Pemerintah membangun sembilan Sekolah Rakyat di Sulawesi Selatan dengan alokasi dana Rp2,2 triliun, langkah konkret dalam merealisasikan Program Asta Cita yang digaungkan Presiden. Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman menyebutkan bahwa Sekolah Rakyat di Sudiang, Kota Makassar, memiliki progres pembangunan paling tinggi di antara unit serupa di seluruh Indonesia.
"Alhamdulillah, anak-anak kita sangat ceria dan senang. Sekolah ini memiliki lahan, sarana prasarana, serta tenaga pengajar yang berkompeten," ujarnya dalam keterangan resmi di Makassar.
Saat ini Sekolah Rakyat di Sulsel menampung 270 peserta didik yang berasal dari berbagai daerah, mulai dari Makassar, Parepare, Enrekang, hingga Kepulauan Selayar. Ini menunjukkan bahwa program tidak hanya terpusat di perkotaan, tetapi juga menjangkau daerah terpencil yang selama ini minim akses pendidikan berkualitas.
Langkah ini menjadi terobosan penting dalam mengurangi kesenjangan pendidikan. Anak-anak dari keluarga kurang mampu kerap kesulitan mengakses sekolah dengan standar baik. Sekolah Rakyat hadir untuk menjembatani celah tersebut.
Andi Sudirman menegaskan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih mimpi. "Jika ingin bercita-cita tinggi, maka pendidikan nomor satu. Insya Allah, Sekolah Rakyat ini akan menciptakan generasi bangsa," katanya.
Pemerintah Provinsi Sulsel juga memperkuat program di bidang pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Semua itu dilakukan agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Guru-guru terbaik dikirim untuk mengajar di Sekolah Rakyat dengan harapan melahirkan pemimpin masa depan.
Kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci sukses. Kementerian Sosial turut terlibat dalam persiapan, menunjukkan sinergi lintas kementerian untuk mendukung pendidikan inklusif.
Ke depan, model Sekolah Rakyat diharapkan dapat direplikasi di provinsi lain. Konsep ini bukan baru; sejarah mencatat sekolah serupa pernah hadir di zaman perjuangan dan berhasil melahirkan banyak tokoh bangsa. Kini, pemerintah merevitalisasinya dengan pendekatan modern.
Investasi Rp2,2 triliun bukan hanya membangun infrastruktur fisik. Lebih dari itu, ini adalah investasi sumber daya manusia yang bertujuan memutus rantai kemiskinan. Dengan pendidikan berkualitas, siswa dari keluarga prasejahtera memiliki peluang lebih baik untuk mengubah nasib.
Program ini menjadi simbol harapan baru bagi pemerataan pendidikan di Indonesia. Jika berhasil, Sekolah Rakyat bisa menjadi model nasional untuk menciptakan keadilan sosial sejak usia dini.