ERA Realty Network mengumumkan pada Rabu (15/7) bahwa People's Park Centre di Chinatown, Singapura, akan dimasukkan ke dalam penjualan kolektif dengan harga panduan S$1,48 miliar (sekitar US$1,14 miliar). Ini merupakan percobaan ketiga bagi properti berusia hampir setengah abad tersebut setelah dua upaya sebelumnya tidak membuahkan hasil.
Tender akan dibuka pada Kamis dan ditutup pada 16 September pukul 15.00 waktu setempat. Nilai panduan tersebut lebih rendah daripada reservasi S$1,8 miliar pada 2022 yang tidak mendapat satupun penawaran, sekaligus lebih tinggi dari target S$1,35 miliar pada 2019 yang terhenti karena kurangnya persetujuan pemilik.
Kompleks yang rampung dibangun pada 1976 ini terdiri dari dua menara: satu blok 13 lantai dan satu blok 30 lantai. Total terdapat 324 unit ritel, 256 unit kantor, 120 unit residensial, serta sebuah parkir bertingkat. Luas lahan mencapai 95.467 kaki persegi dengan hadapan 124 meter di sepanjang Eu Tong Sen Street.
Alamat resminya berada di 101 Upper Cross Street, persis di samping stasiun MRT Chinatown yang terhubung langsung dengan jalur North-East dan Downtown. Kawasan ini juga berdekatan dengan destinasi wisata seperti Chinatown Heritage Centre dan Kuil Relik Gigi Buddha, serta pusat belanja Chinatown Point dan Riverside Point.
Penurunan harga panduan kali ini tidak lepas dari transformasi urban yang sedang berjalan di sekitar Pearl's Hill. Pada Maret lalu, Menteri Pembangunan Nasional Chee Hong Tat mengumumkan rencana membangun flat Build-To-Order (BTO) setinggi 60 lantai di precinct tersebut. Proyek perumahan publik tertinggi di Singapura itu juga menjadi BTO pertama dalam lebih dari 40 tahun di lokasi bersejarah.
Bagi pembaca Indonesia, mekanisme en bloc atau penjualan kolektif di Singapura menawarkan pelajaran tentang pengelolaan aset properti tua di pusat kota. Di Jakarta, banyak bangunan lawas di area seperti Sawah Besar atau Menteng yang membutuhkan peremajaan, namun belum memiliki kerangka hukum sekuat Singapura untuk memaksa konsolidasi kepemilikan secara efisien.
Iklim investasi properti Indonesia cenderung bergantung pada pengembang tunggal yang membebaskan lahan secara bertahap. Kehadiran model en bloc yang transparan dapat memicu diskusi tentang reformasi tata ruang dan percepatan revitalisasi kawasan padat. Namun, sentimen pemilik kecil sering kali menjadi penghalang tanpa insentif fiskal yang jelas.
Dampak lain bagi pelaku bisnis lokal adalah potensi masuknya modal developer regional ke Singapura yang bisa mengalihkan dana dari pasar seperti Indonesia. Sebaliknya, pengalaman pengembangan ulang berskala besar seperti People's Park Centre dapat menginspirasi arsitek dan proptech Indonesia untuk menawarkan solusi bangunan cerdas di proyek serupa kelak.
"Kesempatan dengan skala seperti ini jarang muncul di pasar," ujar Sunny Wong, Direktur Divisi ERA. Ia menambahkan bahwa peremajaan kawasan sekitar bakal menarik minat kuat dari pengembang yang ingin menghadirkan proyek landmark.
Pearl Lok, Direktur Pasar Modal dan Penjualan Investasi ERA, menuturkan bahwa lokasi properti berada di jantung Chinatown dengan konektivitas yang sangat baik ke CBD dan kota lebih luas. "Dengan skala dan posisi sentralnya, situs ini memberi peluang langka untuk berkontribusi pada evolusi kawasan sembari memperkuat campuran komersial, residensial, dan gaya hidup," katanya.
ERA mencatat bahwa situs tersebut dialokasikan untuk penggunaan komersial berdasarkan Rencana Induk Otoritas Pengembangan Perkotaan (URA) 2025. Harga panduan setara dengan laju tanah S$2.455 per kaki persegi per rasio plot, dengan asumsi persetujuan perpanjangan sewa menjadi 99 tahun segar.
Ke depan, kelanjutan tender akan menjadi barometer minat investor asing terhadap pusat kota Singapura di tengah fluktuasi ekonomi global. Keberhasilan pelelangan ini dapat mempercepat wajah baru Chinatown seiring beroperasinya menara BTO Pearl's Hill, sekaligus menegaskan bahwa properti ikonik pun harus beradaptasi dengan zaman.