Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan penyesuaian tarif LRT Jakarta baru akan diputuskan setelah Fase 1B rute Velodrome–Manggarai mulai beroperasi pada Agustus 2026. Ia meninjau langsung progres pembangunan rute tersebut di Stasiun LRT Rawamangun, Jakarta Timur, pada Selasa, 14 Juli 2026.
Dalam kunjungan itu, Pramono menyatakan bahwa tarif baru akan ditentukan secara profesional dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan. "Berapa pun tarifnya nanti akan diputuskan," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa saat ini pihaknya terus berdiskusi dengan operator dan badan terkait. Tarif MRT Jakarta disebutnya bisa menjadi referensi dalam mematok tarif LRT ke depan.
Saat ini LRT Jakarta melayani koridor Kelapa Gading–Velodrome dengan tarif tunggal Rp5.000 per perjalanan. Tarif tersebut disubsidi penuh oleh Pemprov DKI melalui APBD. Dengan beroperasinya rute baru ke Manggarai, jumlah penumpang diprediksi naik signifikan, namun beban subsidi juga berpotensi membengkak.
"Begitu nanti sudah selesai, kami melakukan perhitungan kembali berapa yang akan digunakan untuk subsidi kepada masyarakat, berapa tarif yang diizinkan oleh Pemerintah DKI Jakarta, akan kami putuskan," kata Pramono.
Di sisi lain, aspek keterjangkauan tetap menjadi prioritas. Pramono menegaskan tiket LRT tidak boleh membebani masyarakat. "Tiketnya tentunya tetap harus terjangkau oleh masyarakat," ucapnya.
Fase 1B Velodrome–Manggarai menjadi proyek strategis karena akan menghubungkan kawasan timur Jakarta dengan pusat transit utama di Manggarai. Stasiun Manggarai merupakan titik temu antara KRL Commuter Line, TransJakarta, dan rencananya LRT. Integrasi ini diharapkan mendorong peralihan dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.
Pembiayaan proyek ini sepenuhnya menggunakan APBD DKI Jakarta. Artinya, pemerintah memiliki kendali penuh atas kebijakan tarif dan subsidi. Namun, tekanan pada fiskal daerah harus menjadi pertimbangan. Sejak diresmikan pada 2019, LRT Jakarta terus mengandalkan subsidi untuk menjaga tarif tetap rendah.
Pengamat kebijakan publik menilai penyesuaian tarif merupakan langkah wajar seiring perluasan jaringan. Mereka mengingatkan agar pemerintah tidak tergesa-gesa menaikkan tarif tanpa memperbaiki layanan dan integrasi.
Pramono belum menyebutkan angka pasti besaran tarif baru. Ia hanya memastikan semua akan dihitung setelah rute Manggarai beroperasi. Keputusan akan diumumkan setelah data operasional terkumpul.
Ke depan, jika tarif LRT disesuaikan mengikuti skema MRT, bisa jadi tarif flat di kisaran Rp10.000–Rp15.000. Namun, opsi tarif berdasarkan jarak juga mungkin diterapkan. Yang jelas, kebijakan ini akan memengaruhi pola perjalanan jutaan warga Jakarta.
Dengan target operasi Agustus 2026, waktu satu tahun ke depan akan digunakan untuk sosialisasi dan persiapan. Masyarakat diharapkan dapat menerima perubahan tarif asalkan diimbangi dengan layanan yang lebih baik dan integrasi yang mulus.