Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menyatakan pemerintah fokus menguatkan peternakan sapi perah di sisi hulu guna mewujudkan kemandirian susu nasional. Pernyataan tersebut disampaikan saat kunjungan ke Kantor Koperasi SAE Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada Kamis pekan ini.
Strategi utama yang dijalankan adalah integrasi antara sektor hulu dan hilir industri persusuan. Menurut Hanif, Kementerian Pertanian menangani produksi di hulu, sementara Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan harus berkoordinasi intensif agar hasil peternakan mendapat perhatian serius di tahap pengolahan. Langkah ini dirancang untuk menjaga pasokan dan pemenuhan kebutuhan produk olahan susu lokal di tengah tingginya ketergantungan impor.
Kondisi ketergantungan impor susu saat ini sangat tinggi. Hingga saat ini, sekitar 80 persen kebutuhan susu nasional dipenuhi melalui impor dalam bentuk bubuk untuk memasok industri pengolahan. Pemerintah menilai struktur seperti ini membuat Indonesia rentan terhadap gejolak harga dan pasokan global. Penguatan produksi dalam negeri menjadi jawaban atas risiko tersebut.
Konsumsi susu masyarakat Indonesia juga berada jauh di bawah standar internasional. Hanif memaparkan kebutuhan nasional mencapai rata-rata 4,5 hingga 5 juta ton per tahun. Dengan jumlah penduduk 288,3 juta jiwa, asupan susu per orang hanya setara satu sendok sehari. Angka itu sangat berjarak dari rekomendasi Food and Agriculture Organization (FAO) yang menetapkan kebutuhan dua hingga tiga gelas per hari.
Kabupaten Malang memiliki peran strategis dalam peta persusuan nasional. Jawa Timur merupakan sentra susu terbesar di Indonesia, dan Malang menjadi penopang utamanya, khususnya Kecamatan Pujon. Pemerintah daerah pun diminta mengambil peran aktif agar target kemandirian susu bisa tercapai lebih cepat. Penguatan di level koperasi dan peternak menjadi kunci operasional di lapangan.
Dampak dari kebijakan ini akan dirasakan langsung oleh peternak kecil dan industri pengolahan lokal. Jika integrasi hulu-hilir berjalan, peternak mendapat kepastian serapan hasil, sementara industri mengurangi ketergantungan pada bubuk susu impor. Hal ini juga berpotensi menekan harga produk susu olahan dalam negeri jika efisiensi rantai pasok terwujud. Masyarakat luas mendapat manfaat gizi melalui ketersediaan susu lokal yang lebih stabil.
Kemandirian susu bukan sekadar soal ekonomi, melainkan juga ketahanan gizi anak bangsa. Susu sebagai sumber protein hewani penting bagi tumbuh kembang anak. Pemerintah menekankan bahwa produksi lokal memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus mendukung pemenuhan gizi nasional. Ketahanan pangan bergizi menjadi fondasi kualitas sumber daya manusia ke depan.
Di tingkat koperasi, Koperasi SAE Pujon mencatat produksi susu segar 120 ton per hari dari 9.000 ekor sapi milik anggota. Sekretaris Koperasi SAE Pujon, Nur Kayin, menyebut gabungan produksi Jawa Timur mencapai 1.200 ton per hari, dengan tiga KUD di wilayah barat Kabupaten Malang berkontribusi sekitar 300 ton. Kapasitas ini menunjukkan potensi besar jika didukung kebijakan hilirisasi yang tepat.
Nur Kayin menegaskan pihaknya ingin membantu pemenuhan kebutuhan susu nasional melalui peningkatan produktivitas dan hilirisasi. Kendala utama adalah dukungan lahan untuk rumput pakan ternak. Koperasi sedang membicarakan rencana pendirian pabrik UHT dengan Kemenko Pangan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Infrastruktur pengolahan ini diharapkan menyerap lebih banyak susu segar peternak lokal.
Langkah ke depan meliputi percepatan riset sapi tropis dan perluasan lahan pakan. Pemerintah juga membuka peluang kerja sama internasional, termasuk dengan Selandia Baru, untuk transfer teknologi persusuan. Sinergi antar kementerian dan pemerintah daerah akan menentukan keberhasilan program dalam lima tahun mendatang. Tanpa hilirisasi yang nyata, target mengurangi impor 80 persen sulit tercapai.
Proyeksi industri menunjukkan bahwa konsumsi susu dalam negeri akan terus naik seiring program gizi pemerintah. Jika produksi lokal tidak digenjot, defisit susu akan melebar dan memberatkan neraca perdagangan. Koperasi seperti SAE Pujon perlu menjadi model replikasi di sentra susu lain. Kemandirian susu nasional pada akhirnya bergantung pada konsistensi kebijakan dari hulu sampai hilir.
Perspektif Indonesia: Tingginya impor bubuk susu selama ini membuat harga susu olahan di tingkat konsumen fluktuatif mengikuti nilai tukar rupiah. Penguatan sektor hulu melalui koperasi seperti SAE Pujon memberi peluang pada brand susu lokal untuk bersaing di pasar ritel. Program MBG juga bisa menjadi katalis permintaan susu cair domestik jika pabrik UHT lokal terbangun. Masyarakat di daerah sentra susu berpotensi mendapat multiplier effect ekonomi melalui serapan tenaga kerja dan naiknya pendapatan peternak.