Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ultimatum keras kepada Iran terkait fasilitas nuklirnya. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr menjadi salah satu sasaran utama jika Teheran menolak kembali ke meja perundingan dengan Washington. Ancaman ini disampaikan sebagai bagian dari tekanan militer pada fase akhir konfrontasi.
Merespons ancaman tersebut, Iran tidak tinggal diam dan langsung menyiagakan sistem pertahanan udara di Kota Bushehr. Kantor berita lokal Mehr News melaporkan aktivasi tersebut dilakukan guna mematahkan setiap potensi serangan udara yang dilancarkan pasukan AS ke jantung pembangkit listrik tenaga nuklir negara itu.
Ketegangan ini bermula dari pernyataan Trump yang menegaskan serangan "sangat keras" akan terus dilancarkan hingga ia sendiri memutuskan bahwa situasi sudah mencapai batas kecukupan. Ia secara spesifik menyebut pembangkit listrik tenaga nuklir dan jembatan strategis akan menjadi target pemukulan pada fase terakhir jika diplomasi gagal total.
Di balik ancaman militer tersebut, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana PLTN Bushehr bisa berdiri kokoh tanpa dukungan negara-negara Barat. Pada awal dekade 1990-an, program nuklir Iran mengalami kebuntuan akibat krisis pendanaan yang parah serta minimnya dukungan politik dan teknis dari blok Eropa maupun Amerika Serikat.
Situasi terisolasi itu memaksa Teheran merapat ke kekuatan lain di belahan dunia. China yang saat itu mulai haus akan pasokan minyak dan gas Iran, serta Rusia yang melihat peluang sentralitas strategis, mengambil alih peran pembangunan. Kontrak awal dengan Beijing diteken pada 1990 untuk transfer teknologi siklus bahan bakar nuklir. Sementara itu, kesepakatan konstruksi dengan Moskow baru ditandatangani pada 1999 guna menyelesaikan unit pertama pembangkit tersebut.
Alih-alih meredam ketegangan regional, kerja sama teknologi nuklir Iran dengan dua raksasa Eurasia itu justru memicu amarah Washington. Amerika Serikat langsung menjatuhkan sanksi antara tahun 1995 dan 1996 terhadap perusahaan mana pun yang berinvestasi di sektor minyak dan gas Iran, termasuk yang terlibat proyek infrastruktur nuklir sipil.
Ancaman militer terhadap PLTN Bushehr kini membawa risiko lingkungan dan operasional yang masif bagi kawasan Timur Tengah. Kepala perusahaan nuklir negara Rusia, Rosatom, Alexei Likhachyov, memperingatkan bahwa stasiun tersebut berada dalam bahaya nyata. Ledakan dari serangan AS-Israel sudah terdengar beberapa kilometer dari garis pertahanan fisik stasiun.
Likhachyov menegaskan bahwa gempuran terhadap fasilitas sipil bernuansa nuklir berpotensi menyebarkan kontaminan radioaktif ke wilayah sekitarnya. Dampak radiologis tidak hanya akan dirasakan Iran, tetapi juga negara-negara Teluk yang berbatasan langsung dengan perairan regional, mengingat lokasi pantai Bushehr yang sangat dekat dengan laut.
Pembangunan dua reaktor tambahan di Bushehr pun terpaksa ditangguhkan akibat eskalasi udara yang sedang berlangsung. Proyek perluasan yang dimulai pada 2017 itu sempat menambah kapasitas signifikan bagi jaringan listrik nasional Iran, yang sebelumnya sudah menerima pasokan 1.000 megawatt dari unit pertama sejak tersambung ke grid pada 2011.
Bagi Indonesia, eskalasi di Bushehr memberikan pelajaran berharga terkait ketahanan dan keamanan energi nuklir di masa depan. Indonesia memiliki ambisi serupa melalui rencana pengembangan PLTN atau reaktor daya eksperimental sebagai bagian dari bauran energi nasional. Namun, ketergantungan pada transfer teknologi luar negeri, baik dari Rusia, China, maupun Barat, membuat proyek dalam negeri rawan terimbas gejolak geopolitik global yang tak terduga.
Profesor Emeritus Université Catholique Prancis, Bichara Khader, mencatat bahwa sentralitas strategis Iran membuat Rusia dan China dengan senang hati mengambil alih peran Barat di sana. "Saat itulah Iran beralih ke Tiongkok yang mulai sangat membutuhkan minyak dan gas Iran, dan terutama Rusia," ujar Khader dalam analisisnya mengenai dinamika Timur Tengah kontemporer.
Ke depan, nasib PLTN Bushehr akan bergantung pada intensitas negosiasi yang digagas AS pada Selasa lalu. Meski spesialis Rusia dipastikan tetap berada di lokasi dan melanjutkan pekerjaan esensial, kelanjutan konstruksi dua unit baru masih tertahan. Tren penggunaan fasilitas energi sebagai pion geopolitik akan semakin meningkatkan risiko bencana industri di berbagai belahan dunia.