Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara langsung mendatangi Kedutaan Besar Qatar di Jakarta pada Rabu siang, 15 Juli 2026. Kunjungan tersebut dilakukan untuk menandatangani Book of Condolence atau buku duka cita bagi mantan Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, yang meninggal dunia pada 12 Juli 2026 di usia 74 tahun.
Di lokasi, Kepala Negara disambut oleh Menteri Luar Negeri Sugiono serta Duta Besar Qatar untuk Indonesia, Sultan bin Mubarak Saad Al-Dosari. Tindakan tersebut menunjukkan penghormatan tertinggi dari pemerintah Indonesia terhadap tokoh yang pernah memimpin negara Teluk tersebut pada periode 1995 hingga 2013.
Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani lahir pada 1952 dalam keluarga kerajaan Al Thani yang telah menguasai Qatar sejak pertengahan abad ke-19. Ia menempuh pendidikan militer di Akademi Sandhurst, Britania Raya, sebelum akhirnya menjabat sebagai panglima tentara dan menteri pertahanan. Pada akhir dekade 1970-an, ia ditetapkan sebagai putra mahkota yang akan menggantikan ayahnya, Khalifa bin Hamad Al Thani.
Puncak kekuasaan Hamad terjadi melalui kudeta tidak berdarah pada 1995, saat sang ayah sedang berada di luar negeri. Peristiwa itu mengakhiri kepemimpinan generasi sebelumnya dan membuka babak baru bagi Qatar. Hamad kemudian memegang tampuk pemerintahan sebagai Emir selama delapan belas tahun.
Di bawah kepemimpinannya, Qatar bertransformasi dari negara kecil yang marginal dan terbatas secara ekonomi menjadi kekuatan yang diperhitungkan di kawasan Timur Tengah. Kekayaan gas alam yang melimpah dikelola sedemikian rupa sehingga negara itu masuk dalam jajaran dengan produk domestik bruto per kapita tertinggi di dunia. Pemerintahan Hamad juga mengesahkan konstitusi permanen pertama pada 2004 serta membuka pemilihan tingkat kota di mana perempuan diizinkan memberikan suara dan mencalonkan diri.
Kehadiran Presiden Prabowo di kedutaan tersebut bukan sekadar protokol diplomatik biasa. Indonesia dan Qatar memiliki hubungan bilateral yang terjalin sejak lama, mencakup berbagai sektor dari energi hingga pendidikan. Masyarakat Indonesia, termasuk ribuan pekerja migran dan pelaku usaha, memiliki kepentingan langsung terhadap stabilitas politik di negara Timur Tengah itu.
Dari perspektif ekonomi, model transformasi Qatar di bawah Sheikh Hamad menawarkan pelajaran berharga bagi Indonesia. Negara kepulauan kita juga memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, namun belum sepenuhnya mampu mengonversinya menjadi kesejahteraan merata melalui penguatan sektor teknologi dan industri hilir. Kerja sama dengan negara seperti Qatar dapat mempercepat transfer pengetahuan serta investasi pada infrastruktur digital domestik.
Di sisi lain, duka cita yang disampaikan Prabowo mencerminkan kontinuitas kebijakan luar negeri Indonesia yang bersahabat dengan negara-negara Teluk. Meski pemimpin Qatar telah berganti, ikatan diplomasi diproyeksikan tetap erat mengingat posisi strategis kedua negara dalam peta perdagangan global. Hal ini berdampak pada perlindungan warga negara Indonesia yang bekerja maupun berbisnis di sana.
Dalam buku duka cita tersebut, Prabowo menulis pesan belasungkawa atas nama rakyat dan pemerintah Republik Indonesia. Ia menyatakan kesedihan mendalam serta mendoakan agar almarhum ditempatkan di sisi terbaik oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Sekretariat Presiden menyiarkan langsung cuplikan pesan tersebut yang ditulis dalam bahasa Inggris sebagai bentuk komunikasi internasional.
Duta Besar Sultan bin Mubarak Saad Al-Dosari menyambut kedatangan Presiden dengan apresiasi tinggi. Kehadiran tokoh negara setingkat kepala pemerintahan menunjukkan betapa dihormatinya figur Sheikh Hamad di mata komunitas internasional, termasuk di Asia Tenggara. Sugiono selaku Menlu turut mendampingi proses penandatanganan sebagai wujud sinergi antarlembaga dalam protokol negara.
Pasca wafatnya Hamad, tampuk kepemimpinan Qatar telah berada di tangan putranya, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, sejak 2013. Tamim yang saat itu berusia 33 tahun meneruskan dinasti keluarga dan memimpin negara hingga saat ini. Transisi yang mulus tersebut menjadi indikator stabilitas politik kerajaan yang terjaga meski mengalami pergantian generasi.
Melihat ke depan, hubungan Indonesia dan Qatar diprediksi akan semakin menguat di bidang investasi nonmigas dan ekonomi digital. Minat dana sovereign wealth Qatar untuk menanamkan modal di pasar berkembang seperti Indonesia membuka peluang bagi startup lokal mendapatkan pendanaan serta akses jaringan global. Diplomasi personal seperti yang dilakukan Prabowo hari ini menjadi fondasi penting menuju kerja sama multilateral yang lebih konkret.