Internasional

Pendaftaran SD Singapura: 35 Sekolah Kelebihan Pemohon, Red Swastika Paling Ketat

Ringkasan

  • Sebanyak 35 sekolah dasar di Singapura kelebihan peminat pada Fase 2A pendaftaran siswa Kelas 1 tahun ini, demikian data Kementerian Pendidikan (MOE) per 15 Juli.
  • Red Swastika School memimpin daftar dengan 88 pendaftar memperebutkan 24 kursi.

Kementerian Pendidikan Singapura (MOE) mengumumkan bahwa 35 sekolah dasar mengalami kelebihan pendaftar pada Fase 2A penerimaan siswa Kelas 1 tahun ini. Jumlah tersebut menurun dibandingkan tahun lalu, berdasarkan data yang dipublikasikan pada Rabu (15/7).

Fase 2A sendiri berlangsung hanya dua hari, mulai pukul 09.00 pada 9 Juli hingga 16.30 pada 10 Juli. Tahun ini, sekolah yang paling ketat persaingannya adalah Red Swastika School di Bedok, dengan 88 calon murid memperebutkan hanya 24 kursi tersedia.

Sementara itu, Canossa Catholic Primary menjadi satu-satunya sekolah yang tidak menerima satupun anak pada Fase 2A. Dari total 120 kapasitas, 61 siswa sudah mengamankan tempat lewat Fase 1 yang dikhususkan bagi adik kakak bersekolah di sana. Alokasi 60 kursi biasanya disiapkan untuk Fase 2B dan 2C, sehingga tersisa 59 tempat untuk tahap tersebut dan nol bagi Fase 2A.

Fase 2A diperuntukkan bagi anak yang orang tuanya atau saudaranya merupakan alumni sekolah tersebut. Kategori ini juga mencakup putra-putri staf sekolah, anggota komite advisori atau manajemen, serta anak didik taman kanak-kanak MOE yang berlokasi di dalam lingkungan sekolah dasar terkait.

Penurunan jumlah sekolah oversubscribed tidak lepas dari kebijakan MOE memangkas daya tampung Kelas 1 di mayoritas sekolah pada tahun ini. Data pekan lalu menunjukkan ada 867 kursi lebih sedikit pada Fase 2A di seluruh sekolah dasar dibandingkan dengan 2025.

Pemotongan ini dilakukan menyusul proyeksi penurunan tajam kelompok usia siswa pada 2027 dan tahun-tahun berikutnya. Kementerian menyatakan langkah tersebut bertujuan meminimalkan kebutuhan penggabungan atau relokasi sekolah sekaligus menjaga sebaran geografis sekolah dasar yang merata di seluruh Singapura.

Bagi pembaca di Indonesia, dinamika pendaftaran di Singapura menyoroti pentingnya sistem seleksi yang transparan dan berbasis data. Platform daring MOE menyajikan tabel lengkap hasil tiap sekolah serta jadwal pemungutan suara (balloting) secara real-time, suatu praktik yang selaras dengan transformasi digital PPDB di beberapa daerah Indonesia seperti Jakarta dan Jawa Timur yang menggunakan sistem zonasi online.

Perbedaannya, Indonesia lebih mengandalkan jalur zonasi, afirmasi, prestasi, dan perpindahan orang tua, sementara Singapura memberi bobot besar pada ikatan alumni dan kekerabatan. Namun kedua negara menghadapi tantangan demografi serupa: penurunan angka kelahiran yang memaksa penyesuaian kapasitas sekolah guna mencegah pemborosan sumber daya.

Penggunaan data terbuka seperti yang dilakukan MOE juga relevan bagi startup edutech lokal. Mereka dapat mengembangkan layanan analitik pendaftaran sekolah yang membantu orang tua memetakan peluang masuk berdasarkan jarak dan riwayat oversubscription, layaknya fitur yang tersedia di portal resmi Singapura.

Princess Elizabeth Primary School di Bukit Batok mencatatkan diri sebagai sekolah dengan peminat terbanyak kedua, yakni 137 pendaftar untuk 47 kursi. Sekolah ini juga masuk tiga besar paling oversubscribed tahun lalu. Di posisi ketiga, Shuqun Primary School di Jurong West kebanjiran 93 pemohon bagi 32 slot.

Kementerian menegaskan bahwa seluruh pelamar Fase 1 akan diterima di sekolah pilihannya, sehingga kekosongan yang tersisa benar-benar bergantung pada penyerapan tahap sebelumnya. Hal ini menjelaskan mengapa beberapa sekolah seperti Jing Shan, Nan Hua, Valour, dan Zhenghua tercatat oversubscribed namun tidak perlu melakukan balloting karena kuota sudah terisi prioritas tertentu.

Dari 35 sekolah yang kelebihan peminat, 31 di antaranya akan menggelar balloting pada Jumat mendatang. Undian wajib dilaksanakan bila jumlah aplikan melampaui ketersediaan tempat, dengan prioritas warga Singapura berdomisili kurang dari 1 km, lalu 1-2 km, dan di atas 2 km, baru kemudian penduduk permanen (PR) dengan pengelompokan jarak sama.

Tahap berikutnya, Fase 2B akan dibuka pada 20 Juli pukul 09.00 dan ditutup sehari kemudian. Fase ini menyaring orang tua yang menjadi sukarelawan sekolah minimal 40 jam, anggota gereja atau klannya, serta pemimpin masyarakat aktif. Setelahnya, 20 kursi disiapkan untuk 2B dan 40 kursi untuk 2C guna memberi kesempatan keluarga tanpa ikatan langsung dengan sekolah.

Menghadapi tren penurunan kelahiran, otoritas Singapura memilih pendekatan pelemahan intake bertahap daripada penggabungan mendadak. Langkah ini diprediksi akan diikuti negara-negara dengan struktur penduduk menua, termasuk Indonesia yang mulai merasakan penurunan kohor murid di kota-kota besar dalam satu dekade ke depan.

Mengapa Ini Penting

Sistem pendaftaran berbasis prioritas alumni di Singapura mengingatkan Indonesia bahwa penyesuaian kebijakan kapasitas sekolah harus dilakukan jauh sebelum krisis demografi melanda. Transparansi data real-time yang diterapkan MOE dapat menjadi model bagi portal PPDB daerah di Tanah Air guna menekan spekulasi dan kebingungan orang tua. Bagi startup edutech lokal, data oversubscription sekolah terbuka membuka peluang produk analitik pilihan sekolah berbasis AI. Pada akhirnya, pengalaman Singapura menunjukkan bahwa pengurangan intake bertahap lebih manusiawi dibandingkan penutupan sekolah mendadak yang merugikan komunitas.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit