Perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat dilaporkan tetap menunjukkan komitmen kuat untuk mempertahankan operasional mereka di Singapura. Meskipun demikian, CEO American Chamber of Commerce (AmCham) di Singapura, Dr. Lei Hsien-Hsien, memperingatkan bahwa kenaikan biaya bisnis dapat memengaruhi keputusan investasi di masa depan.
Dalam wawancara eksklusif, Dr. Lei menyoroti bahwa kombinasi antara tingginya biaya operasional, tantangan dalam rekrutmen tenaga kerja, serta adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) yang pesat memaksa banyak perusahaan untuk mengevaluasi kembali strategi penempatan tim dan investasi mereka di kawasan regional. Singapura kini dipandang sebagai pusat yang harus terus berbenah agar tetap kompetitif.
Berdasarkan survei tenaga kerja tahun 2025 yang dirilis oleh AmCham, perusahaan menghadapi kesulitan dalam mencari kandidat lokal tingkat pemula yang memiliki keterampilan teknis yang memadai serta ekspektasi gaji dan promosi yang realistis. Kondisi ini menyebabkan beberapa peran pekerjaan mulai dialihkan ke negara-negara lain dengan biaya operasional yang lebih terjangkau.
Kendati demikian, Dr. Lei menekankan bahwa Singapura masih menawarkan nilai strategis, terutama dalam hal konektivitas regional yang luar biasa. Bisnis saat ini sedang berupaya menyeimbangkan antara biaya operasional yang tinggi dengan manfaat yang ditawarkan oleh ekosistem Singapura sebagai gerbang utama bagi pasar di Asia Tenggara.
Terkait pengaruh AI, adopsi teknologi ini menuntut perusahaan untuk lebih fokus pada produktivitas dan efisiensi. Tren kerja hybrid dan jarak jauh juga turut memengaruhi keputusan perusahaan mengenai distribusi tenaga kerja global. Akibatnya, kuantum investasi dan distribusi sumber daya manusia antar negara menjadi sangat dinamis dan berubah-ubah.
Selain itu, ketidakpastian regulasi global mengenai AI menambah kompleksitas bagi dunia usaha. Perbedaan pendekatan pemerintah di berbagai negara, mulai dari aturan penggunaan hingga kontrol ekspor teknologi canggih, menciptakan tantangan baru. Steven Okun dari APAC Advisors menambahkan bahwa perusahaan kini harus bersiap menghadapi berbagai skenario risiko, termasuk potensi perubahan politik dan keterbatasan akses terhadap teknologi AI di masa depan.