Indeks Nasdaq memimpin kenaikan pasar saham AS pada perdagangan Selasa (14/7) usai data indeks harga konsumen (CPI) Juni turun lebih dari perkiraan ke 3,5% year-on-year, level terendah dalam enam tahun. Penguatan ini didorong pula laporan laba kuat dari sejumlah bank raksasa yang membuka musim earning kuartal II.
JPMorgan Chase, Citigroup, Bank of America, Goldman Sachs, dan Wells Fargo semuanya melaporkan peningkatan laba berkat kekuatan pasar keuangan dan bisnis investment banking. CEO JPMorgan, Jamie Dimon, menilai perekonomian AS "menunjukkan ketahanan yang luar biasa" sepanjang 2026, meski harga minyak naik akibat konflik AS-Iran. "Konsumen tetap bertahan meski kekhawatiran inflasi masih ada," ujar Dimon dalam laporan laba.
Data CPI yang dirilis Bureau of Labor Statistics menunjukkan pelambatan signifikan dari 4,2% pada Mei. Angka ini melenceng jauh dari konsensus analis Dow Jones Newswires dan The Wall Street Journal yang memproyeksikan 3,8%. Penurunan biaya energi menjadi penyumbang utama pelambatan, mengimbangi kenaikan biaya perumahan dan pangan.
"Ini pelambatan pertumbuhan harga terbesar dalam enam tahun dan drastis mengurangi peluang kenaikan suku bunga pada rapat komite moneter Fed bulan ini," kata Kathleen Brooks, direktur riset platform perdagangan XTB. Pasar future menunjukkan lebih sedikit pedagang yang memasang taruhan kenaikan suku bunga pada pertemuan Fed 29 Juli mendatang, mendorong dolar melemah terhadap euro dan mata uang utama lainnya.
Namun, Gubernur Fed yang baru dilantik, Kevin Warsh, mengecam sikap terlalu optimis. Di audisi Komite Jasa Keuangan DPR, Warsh menegaskan tidak ada "misi selesai" meski data inflasi membaik. "Para pejabat Fed memiliki toleransi nol terhadap harga yang tetap tinggi dan berkomitmen mengakhiri gelombang inflasi berusia bertahun-tahun," tegasnya. Sikap keras ini menyisakan ketidakpastian bagi pasar ke depan.
Sektor energi turut mempengaruhi sentimen. Harga minyak naik pada Selasa tapi kenaikan terbatas setelah Presiden Donald Trump mundur dari ancaman pajak berat bagi kapal yang melewati Selat Hormuz. Gejolak Timur Tengah minggu lalu telah mengirimkan harga minyak melonjak, yang awalnya menekan indeks teknologi pada Senin.
Di sisi korporat, IBM menjadi sorotan negatif dengan sahamnya anjlok lebih dari 25% usai merilis hasil pendahuluan kuartal II yang mengecewakan. Raksasa teknologi itu menyalahkan pergeseran pengeluaran pelanggan akibat perkiraan kenaikan harga chip memori dan infrastruktur AI. "Kami tidak beradaptasi dan bergerak cukup cepat," akui CEO Arvind Krishna dalam surat ke investor.
Bagi investor Indonesia, gerakan Wall Street ini memiliki relevansi ganda. Pertama, pelambatan inflasi AS mengurangi tekanan Bank Indonesia untuk mengikuti kenaikan suku bunga Fed, menciptakan ruang kebijakan moneter yang lebih longgar domestik. Kedua, kelemahan dolar mendukung rupiah dan aliran modal ke pasar emergin, termasuk saham dan obligasi Indonesia.
Sementara itu, anjloknya IBM mengirim sinyal peringatan bagi perusahaan teknologi Indonesia yang bergantung pada infrastruktur AI dan chip. Pergeseran anggaran IT global ke pengeluaran AI infrastructure dapat menarik dana dari layanan cloud tradisional dan solusi enterprise — area yang banyak diincar startup dan BUMN teknologi domestik.
Pasar Asia mayoritas menguat pada pagi Rabu, dengan saham teknologi menikmatilega sesaat dari tekanan jual sebelumnya. Bursa Eropa bergerak datar. Kontras ini menunjukkan sentimen regional yang bervariasi: Asia lebih responsif terhadap harapan suku bunga Fed yang lebih lunak, sementara Eropa tetap waspada pada dinamika geopolitik dan data ekonomi lokal.
Ke depan, fokus pasar akan beralih ke data inflasi produsen (PPI) dan klaim pengangguran mingguan AS akhir pekan ini, serta awal musim earning teknologi besar minggu depan. Jika tren pelambatan inflasi berlanjut dan laba teknologi memenuhi ekspektasi, rally Nasdaq berpotensi berlanjut. Namun, retorika keras Warsh dan ketidakpastian minyak menjaga risiko volatilitas tetap tinggi.