Tragedi menimpa laga semi-final Piala Golok FA di Stadion Santiphap, Sungai Golok, Provinsi Narathiwat, Thailand, Selasa (4/8) sekitar pukul 17.30 waktu setempat. Hujan deras yang menyertai pertemuan antara Abu x Nong Sirin dan SAMCOLT — tim campuran pemain Thailand dan Malaysia — berakhir dengan kematian Sofwan Awae, gelandang sayap berusia 24 tahun yang baru bergabung dengan Yala FC beberapa hari sebelumnya. Kepala Kepolisian Sungai Golok, Thun Sirikhunt, mengonfirmasi insiden itu kepada media Malaysia New Straits Times dan Bernama.
Menurut laporan polisi, petir menyambar lapangan tepat saat laga berlangsung di menit-menit kritis. Tim medis darurat segera dievakuasi ke lokasi dan menemukan Sofwan dalam kondisi kritis. Meskipun upaya penyelamatan dilakukan secepatnya, korban tidak dapat diselamatkan akibat cedera parah. Sebelas pemain lain, di antaranya satu warganegara Malaysia, mengalami luka-luka berbeda tingkat dan mendapat penanganan medis intensif.
Sofwan merupakan pemain yang memiliki jejak di liga semi-profesional Thailand. Sebelum memperkuat Yala FC — klub yang berkompetisi di Thai League 3 zona selatan — ia sempat membela Pattani FC. Keputusan bergabung dengan Yala FC diambil hanya beberapa hari sebelum turnamen berlangsung, sebuah langkah yang seharusnya menjadi babak baru karier namun malah berakhir tragis. Thai Enquirer melaporkan Sofwan tampil untuk Abu x Nong Sirin di turnamen ini, meskipun ada laporan bertentangan soal status keikutsertaannya.
Piala Golok FA sendiri bukan turnamen biasa. Kejuaraan regional ini melibatkan klub-klub dari kedua sisi perbatasan Thailand-Malaysia, termasuk Kelantan FC dari negara jiran. Sungai Golok yang berbatasan langsung dengan Negeri Kelantan, Malaysia, menjadi lokasi alami untuk kompetisi lintas batas yang sudah berlangsung beberapa edisi. Format turnamen yang mencampurkan pemain kedua negara menciptakan dinamika unik, namun juga menimbulkan tantangan logistik dan keamanan tersendiri.
Insiden ini mengingatkan kembali pada kerentanan olahraga outdoor terhadap cuaca ekstrem. Di Asia Tenggara, musim hujan sering bertabrakan dengan jadwal kompetisi sepak bola amateur dan semi-profesional. Berbeda dengan liga profesional atas yang memiliki protokol ketat soal penghentian pertandingan saat badai petir — termasuk sistem deteksi petir dan aturan "30-30 rule" FIFA — turnamen tingkat regional seperti Golok FA sering kali bergantung pada kebijaksanaan wasit dan pengawas lapangan tanpa dukungan teknologi memadai.
Di Indonesia, persoalan serupa pernah menimpa liga-liga tingkat bawah dan turnamen antar desa. Musim hujan Oktober-April rutin mengancam jadwal Liga 3, Liga 4, hingga turnamen poros desa di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Belum banyak penggelar yang memiliki akses ke alat deteksi petir portabel atau protokol evakuasi baku. Kasus meninggalnya pemain Persikabo 1973 U-18, Rizky Darmawan, yang disambar petir saat latihan di Cibinong pada 2023, masih segar di ingatan publik dan menunjukkan betapa minimnya standar keselamatan di tingkat grassroots.
Kepala Polisi Thun Sirikhunt menyatakan pihaknya menerima panggilan darurat pukul 17.30 dan segera mengirim tim ke lokasi. "Meskipun tim medis darurat telah berusaha sekuat tenaga menyelamatkannya, korban meninggal dunia akibat cedera parah yang diderita," ujar Thun sebagaimana dikutip Bernama. Pernyataan ini menegaskan kecepatan respons darurat, namun sekaligus membuka pertanyaan apakah pencegahan pra-kejadian — seperti pemantauan cuaca real-time dan keputusan hentikan laga lebih awal — telah dilakukan.
Sisi Malaysia turut merasakan dampak langsung. Pemain Kelantan FC dan klub-klub Malaysia lain yang terdaftar di turnamen ini kini menghadapi ketidakpastian jadwal. Persatuan Bolasepak Malaysia (FAM) belum mengeluarkan pernyataan resmi soal keamanan warganegaranya, namun insiden ini pasti akan memicu evaluasi protokol keamanan untuk kompetisi lintas batas di masa depan. Hubungan olahraga Thailand-Malaysia di wilayah perbatasan memang erat, namun standar keselamatan harus disejajarkan.
Yala FC melalui media sosialnya mengucapkan duka cita mendalam dan mengumumkan pengunduran diri dari sisa turnamen sebagai tanda penghormatan. Klub tersebut juga menyiapkan bantuan hukum dan finansial bagi keluarga Sofwan. Liga Thai League 3 zona selatan dijadwalkan membuka musim baru bulan depan, dan kehadiran Yala FC — yang baru memperkuat skuad — kini diwarnai kesedihan. Manajemen klub belum memutuskan apakah akan merekrut pengganti atau memainkan musim dengan skuad yang tersisa.
Masa depan Piala Golok FA dan turnamen serupa di wilayah perbatasan kini dipertanyakan. Apakah penggelar akan mewajibkan sistem early warning petir? Apakah FIFA dan AFC akan mendorong standar keamanan seragam untuk kompetisi grassroots lintas negara? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu akan menentukan apakah tragedi Sofwan menjadi momentum perubahan atau sekadar statistik korban cuaca yang terlupakan. Sepak bola di tingkat akar rumput membutuhkan perlindungan yang sama ketatnya dengan elit — nyawa pemain tidak boleh jadi taruhan cuaca.