Satuan Tugas (Satgas) Operasi Damai Cartenz secara resmi mengonfirmasi bahwa kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang bertanggung jawab atas penembakan fatal terhadap pilot berkebangsaan Amerika Serikat, Nicholas F. Goselin, adalah kelompok Bakusip. Kelompok ini diketahui sebagai faksi baru yang berada di bawah komando M. Mbalingga dan beroperasi di wilayah Yahukimo, Papua Pegunungan.
Kepala Satgas Operasi Damai Cartenz, Komisaris Besar Polisi IGG Era Adhinata, mengungkapkan bahwa identifikasi tersebut didasarkan pada serangkaian penyelidikan intensif pasca-kejadian pada Kamis (2/7). Pihak kepolisian melakukan pemeriksaan saksi, wawancara mendalam, serta pemantauan aktivitas di media sosial yang menjadi sarana kelompok tersebut menyebarkan klaim tanggung jawab.
Lebih lanjut, Era Adhinata menjelaskan bahwa kelompok Bakusip disinyalir memiliki keterkaitan dengan kelompok Elkius Kobak yang telah lama beroperasi di wilayah Yahukimo. Pihak Satgas kini tengah mendalami sejauh mana hubungan hierarki antara M. Mbalingga dan Elkius Kobak dalam struktur operasional kelompok bersenjata tersebut.
Bukti visual menjadi kunci dalam identifikasi ini, di mana pelaku terlihat dalam rekaman media sosial berdiri di dekat bangkai pesawat milik PT AMA yang telah dibakar. M. Mbalingga sendiri sempat mengeluarkan pernyataan terbuka yang mengakui keterlibatan kelompoknya dalam aksi penembakan dan perusakan pesawat tersebut, yang kemudian diperkuat oleh pernyataan serupa dari pihak Elkius Kobak.
Menanggapi insiden tersebut, Koops TNI Habema telah mengerahkan tim patroli untuk melakukan penyisiran dan pengejaran terhadap para pelaku. Letkol Inf. M. Wirya Arthadiguna, Kapen Koops TNI Habema, menegaskan bahwa tindakan tegas akan terus dilakukan untuk memastikan stabilitas keamanan di wilayah Yahukimo serta menjamin proses penegakan hukum berjalan sesuai prosedur.
Hingga saat ini, pihak penyidik masih berupaya mengungkap motif utama di balik penyerangan yang menewaskan pilot Nicholas Goselin tersebut. Meskipun kelompok tersebut sempat melontarkan ancaman terhadap aktivitas penerbangan di wilayah operasi mereka melalui media sosial, aparat keamanan tetap mengedepankan investigasi komprehensif untuk memastikan motif di balik aksi brutal yang mengganggu jalur transportasi vital di Papua tersebut.