Nasional

PBB dan Pemprov DKI Perluas SDGs ke Jaringan Museum Indonesia

Ringkasan

  • PBB dan Pemprov DKI meluncurkan program SDGs di museum Jakarta, Rabu (15/7), untuk edukasi publik.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Indonesia bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meluncurkan program Mainstreaming SDGs in Museums di Balai Kota Jakarta pada Rabu (15/7). Inisiatif ini dirancang untuk memperkuat peran museum sebagai ruang edukasi publik sekaligus memasyarakatkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) kepada pengunjung dari berbagai lapisan masyarakat.

Peluncuran program dilakukan dengan melibatkan MUSEE ID, Asosiasi Museum Indonesia Daerah (AMIDA) DKI Jakarta, dan sejumlah mitra institusi kebudayaan. Melalui pendekatan baru tersebut, museum didorong mengintegrasikan sembilan belas target pembangunan global ke dalam pameran tetap, program pendidikan nonformal, serta kegiatan pelibatan warga di ruang publik.

Langkah ini muncul sepuluh tahun setelah negara-negara anggota PBB mengadopsi SDGs pada 2015. Dunia saat ini dihadapkan pada tantangan pembangunan yang semakin kompleks, mulai dari krisis iklim, kesenjangan sosial, hingga turbulensi ekonomi global. Di tengah situasi tersebut, lembaga kebudayaan seperti museum dinilai memiliki posisi strategis untuk menjembatani pesan pembangunan berkelanjutan dengan cara yang mudah diakses masyarakat luas.

Museum selama ini identik dengan pelestarian benda purbakala dan warisan budaya. Namun fungsinya kini bergeser. Museum tidak lagi sekadar menyimpan koleksi, melainkan menjadi ruang dialog yang menginspirasi aksi kolektif untuk melindungi manusia dan bumi. Inisiatif ini menjadi jawaban atas kebutuhan akan literasi global yang lebih inklusif di ruang lokal.

Program ini merupakan kelanjutan dari pembentukan SDG Corner pertama di Indonesia yang berada di Museum Bahari, Jakarta. SDG Corner diluncurkan awal tahun ini melalui kolaborasi Pemprov DKI dan PBB sebagai model percontohan penyajian informasi pembangunan berkelanjutan di dalam museum. Keberhasilan ruang percontohan itu mendorong perluasan ke lembaga museum lain di ibu kota dan daerah.

Bagi ekosistem museum di Tanah Air, kolaborasi ini membuka peluang transformasi kuratorial. Museum dapat mengeksplorasi cara mengomunikasikan isu global melalui kekayaan warisan budaya dan kearifan lokal Nusantara. Pendekatan ini membuat konsep abstrak seperti kesetaraan, ketangguhan, dan kelestarian lingkungan menjadi lebih relevan dengan keseharian pengunjung.

Dampaknya tidak terbatas pada edukasi pengunjung. Kapasitas kelembagaan museum juga akan meningkat melalui rangkaian lokakarya yang mempertemukan berbagai badan PBB dengan pengelola museum. Berbagai praktik terbaik dari sektor lain akan dibagikan agar SDGs dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata di dalam manajemen koleksi maupun program publik.

Menurut Direktur United Nations Information Centre (UNIC) Jakarta, Miklos Gaspar, museum di Indonesia menyimpan kisah tentang ketangguhan, keberagaman, inovasi, dan hidup berdampingan secara damai. Dengan menghubungkan narasi tersebut ke dalam kerangka SDGs, pembangunan berkelanjutan akan lebih mudah dipahami masyarakat. Museum menjadi jembatan antara masa lalu dan komitmen masa depan.

Ketua AMIDA DKI Jakarta, Yiyok T. Herlambang, menyatakan SDG Corner di Museum Bahari telah membuktikan bahwa museum mampu menjadi ruang belajar masyarakat tentang pembangunan berkelanjutan. Melalui inisiatif baru, pihaknya berharap lebih banyak museum di Jakarta mengintegrasikan SDGs dan menjadi mitra aktif dalam membangun kota yang inklusif serta tangguh.

Nofa Farida Lestari, Direktur Eksekutif MUSEE ID, menegaskan komitmen komunitas museum mendukung agenda tersebut. Ia menilai nilai kepedulian lingkungan, gotong royong, dan kesetaraan telah lama menjadi bagian warisan budaya Indonesia. Kolaborasi multipihak ini diharapkan menginspirasi museum di seluruh Indonesia menjadikan SDGs bagian integral dari misi pelayanan publik.

Ke depan, perluasan program akan menyentuh lebih banyak museum di luar Jakarta. Tantangannya terletak pada pemerataan sumber daya dan pelatihan kurator di daerah yang masih minim anggaran. Jika dieksekusi konsisten, tren integrasi SDGs di museum dapat melahirkan generasi pengunjung yang lebih peka terhadap isu global.

Data kunjungan museum yang meningkat 13,15 persen pada musim libur sekolah menunjukkan minat publik cukup besar. Momentum itulah yang akan dimanfaatkan Pemprov DKI dan PBB untuk mengubah museum dari ruang konservasi menjadi pusat pendidikan pembangunan berkelanjutan yang hidup.

Mengapa Ini Penting

Integrasi SDGs ke museum mengubah cara masyarakat Indonesia memahami isu global lewat budaya lokal yang akrab. Langkah ini dapat menekan tingginya angka buta literasi pembangunan berkelanjutan di daerah. Bagi pemerintah daerah, model ini memberi blueprint murah untuk edukasi tanpa membangun infrastruktur baru. Jika merata, museum akan berperan sebagai garda depan pencapaian target nasional 2030.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit