Selandia Baru secara resmi mencatat penemuan perdana virus flu burung H5 di wilayahnya. Satu individu burung laut pengembara, yakni skua cokelat, terkonfirmasi positif melalui pengujian laboratorium setelah ditemukan di Pantai Petone, Wellington. Menteri Biosecurity Andrew Hoggard mengumumkan temuan tersebut pada Rabu (15 Juli) sebagai peringatan dini bagi warga.
Kementerian menegaskan belum ada bukti penularan antarburung liar maupun kematian massal pada satwa liar setempat. Meski begitu, otoritas setempat meminta masyarakat tetap waspada karena strain H5 dikenal mematikan bagi unggas dan burung liar di berbagai belahan dunia.
Flu burung H5 merupakan subtipe yang menyebabkan wabah parah dengan tingkat kematian tinggi pada peternakan unggas dan populasi burung liar secara global. Dalam beberapa tahun terakhir, penyebaran virus ini kian agresif melintasi benua, menginfeksi beragam spesies dan mengganggu rantai pasok pangan.
Selandia Baru sebelumnya termasuk sedikit negara yang terbebas dari strain mematikan itu berkat isolasi geografisnya. Negara ini memiliki ekosistem unik karena tidak memiliki mamalia sebelum kedatangan manusia, sehingga banyak spesies burung endemik seperti kiwi kehilangan kemampuan terbang dan sangat rentan terhadap ancaman baru.
Tetangganya, Australia, selama bertahun-tahun menjadi satu-satunya benua yang bebas H5, namun otoritas Australia mendeteksi kasus pertama pada Juni lalu. Sejak saat itu, mereka melaporkan 14 kasus positif, menandakan bahwa perisai regional mulai terobos.
Bagi Indonesia, berita ini menyoroti pentingnya kewaspadaan biosecurity karena negara kita telah lama bergulat dengan flu burung tipe H5N1 sejak 2003. Meski strain H5 yang mendominasi di Selandia Baru mungkin berbeda, mekanisme pengawasan terhadap pergerakan burung migran di Jalur Asia-Pasifik perlu diperkuat, mengingat posisi Indonesia sebagai titik persinggahan burung liar.
Sektor peternakan unggas domestik, yang menyumbang sebagian besar protein hewani masyarakat, sangat rawan jika virus tersebut masuk ke kandang. Pengalaman masa lalu menunjukkan wabah avian influenza dapat menekan produksi dan memicu kenaikan harga telur serta daging ayam, berdampak langsung pada inflasi pangan.
Berbeda dengan Selandia Baru yang memiliki program vaksinasi untuk melindungi lima burung paling terancam punah, yakni kakapo, takahe, shore plover, black stilt, dan orange-fronted parakeet, Indonesia masih terbatas pada pengendalian melalui pemusnahan ternak dan survei pasif. Teknologi pelacakan migrasi berbasis satelit serta sensor AI untuk deteksi gejala sakit pada kawanan dapat menjadi investasi strategis ke depan.
Andrew Hoggard dalam keterangannya menyebut, “Warga Selandia Baru diminta waspada setelah seekor burung laut penjelajah samudra, skua cokelat, dinyatakan positif H5 hari ini.” Pernyataan itu sekaligus menekankan bahwa temuan tunggal belum mencerminkan wabah luas.
Di sisi lain, otoritas Australia terus memantau 14 kasus yang telah diidentifikasi, memastikan tidak ada lonjakan transmisi lokal. Perbandingan ini menggambarkan betapa cepatnya virus mengadaptasi perjalanan antarbenua melalui burung bermigrasi jarak jauh.
Langkah ke depan, pemerintah Selandia Baru mengimbau warga melaporkan kelompok yang terdiri dari tiga ekor atau lebih burung sakit ke otoritas berwenang. Protokol tersebut dirancang untuk mendeteksi klaster penularan sejak dini sebelum menjadi krisis ekologi.
Proyeksi ilmiah menunjukkan tren penyebaran H5 ke wilayah terisolasi akan berlanjut seiring perubahan iklim dan pola migrasi. Bagi Indonesia, kolaborasi lintas negara dalam berbagi data genomik virus dan penguatan laboratorium veteriner menjadi krusial agar kesiapsiagaan nasional tidak tertinggal dari dinamika global.