Pemerintah Kota Jakarta Pusat mengimbau warga Kelurahan Harapan Mulia di Jakarta Pusat mulai memilah sampah organik dan anorganik dari rumah sejak Selasa (14/7) malam, sebagai bagian dari upaya mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.
Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin, menyampaikan imbauan tersebut saat bersilaturahmi dengan masyarakat di Lapangan Multifungsi RW 02 Harapan Mulia. Dalam keterangan tertulis yang dirilis sehari berikutnya, ia meminta warga aktif memilah sampah dari rumah. “Sampah organik sisa makanan bisa dikelola menjadi pupuk dan sebagainya. Sementara, sampah botol plastik dikumpulkan untuk daur ulang,” kata Arifin.
Pemilahan sampah sejak dari sumbernya dianggap langkah penting untuk mengurangi beban pengelolaan sampah di ibu kota. Data Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menunjukkan bahwa setiap hari sekitar 7.000 ton sampah dihasilkan di wilayah ini, dan sebagian besar masih berakhir di TPST Bantargebang yang sudah hampir mencapai kapasitasnya. Dengan memilah sampah di tingkat rumah tangga, volume yang harus diolah dapat berkurang secara signifikan.
DKI Jakarta telah merencanakan pengurangan bertahap sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang mulai 1 Agustus mendatang. Kebijakan ini merupakan bagian dari Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber. Gubernur Pramono Anung menegaskan bahwa pengurangan volume sampah di tempat pembuangan akhir akan membantu memperpanjang usia TPST dan mengurangi dampak lingkungan.
Instruksi tersebut tidak hanya menjadi landasan hukum, tetapi juga mendorong partisipasi masyarakat. Pemerintah kota administrasi Jakarta Pusat sendiri telah aktif menggelar kegiatan sosialisasi di berbagai kelurahan, termasuk Harapan Mulia. Upaya ini sejalan dengan target nasional untuk meningkatkan tingkat pengurangan sampah sebesar 30 persen pada akhir tahun 2025.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengajak masyarakat membiasakan pemilahan sampah sejak dari rumah agar jumlah sampah yang dibawa ke TPST Bantargebang dapat terus berkurang, sekaligus meningkatkan pemanfaatan kembali sampah yang masih memiliki nilai guna melalui daur ulang maupun pengolahan sampah organik. Pengelolaan sampah yang baik harus dimulai dari rumah dan lingkungan masing-masing dan dilakukan secara berkesinambungan,” ujarnya.
Pemisahan sampah organik dan anorganik sejak dini membuka peluang ekonomi bagi warga. Sampah sayuran, sisa makanan, dan kotoran hewan dapat diolah menjadi kompos yang dijual kepada petani atau pekebun. Botol plastik, kertas, dan logam dapat dikumpulkan oleh pengepul atau bank sampah untuk dijual ke industri daur ulang. Beberapa RW di Harapan Mulia sudah membentuk bank sampah yang memberikan imbalan kepada anggota yang konsisten memilah.
Kota-kota lain di Indonesia seperti Bandung dan Surabaya juga telah meluncurkan program serupa. Di Bandung, program “Bank Sampah” telah berhasil mengumpulkan lebih dari 1.200 ton sampah per bulan sejak 2022. Surabaya menerapkan kebijakan “Sampah Masuk Sekolah” yang mendorong siswa memilah sampah di tingkat sekolah. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pemilahan sampah dari rumah tidak hanya efektif di Jakarta, tetapi juga dapat direplikasi di wilayah lain.
Dalam kegiatan silaturahmi di RW 02, Arifin bersama jajarannya mendengarkan berbagai aspirasi dan permasalahan yang disampaikan warga. Beberapa warga mengeluhkan keterbatasan tempat untuk menyimpan sampah yang sudah dipilah, sementara yang lain bertanya tentang cara pengolahan sampah organik yang benar. Pemerintah setempat berjanji akan menyediakan tempat sampah terpisah di setiap RW dan mengadakan pelatihan pengolahan kompos bagi warga yang berminat.
Kendati ada niat baik, masih ada hambatan yang perlu diatasi. Tingkat kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemilahan masih bervariasi, terutama di lingkungan yang belum terjamah program pemerintah. Infrastruktur pendukung seperti tempat pengumpulan sampah terpilah yang memadai masih terbatas di banyak kelurahan. Selain itu, kurangnya edukasi tentang cara memilah yang benar sering menyebabkan sampah tercampur kembali.
Ke depan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana memperluas program ini ke seluruh 105 kelurahan di ibu kota. Rencana tersebut mencakup pembangunan TPST terpadu yang mampu mengolah sampah secara lebih modern, seperti fasilitas pengomposan mekanis dan pusat daur ulang plastik. Selain itu, kerja sama dengan perguruan tinggi dan startup teknologi akan dikembangkan untuk menciptakan aplikasi pelacakan sampah yang memungkinkan warga memantau jumlah sampah yang telah mereka pilah.
Upaya Jakarta Pusat mengimbau warga Harapan Mulia memilah sampah dari rumah mencerminkan komitmen yang lebih luas untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan. Keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada partisipasi aktif masyarakat. Dengan mempraktikkan pemilahan sampah sejak dari rumah, setiap warga berkontribusi pada pengurangan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir, sekaligus membuka peluang ekonomi baru dari sampah yang bernilai.