Amerika Serikat dan Iran baru saja menyelesaikan rangkaian perundingan teknis tidak langsung di Doha, Qatar, pada hari Rabu. Pertemuan ini berlangsung di tengah ketegangan yang masih menyelimuti hubungan kedua negara, terutama terkait sengketa jalur pelayaran di Selat Hormuz. Meski telah dilakukan diskusi intensif, belum ada tanda-tanda kemajuan signifikan yang mengarah pada kesepakatan perdamaian yang berkelanjutan atau penyelesaian konflik mendasar antara kedua pihak.
Fokus utama dalam perundingan kali ini cenderung mengulang kembali poin-poin yang sebelumnya telah dibahas dalam kesepakatan sementara dua minggu lalu. Delegasi Iran dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi, sementara pihak Amerika Serikat diwakili oleh utusan khusus Steve Witkoff serta Jared Kushner. Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, menegaskan kembali komitmen Qatar dan Pakistan dalam menjalankan peran mediasi untuk meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Dalam keterangannya kepada media Iran, Gharibabadi menjelaskan bahwa pertemuan tersebut terbagi dalam dua sesi utama. Sesi pertama difokuskan pada pembahasan mengenai dugaan pelanggaran kewajiban oleh pihak Amerika Serikat, yang direspons dengan kesepakatan untuk membentuk kanal komunikasi baru guna menyelesaikan perselisihan di masa depan. Sesi kedua membahas masalah teknis pelepasan dana Iran senilai 6 miliar dolar AS yang sempat dibekukan, termasuk mekanisme penggunaan dana tersebut untuk pembelian barang-barang kebutuhan pokok yang akan disalurkan ke Iran.
Isu mengenai Selat Hormuz dan program nuklir Iran juga menjadi topik hangat dalam diskusi tersebut. Wakil Presiden AS, JD Vance, mengonfirmasi bahwa diskusi mengenai keamanan Selat Hormuz telah dilakukan. Data dari Kpler menunjukkan adanya peningkatan lalu lintas kapal komersial di jalur strategis tersebut sebesar lebih dari 50 persen selama periode akhir Juni, yang mengindikasikan adanya upaya pemulihan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut.
Di sisi lain, polemik mengenai akses pengawasan nuklir tetap menjadi batu sandungan. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, membantah laporan bahwa Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) telah diberikan akses ke situs nuklir yang sempat terdampak konflik tahun lalu, seperti Fordow, Natanz, dan Isfahan. Ghalibaf menegaskan bahwa undang-undang domestik Iran saat ini membatasi akses inspeksi IAEA hanya terbatas pada pembangkit listrik Bushehr dan reaktor nuklir di Tehran.
Pernyataan Ghalibaf ini bertolak belakang dengan harapan kepala IAEA, Rafael Grossi, yang menekankan pentingnya akses inspeksi menyeluruh terhadap situs nuklir Iran sebagai bagian dari nota kesepahaman (MoU) antara Iran dan AS. Hingga saat ini, Qatar terus berupaya menjembatani perbedaan kepentingan yang tajam antara kedua negara, namun belum ada kepastian mengenai langkah konkret selanjutnya yang akan diambil untuk menjamin stabilitas keamanan regional.