Panitia penyelenggara British Open masih mengkaji opsi memajukan waktu mulai putaran keempat yang digelar Minggu di Royal Birkdale. Langkah tersebut bertujuan mencegah tumpang tindih dengan pertandingan final Piala Dunia yang akan kickoff pukul 19.00 GMT di New Jersey. Tradisi turnamen golf tertua ini mencatat putt terakhir biasanya jatuh sekitar pukul 17.30 GMT, namun jika terjadi playoff tiga lubang, waktu penyelesaian bisa melorot mendekati jam pertandingan sepak bola.
England akan menghadapi Argentina pada babak semifinal yang berlangsung Rabu waktu setempat. Apabila tim mampu menang dan berhadapan dengan Spanyol, mereka melaju ke final Piala Dunia perdana sejak 1966. Antusiasme publik Inggris pun melonjak, sehingga R&A selaku pengelola British Open harus peka terhadap pembagian perhatian penonton.
Kejuaraan ke-154 The Open dimulai Kamis di lintasan links pesisir utara Liverpool, tepatnya di Southport. Kondisi cuaca panas dan kering diprediksi bertahan sepanjang pekan, menciptakan lapangan yang cepat dan keras serta menyajikan ujian murni gaya bermain links. Mark Darbon, kepala eksekutif R&A, menyebut tantangan tersebut sebagai tes sesungguhnya bagi para pegolf elite dunia.
Panitia memproyeksikan rekor kehadiran mencapai 300.000 orang selama turnamen mayor tersebut berlangsung. Kerumunan British Open dikenal sopan, tetapi gelombang penonton baru membawa risiko perilaku berisik. Beberapa ajang golf bergengsi seperti Ryder Cup terakhir dan U.S. Open sempat tercoreng insiden suporter berteriak dan mabuk alkohol, sehingga menuntut pengawasan lebih ketat.
Sebagai respons, R&A meluncurkan panduan perilaku penonton bernama The Open Commitment. Lima pilar menjadi fondasinya: menghormati pemain, menjaga keasrian links, saling menghargai sesama penonton, meningkatkan kewaspadaan, serta menikmati turnamen secara bertanggung jawab. Darbon menilai kodifikasi ekspektasi tersebut akan membantu menjaga standar kejuaraan ke depan.
Di Indonesia, bentrokan jadwal antara dua event olahraga besar kerap terjadi, meski biasanya antara sepak bola domestik dan internasional. Siaran Piala Dunia umumnya dikuasai stasiun televisi swasta melalui hak siar eksklusif, sementara turnamen golf jarang mendapat porsi utama di layar kaca tanah air. Fenomena ini membuat penggemar lokal lebih bergantung pada platform digital untuk mengakses tayangan paralel.
Layanan streaming multidevice kini memungkinkan penonton Indonesia menyaksikan final Piala Dunia di satu layar dan mengikuti putaran British Open di layar lain. Perubahan perilaku konsumsi media tersebut menuntut broadcaster menyediakan teknologi buffer rendah dan opsi multi-feed. Kolisi jadwal di Eropa sebenarnya menguji ketangkasan distributor konten di pasar berkembang seperti Indonesia.
Dari sisi tata kelola, pendekatan R&A merumuskan kode etik penonton relevan dengan pengalaman stadion di Indonesia. Kerusuhan suporter masih menghantui kompetisi sepak bola lokal, sehingga panduan tertulis yang menekankan tanggung jawab individu dapat diadopsi sebagai pelengkap regulasi keamanan. Transformasi budaya penonton menjadi krusial seiring meningkatnya kapasitas venue olahraga nasional.
Darbon sendiri enggan mengambil keputusan terburu-buru. “Saya penggemar sepak bola Inggris, jadi ini akan menjadi masalah yang menyenangkan jika terjadi. Namun karena saya pendukung mereka, kita harus menunggu hasil semifinal dulu sebelum terlalu jauh berspekulasi,” ujarnya kepada wartawan di Southport pada Rabu.
Menurutnya, even jika playoff tiga lubang harus dilakoni, panitia masih memiliki cukup waktu menyelesaikan kejuaraan sebelum kickoff final. “Saat ini belum ada rencana mengubah apapun, tetapi kami akan terus meninjau dan memfinalisasi posisi setelah semifinal,” tegas Darbon. Ia juga memuji lapangan yang akan memberikan tes links sesungguhnya.
Penentuan jadwal pasti akan diumumkan setelah Inggris melakoni laga semifinal. Jika The Three Lions melenggang ke final, tekanan publik dan televisi untuk memajukan tee time British Open dipastikan meningkat. Sebaliknya, kekalahan Inggris membuat risiko bentrokan audiens berkurang drastis, sehingga format tradisional bisa dipertahankan.
Lebih luas, tren kolaborasi antarpromotor olahraga global perlu diperkuat agar kalender kompetisi tidak saling memangsa penonton. Di era ekonomi atensi, penyelenggara turnamen golf maupun federasi sepak bola wajib mempertimbangkan zona waktu pasar utama mereka. Ke depan, fleksibilitas jadwal berbasis data penonton akan menjadi standar baru dalam manajemen event internasional.