Internasional

Peringatan Rusia: Israel Risiko Lenyap jika Konflik Timur Tengah Membara

Ringkasan

  • Wakil Kepala Direktorat Militer-Politik Rusia, Letnan Jenderal Apti Alaudinov, memperingatkan Israel berisiko berhenti eksis sebagai negara jika eskalasi perang di Timur Tengah tak terhenti.

Moskow mengeluarkan peringatan keras melalui salah satu pejabat militer tertingginya soal nasib Israel di tengah gejolak Timur Tengah yang tak kunjung reda. Letnan Jenderal Apti Alaudinov, yang menjabat sebagai Wakil Kepala Direktorat Militer-Politik Utama Rusia sekaligus Komandan Pasukan Khusus Akhmat, menilai Tel Aviv sengaja mendorong konflik ke puncak eskalasi untuk menarik Amerika Serikat dan blok NATO ke dalam perang yang lebih luas.

Dalam wawancara yang dilansir Middle East Monitor dan Anadolu Agency, Alaudinov menegaskan perang di wilayah itu hanya akan semakin memanas. Ia percaya strategi Israel justru bertujuan memperluas cakupan pertempuran, bukan mencari titik damai. Peringatan itu dilontarkan saat ketegangan kembali tajam pasca kegagalan nota kesepahaman Juni antara Iran dan AS.

Latar belakang pernyataan ini tak terlepas dari rangkaian insiden yang dimulai akhir Februari. Pada 28 Februari lalu, AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran, memicu balasan Tehran terhadap aset-aset AS di negara-negara tetangga. Upaya diplomatik lewat nota kesepahaman Juni sempat menjanjikan jeda, namun runtuh di tengah saling tuduh pelanggaran. Sejak itu, Selat Hormuz tetap sulit diakses dan meja negosiasi besar tetap terkunci.

Alaudinov secara spesifik menargetkan kepercayaan diri militer Israel yang dinilainya berlebihan. "Pada akhirnya, mereka akan melebih-lebihkan kekuatan mereka dan akan lenyap sebagai sebuah negara," ucapnya dengan nada tegas. Retorika ini mencerminkan pandangan Moskow yang semakin terbuka menentang narasi Barat soal keamanan Israel, sekaligus memperkuat sumbu kerjasama dengan Iran dan sekutunya di wilayah.

Bagi Indonesia, eskalasi ini bukan sekadar berita jauh di benua lain. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar dunia, stabilitas Timur Tengah menyentuh sentimen publik dan posisi diplomatik Jakarta yang konsisten mendukung Palestina. Lebih praktis lagi, gangguan aliran minyak lewat Selat Hormuz berdampak langsung ke harga BBM dan inflasi domestik, mengingat Indonesia tetap bergantung impor energi fosil.

Kementerian Luar Negeri Indonesia telah berulang kali menyerukan deeskalasi dan penyelesaian dua negara. Namun, realitas di lapangan — di mana Rusia kini ikut bersuara keras menentang Israel — memperkeruh prospek damai. Jika Moskow benar-benar menganggap Israel sebagai faktor pengacau yang harus dinetralkan, dinamika geopolitik wilayah bisa bergeser drastis, menggeser peran tradisional AS sebagai broker utama.

Di sisi lain, pernyataan Alaudinov juga mengungkap kalkulasi militer Rusia sendiri. Pasukan Khusus Akhmat di bawah komadannya telah terlibat perang Ukraine, dan Moskow hendak memastikan tidak ada front baru yang meregangkan sumber daya. Menarik Israel ke dalam narasi "negara yang akan lenyap" sekaligus mengirim sinyal ke Tehran bahwa Rusia siap jadi penyeimbang strategis.

Analis keamanan regional menilai retorika ini berbahaya karena menormalkan gagasan penghapusan suatu negara berdaulat, apa pun alasan politiknya. Hal itu membuka ruang bagi radikalisasi lebih lanjut dan mempersulit jalan diplomatik yang sudah sempit. Ketika kekuatan besar seperti Rusia mulai bicara dalam bahasa eksistensial, margin kesalahan hitungan nol.

Sementara itu, Israel belum mengeluarkan respons resmi atas pernyataan Alaudinov. Tel Aviv cenderung mengabaikan retorika musuh dan fokus pada operasi militer serta lobbying diplomatik ke Washington. Namun, tekanan ganda dari utara (Hezbollah/Lebanon), timur (Iran/Suria), dan selatan (Gaza) membuat ruang manuver semakin sempit.

Ke depan, mata dunia akan tertuju pada apakah AS mampu menahan Israel dari tindakan prabalistik yang memicu perang total, atau justru terjebak dalam komitmen keamanan yang tak terbatas. Bagi Indonesia, langkah bijak adalah memperkuat diversifikasi energi dan mempertahankan diplomasi bebas aktif — tidak mengambil pihak, tapi menuntut hukum internasional diberlakukan tanpa pamrih.

Kunci berikutnya ada di tangan Majelis Keamanan PBB dan apakah negara-negara Global Selatan, termasuk Indonesia, mampu menyatukan suara untuk memaksa henti api permanen. Tanpa tekanan kolektif, siklus balas dendam akan terus berputar — dan peringatan Alaudinov soal keberadaan Israel mungkin tak hanya retorika kosong.

Mengapa Ini Penting

Peringatan Rusia ini menandai pergeseran narasi geopolitik: Moskow tidak lagi bersikap netral tapi aktif mengancam keberadaan Israel, yang berarti sumbu kekuatan global bergeser. Bagi Indonesia, eskalasi ini mengancam pasokan energi dan harga BBM, serta menguji konsistensi diplomasi bebas aktif Jakarta di forum internasional. Jika Selat Hormuz tertutup lama, inflasi impor akan melonjak dan neraca pembayaran tertekan. Lebih jauh, normalisasi retorika 'penghapusan negara' oleh kekuatan nuklir menciptakan preseden berbahaya untuk penyelesaian sengketa di wilayah lain, termasuk Asia Tenggara.

Sumber Asli
CNN Indonesia Internasional
Tanggal
20 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit