mario dan Veda tidak hanya menjadi magnet bagi penggemar lokal, tetapi juga diharapkan dapat meningkatkan citra Mandalika di mata pecinta motorsport internasional. Kedua pembalap ini mewakili kebangkitan pembalap muda Indonesia di kancah global, sebuah narasi yang selaras dengan kampanye “Indonesia Mendunia” yang kini menjadi tagar populer di media sosial.
Selain dampak langsung terhadap pendapatan tiket, event ini juga diproyeksikan akan menggerakkan ekonomi lokal. Data pemerintah sebelumnya menunjukkan bahwa penyelenggaraan MotoGP Mandalika tahun lalu menghasilkan dampak ekonomi senilai Rp4,96 triliun. Hal ini mencakup peningkatan okupansi hotel, pengeluaran pariwisata, serta peluang bagi UMKM yang terlibat dalam event tersebut.
ITDC juga menegaskan bahwa keterlibatan UMKM tetap menjadi prioritas, terutama dalam persiapan menuju penyelenggaraan 2026. Panitia berencana untuk lebih mengoptimalkan rantai pasok lokal, mulai dari kuliner hingga merchandise, agar manfaat ekonomi lebih merata.
Di sisi lain, penjualan tiket yang cepat habis mencerminkan kepercayaan diri yang tinggi dari masyarakat terhadap kualitas acara. Meskipun demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam hal manajemen penonton dan keamanan. Panitia harus memastikan infrastruktur di Mandalika siap menampung jumlah penonton yang lebih besar tanpa mengorbankan kenyamanan dan keselamatan.
Secara keseluruhan, penjualan tiket yang melampaui ekspektasi ini menjadi indikator kuat bahwa MotoGP Indonesia tidak hanya menjadi agenda olahraga, tetapi juga momentum strategis untuk mempromosikan pariwisata dan kebangkitan industri otomotif nasional. Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi fondasi bagi penyelenggaraan yang lebih besar dan berkelanjutan di masa depan.
Ke depan, ITDC berencana untuk terus berinovasi dalam hal paket penjualan tiket dan kemitraan media untuk menjaga antusiasme tinggi. Dengan dukungan pemerintah, keterlibatan pembalap lokal, serta strategi pemasaran yang tepat, MotoGP Indonesia berpotensi menjadi salah satu kalender balap paling diminati di dunia.
Dengan demikian, penjualan tiket yang cepat habis ini tidak hanya menjadi angka semata, tetapi juga simbol kebangkitan industri motorsport Indonesia di kancah internasional.