Premier League memasuki musim 2024-2025 dengan catatan sejarah: sepuluh pemain Jepang terdaftar di skuad klub-klub elit Inggris saat peluncuran kampanye pekan lalu. Angka itu melampaui rekor sebelumnya dan menandai pergeseran signifikan dalam peta rekrutmen liga paling ditonton di dunia. Klub-klub tidak lagi melihat Liga Jepang (J.League) atau pemain berbendera Merah Putih sebagai taruhan berisiko, melainkan sebagai investasi cerdas yang menawarkan kinerja instan.
Kedatangan Zion Suzuki ke Aston Villa menjadi sorotan terbesar. Kiper berusia 24 tahun itu pindah dari Parma dengan label kiper Jepang pertama yang berpotensi debut di Premier League. Di sisi lain, Takehiro Tomiyasu kembali ke London memperkuat Crystal Palace setelah masa di Arsenal, sementara Hidemasa Morita dan Daizen Maeda masing-masing memperkuat Hull City dan Ipswich Town yang baru promosi. Mereka bergabung dengan grup inti yang sudah mapan: Kaoru Mitoma di Brighton, Wataru Endo di Liverpool, Daichi Kamada di Palace, serta Ao Tanaka (Leeds), Kota Takai (Tottenham), dan Tatsuhiro Sakamoto (Coventry).
Perubahan persepsi ini tidak terjadi semalam. Agen FIFA Joel Pannick dari CAA Base, yang mengelola sekitar 60 pemain Jepang, mengakui kepercayaan klub Inggris telah melonjak drastis. "Tidak banyak contoh klub menandatangani pemain Jepang lalu menghadapi masalah adaptasi, kepribadian, integrasi ke gubahan, atau disiplin," ujar Pannick kepada AFP. Elemen ketakutan akan hal-hal yang tidak diketahui telah hilang digantikan oleh bukti nyata keberhasilan setiap pemain yang tiba.
Sejarah panjang perjalanan pemain Jepang di Inggris dimulai dengan Junichi Inamoto yang bergabung Arsenal 2001, namun pergi ke Fulham setahun kemudian tanpa sekali pun tampil di liga. Kemudian hadir generasi emas: Shinji Kagawa, Shinji Okazaki, Takumi Minamino, dan Endo — semuanya mengoleksi medali juara liga. Keberhasilan mereka membangun fondasi reputasi yang kini dimanfaatkan generasi saat ini.
Kasus Suzuki menarik perhatian jurnalis veteran Yoshiyuki Osumi. Menurutnya, kiper kelahiran 2002 ini "10 hingga 20 tahun lebih maju dari waktunya bagi kiper Jepang". Osumi percaya debut Suzuki di Premier League akan menciptakan dampak besar bagi sepak bola Jepang, menginspirasi generasi muda di posisi yang selama ini jarang dieksportir. Transisi Suzuki dipermudah kemampuan berbahasa Inggris — aset yang kini jadi prasyarat, bukan kelebihan.
Perubahan budaya ini dipicu Maya Yoshida saat memimpin timnas Jepang menuju Piala Dunia 2022. Pannick mengungkap, mantan kapten Southampton itu mewajibkan rekan tim yang makan di mejanya berbicara bahasa Inggris. "Mendapatkan mentalitas global seperti itu sangat ditekankannya," kata Pannick. Hasilnya, hampir seluruh pemain inti timnas Jepang saat ini fasih berbahasa Inggris, menghilangkan hambatan komunikasi yang dulu jadi momok adaptasi.
Jalur karir paling umum tetap lewat liga perantara: Belgia, Belanda, Portugal, dan kini Championship. Saat ini delapan pemain Jepang berlaga di kasta kedua Inggris, siap menunggu panggilan ke panggung utama. Perubahan aturan izin kerja pasca-Brexit memaksa klub Premier League mencari bakat di luar Eropa, dan Jepang muncul sebagai pasar yang matang, terstruktur, dan efisien secara biaya.
Osumi menambahkan faktor taktikal. "Premier League jadi lebih taktikal, banyak tim bermain sebagai unit yang terkoordinasi. Gaya sepak bola seperti itulah yang sangat mudah diadaptasi pemain Jepang," jelasnya. Karakteristik permainan Jepang — disiplin taktis, gerakan tanpa bola, dan etos kerja kolektif — kini cocok dengan kebutuhan pelatih modern di Inggris.
Bagi sepak bola Indonesia, fenomena ini menawarkan pelajaran krusial. Jepang membangun ekosistem yang memproduksi pemain siap pakai Eropa: pendidikan taktikal dari usia dini, sistem liga yang kompetitif, dan budaya bahasa asing yang ditekankan sejak akademi. Pemain Indonesia seperti Pratama Arhan, Sandy Walsh, atau Justin Hubner yang berlaga di Eropa masih terhitung sedikit dan sering kali harus berjuang adaptasi budaya serta bahasa.
Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) dan manajemen liga domestik perlu mengevaluasi kurikulum pengembangan pemain. Bukan hanya soal teknik, tapi mentalitas profesional, pemahaman taktis lanjutan, dan kemampuan komunikasi lintas budaya. Jika Indonesia ingin mengekspor bakat secara berkelanjutan — bukan hanya kasus individu — pendekatan sistematis ala Jepang harus jadi referensi.
Musim ini akan jadi uji nyata bagi sepuluh samurai di Premier League. Sukses mereka akan memperkuat posisi Jepang sebagai pasar transfer primer, sementara kegagalan — meski minim risikonya — tetap akan diamati tajam. Namun apa pun hasilnya, rekor 10 pemain sudah membuktikan: sepak bola Jepang telah lolos dari fase eksperimen menuju fase kepercayaan penuh.