Sekretariat Jenderal MPR RI mengajak pelajar Generasi Z memperkuat literasi digital dan kemampuan berpikir kritis sebagai upaya menangkal hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, serta penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI) di ruang digital. Imbauan ini disampaikan dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMA Islam Al Azhar 19 Ciracas, Jakarta, Selasa.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi Setjen MPR RI, Budi Muliawan, menegaskan bahwa tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan lagi perang fisik, melainkan perang melawan informasi palsu dan manipulasi digital yang berpotensi memecah belah bangsa. Menurutnya, karakter kebangsaan tidak cukup dipelajari di dalam kelas, melainkan harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, termasuk saat bermedia sosial. “Salah satu bentuk bela negara di era digital adalah tidak mudah percaya pada hoaks dan tidak ikut menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya,” ujar Budi.
Budi juga menekankan pentingnya verifikasi sebelum menyebarkan informasi. Algoritma media sosial, kata dia, kerap menciptakan filter bubble yang hanya menampilkan konten sesuai kebiasaan pengguna, sehingga membentuk cara pandang yang sempit. Pelajar didorong untuk memperluas wawasan melalui sumber-sumber kredibel, membangun budaya diskusi terbuka, menghargai perbedaan pendapat, serta menghindari cyberbullying, ujaran kebencian, dan konten negatif lainnya.
Di sisi lain, kecerdasan buatan yang kian canggih memperumit lanskap informasi. Teknologi deepfake dan konten buatan AI lainnya kerap sulit dibedakan dari konten asli. Tanpa literasi digital yang kuat, generasi muda berisiko menjadi korban manipulasi informasi yang masif.
Indonesia sendiri masih bergulat dengan tingginya peredaran hoaks, terutama di kalangan pengguna internet muda. Berbagai survei menempatkan tingkat literasi digital Indonesia dalam kategori yang perlu ditingkatkan. Langkah MPR RI yang turun langsung ke sekolah menjadi strategi yang tepat untuk membangun kesadaran sejak dini.
Lebih dari sekadar menangkal hoaks, Budi mengajak pelajar memanfaatkan teknologi untuk hal produktif: meningkatkan kompetensi, mengembangkan kreativitas, mempromosikan budaya Indonesia, serta menyebarluaskan prestasi anak bangsa. Dengan demikian, teknologi menjadi alat pemberdayaan, bukan sekadar konsumsi informasi pasif.
Pemahaman terhadap sejarah perjuangan bangsa dan pengamalan Empat Pilar MPR RI—Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—menjadi fondasi karakter kebangsaan. Budi meyakini nilai-nilai ini mampu memperkuat ketahanan generasi muda dalam menghadapi fragmentasi sosial yang kerap dipicu konten negatif di dunia maya.
MPR RI juga membuka saluran partisipasi bagi anak muda melalui situs web, Instagram, YouTube, dan media sosial resmi lainnya. Pelajar bisa memperoleh informasi maupun menyampaikan aspirasi secara bertanggung jawab. ini menandakan lembaga negara merespons kebutuhan akan ruang dialog bagi generasi digital.
Terkait ancaman radikalisme digital, Budi kembali menekankan pentingnya verifikasi informasi serta penguatan peran orang tua dan guru. Pendampingan orang dewasa menjadi kunci agar aktivitas digital anak tetap aman dan positif.
Ke depan, penguatan literasi digital harus menjadi agenda nasional yang berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan platform digital mutlak diperlukan. Sekadar imbauan tidak cukup; perlu ada kurikulum yang membekali siswa dengan kemampuan memilah informasi sejak pendidikan dasar.
Dengan pendekatan yang menyasar langsung Generasi Z, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga kritis, berintegritas, dan berkarakter kebangsaan. Di era banjir informasi, kemampuan menyaring dan memverifikasi menjadi benteng terakhir demokrasi dan persatuan Indonesia.