Nasional

RI Undang Imam Masjidil Haram ke IGIC 2026, Perkuat Diplomasi Keagamaan Global

Ringkasan

  • Menteri Agama Nasaruddin Umar mengundang Syekh Abdurrahman As-Sudais hadir sebagai tamu kehormatan International Grand Imam Conference 2026 di Indonesia 25-28 September mendatang.

Menteri Agama Nasaruddin Umar bersama panitia International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 menemui perwakilan Kedutaan Besar Kerajaan Arab Saudi di Jakarta, Rabu (20/8), untuk menyodorkan undangan resmi bagi Imam Besar Masjidil Haram, Syekh Abdurrahman bin Abdul Aziz As-Sudais. Kehadiran beliau diharapkan menjadi penguat pesan strategis konferensi yang mengusung tema "Mosque Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace".

Pertemuan koordinasi itu menjadi langkah awal penetapan jadwal dan protokol kedatangan tokoh keagamaan senior itu. Sebelumnya, Syekh As-Sudais pernah mengunjungi Indonesia dan menjabat imam serta khatib di Masjid Istiqlal, sehingga kehadirannya kini dinilai membawa bobot emosional dan sejarah bagi umat Muslim di Tanah Air.

IGIC 2026 sendiri diprakarsai oleh Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) dengan dukungan penuh Kementerian Agama. Forum ini ditargetkan menghimpun delegasi dari sekitar 50 negara, mempertemukan imam besar, ulama, dan tokoh keagamaan untuk membahas peran masjid sebagai pusat pembinaan umat, pendidikan, moderasi beragama, hingga diplomasi keagamaan.

Ketua Steering Committee IGIC 2026, Muhammad Sabilul Alif, menegaskan koordinasi dengan kedutaan Saudi vital agar proses undangan berjalan melalui jalur diplomatik yang tepat. "Kehadiran beliau akan menjadi kehormatan sekaligus memperkuat pesan konferensi tentang harmoni masjid, diplomasi keagamaan, dan perdamaian global," ujarnya.

Di balik undangan ini tersimpan narasi hubungan bilateral yang sudah lama terjalin. Indonesia dan Arab Saudi tidak hanya terikat oleh ibadah haji, tetapi juga jejaring kelembagaan keagamaan yang saling memperkaya. Kehadiran imam tertinggi Masjidil Haram di forum global di Jakarta menandai pengakuan internasional terhadap peran Indonesia sebagai negara Muslim terbesar yang berkomitmen pada Islam wasathiyah.

Tema "Mosque Harmony" yang diangkat IGIC 2026 relevan dengan tantangan kontemporer: polarisasi agama, radikalisme, hingga konflik identitas. Masjid, yang selama ini sering dipandang sekadar tempat ibadah, kini diposisikan sebagai basis diplomasi lunak — ruang dialog lintas budaya dan peradaban. Indonesia, dengan pengalaman mengelola keberagaman, punya kredibilitas untuk memimpin narasi ini.

Bagi masyarakat Indonesia, konferensi ini bukan sekadar acara protokoler. Ia membuka peluang transfer pengetahuan tentang manajemen masjid modern, kurikulum moderasi, hingga model pembiayaan berkelanjutan yang telah diterapkan di Haramain. Imam-imam lokal nantinya bisa belajar langsung dari praktik terbaik Arab Saudi tanpa harus ke Mekkah.

Sisi lain, kehadiran Syekh As-Sudais juga mengirim sinyal geopolitik. Di tengah dinamika Timur Tengah yang fluida, Indonesia menempatkan diri sebagai jembatan dialog — tidak memihak, tapi mendorong perdamaian melalui pendekatan keagamaan. Ini selaras dengan bebas-aktif dan peran Indonesia di OIC serta forum global lain.

Kementerian Agama telah menyiapkan infrastruktur pendukung, mulai dari akomodasi protokoler hingga keamanan ketat. Koordinasi lintas kementerian — Luar Negeri, Koordinator Bidang Politik Hukum Keamanan, hingga TNI/Polri — sudah digulirkan untuk memastikan keberlangsungan acara lancar dan aman.

Pasca-IGIC, diharapkan terbentuk jaringan imam masjid lintas negara yang berkelanjutan, bukan hanya bertemu sekali lalu bubar. Rencananya akan dibentuk sekretariat permanen di bawah naungan IPIM untuk mengelola database, program pelatihan, dan pertukaran imam antarnegara secara berkala.

Langkah selanjutnya adalah penetapan agenda detail dan penyesuaian teknis melalui jalur kelembagaan. Panitia akan menyusun dokumen posisi bersama (joint declaration) yang mencerminkan komitmen peserta soal peran masjid dalam membangun perdamaian. Jika berhasil, IGIC 2026 bisa jadi model konferensi keagamaan global yang diputar di negara lain bertahap.

Pada hakikatnya, undangan ini cermin dari maturitas diplomasi keagamaan Indonesia. Bukan lagi sekadar penerima arahan, tapi perancang agenda. Kehadiran Syekh As-Sudais nanti akan jadi bukti nyata: Indonesia layak jadi rumah percakapan umat dunia.

Mengapa Ini Penting

IGIC 2026 memposisikan Indonesia sebagai arsitek diplomasi keagamaan berbasis masjid, bukan sekadar peserta. Kehadiran Imam Masjidil Haram memberikan legitimasi global pada narasi Islam wasathiyah Indonesia. Lebih dari simbolik, forum ini bisa melahirkan standar manajemen masjid modern yang dapat diadopsi 800 ribu masjid di Nusantara. Jaringan imam lintas negara yang dibangun akan jadi aset jangka panjang untuk deradikalisasi dan moderasi beragama di tingkat akar rumput. Indonesia juga memperkuat leverage diplomatik di OIC dan forum Islam global melalui inisiatif konkret ini.

Sumber Asli
CNN Indonesia Internasional
Tanggal
21 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit