Internasional

Rusia Sindir Klaim Trump soal Selat Hormuz, Iran Balas dengan California

Ringkasan

  • Diplomat Rusia Mikhail Ulyanov mengejek ancaman Donald Trump menjadikan Selat Hormuz wilayah AS, sementara Iran membalas dengan mengklaim California sebagai wilayah baru Republik Islam.

Perwakilan Tetap Rusia untuk organisasi internasional di Wina, Mikhail Ulyanov, mengejek pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam menetapkan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat. Lewat akun X-nya pada 16 Agustus, Ulyanov menulis bahwa Gedung Putih mengonfirmasi ancaman tersebut hanyalah lelucon dengan selera humor yang sangat istimewa. Unggapan itu segera diikutkan oleh sejumlah media Timur Tengah seperti IRNA Iran, Saba.net Yaman, Dawn Pakistan, dan Middle East Eye.

Komentar sinis diplomat senior Rusia itu muncul setelah Trump mengunggah peta di platform Truth Social yang menandai Selat Hormuz sebagai "Wilayah Baru AS". Dalam unggahan terpisah, Trump menegaskan tidak ada negosiasi berlangsung dengan Iran soal selat strategis itu dan blokade kapal-kapal Iran di perairan tersebut tetap diberlakukan penuh. Sikap keduanya memicu gelombang respons di media sosial dan kalangan diplomatik.

Selat Hormuz merupakan saluran maritim vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Oman dan Samudra Hindia. Sekitar 20 hingga 30 persen minyak dunia mengalir melalui selat lebar 39 kilometer ini setiap hari. Kendali atas selat ini lama menjadi poin gesekan antara Barat dan Iran, yang pernah mengancam menutup akses jika sanksi ditekan lebih lanjut. Klaim Trump kali ini melanggar konvensi hukum laut internasional yang mengakui selat sebagai perairan internasional dengan hak transit bebas.

Respons Iran cenderung dingin namun tajam. Akun media sosial resmi Konsulat Jenderal Iran di Hyderabad, India, membalas dengan mengunggah peta Amerika Serikat yang menandai California dengan warna biru dan keterangan "Wilayah Baru Republik Islam Iran". Unggahan itu meraih lebih dari 15.100 suka, 1.700 repost, dan 463 komentar dalam waktu singkat. Balasan ini bukan tanpa alasan: California, khususnya Los Angeles, menjadi rumah bagi komunitas diaspora Iran terbesar di luar Iran.

Menurut data Iranian Diaspora Dashboard dari Center for Near Eastern Studies Universitas California, diperkirakan 141.000 warga AS keturunan Iran mendiami Los Angeles County. Komunitas ini berkembang pesat pasca Revolusi Islam 1979, dengan wilayah Westwood dikenal sebagai "Tehrangeles" — pusat kehidupan budaya dan ekonomi diaspora Iran di California Selatan. Ironisnya, Trump justru memilih area yang padat dihuni warga keturunan Iran sebagai target balasan simbolis.

Para analis geopolitik menilai pertukaran sindiran ini mencerminkan eskalasi retorika yang berbahaya di tengah ketegangan nuklir yang belum terselesaikan. Meskipun kedua sampaiannya bersifat simbolis, narasi "pengambilalihan wilayah" dari kedua pihak normalisasi pelanggaran hukum internasional. Rusia sebagai mitra strategis Iran memanfaatkan momen ini untuk melemahkan kredibilitas diplomasi AS di mata negara-negara Global Selatan.

Bagi Indonesia, ketidakstabilan di Selat Hormuz berdampak langsung ke harga energi dan rantai pasokan global. Sebagai negara impor neto minyak dan gas, kenaikan premi risiko di Teluk Persia akan menambah beban neraca pembayaran dan tekanan inflasi domestik. Kementerian ESDM dan Pertamina rutin memantau rute tanker yang melewati selat ini, mengingat sebagian besar impor minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah.

Di sisi lain, komunitas Iran di Indonesia — meskipun kecil — juga merasakan getaran geopolitik ini. Beberapa warga keturunan Iran di Jakarta dan Bandung mengaku khawatir narasi kebencian bisa meluas ke media sosial lokal. Kemlu RI melalui Direktorat Jenderal Politik Keamanan Internasional terus mendorong penyelesaian damai via dialog multilateral, selaras dengan prinsip bebas-aktif dan hukum internasional.

Ahli hukum laut internasional dari Universitas Indonesia, Dr. Hikmahanto Juwana, menilai klaim Trump tidak memiliki landasan hukum apa pun. "Selat Hormuz adalah selat yang digunakan untuk navigasi internasional di antara satu bagian laut tertutup dan laut terbuka. Tidak ada negara yang berdaulat penuh di atasnya," ujarnya saat dihubungi. Ia menambahkan, balasan Iran soal California sama-sama tidak memiliki basis hukum, tapi efektif sebagai propaganda opini publik.

Mengakhiri siklus retorika ini butuh langkah nyata, bukan lelucon. Para diplomat senior ASEAN menilai forum seperti ARF (ASEAN Regional Forum) atau EAS (East Asia Summit) bisa jadi platform untuk mendorong deeskalasi. Indonesia sebagai ketua ASEAN 2023 pernah menginisiasi pernyataan kolektif soal kebebaran navigasi, dan peran serupa diharapkan bisa diulang untuk mencegah kesalahan kalkulasi di Selat Hormuz.

Ke depannya, mata dunia akan tertuju pada apakah Trump akan menerjemahkan retorika ke kebijakan konkret — misalnya operasi maritim yang mengganggu transit tanker Iran — atau biarkan sebagai posuring kampanye. Sementara Iran kemungkinan akan memperkuat kemampuan asimetris di selat, termasuk drone dan rudal pantai. Bagi Indonesia, diversifikasi sumber energi dan penguatan cadangan strategis menjadi prioritas yang tak bisa ditunda.

Mengapa Ini Penting

Ketegangan di Selat Hormuz bukan sekadar sandiwara diplomatik — 20-30% pasokan minyak dunia lewat sini. Jika retorika Trump berubah jadi blokade nyata, Indonesia sebagai impor neto energi akan terserang pertama via lonjakan harga dan gangguan rantai pasokan. Balasan simbolis Iran soal California juga membuka pintu narasi balas dendam berbasis diaspora, model yang berbahaya jika diadopsi aktor non-negara di Asia Tenggara. Indonesia harus mempercepat diversifikasi energi dan memperkuat cadangan strategis, sekaligus memanfaatkan kredibilitas ASEAN untuk mendorong deeskalasi multilateral sebelum kesalahan kalkulasi memicu konfrontasi terbuka.

Sumber Asli
CNN Indonesia Internasional
Tanggal
20 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit