Pasukan Amerika Serikat menghujani wilayah Iran dengan serangan militer secara berturut-turut dalam beberapa hari terakhir. Jumlah korban dari pihak sipil mencapai 30 orang yang berdomisili di bagian selatan negara tersebut.
Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengonfirmasi jatuhnya korban jiwa tersebut sekaligus menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan. Ia menegaskan bahwa Iran selatan merupakan jantung negara, sehingga pemerintah akan berdiri di sisi rakyat dengan segenap kekuatan yang dimiliki.
Rentetan agresi militer ini bermula dari ultimatum Presiden AS Donald Trump kepada Teheran terkait fase akhir operasi. Trump secara terbuka menyatakan bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir serta jembatan akan menjadi sasaran jika Iran tidak memenuhi tuntutan Gedung Putih.
Sebelumnya, kedua belah pihak sempat menyepakati gencatan senjata dan menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang mewajibkan penghentian pertempuran dari semua front. Kesepakatan itu juga mencantumkan poin menghargai kedaulatan masing-masing dan tidak ikut campur dalam urusan internal satu sama lain.
Kenyataannya, Washington tercatat beberapa kali melanggar komitmen tersebut dengan melanjutkan serangan secara agresif. AS bahkan memilih menargetkan infrastruktur sipil, sebuah tindakan yang secara hukum internasional dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Hantaman terhadap fasilitas publik seperti jembatan dan pembangkit listrik memiliki dampak sistemik yang melampaui medan tempur. Ketika pasokan energi terputus, seluruh ekosistem teknologi dan telekomunikasi di wilayah tersebut otomatis lumpuh, memutus akses informasi warga sipil.
Bagi Indonesia, eskalasi konflik yang menyasar infrastruktur kritis ini menyoroti kerentanan fasilitas vital kita sendiri. Sebagai negara dengan tingkat adopsi digital yang masif, ancaman terhadap pembangkit listrik dan jaringan telekomunikasi merupakan risiko keamanan siber dan fisik yang tak boleh dianggap remeh.
Di sisi lain, stabilitas Timur Tengah yang kembali goyah berpotensi mengerek harga komoditas global, termasuk minyak dan semikonduktor. Hal ini pada akhirnya akan berimbas pada biaya logistik dan harga perangkat teknologi di pasar Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.
"Musuh Amerika menyerang tiga lokasi di Bushehr hari ini," ucap Gubernur Kota Bushehr, Mohammad Mozafari, merujuk pada serangan terbaru ke pusat pembangkit listrik Iran. Kendati demikian, sejauh ini belum ada laporan resmi mengenai kerusakan parah maupun korban jiwa akibat serangan di Bushehr.
Trump sebelumnya menegaskan bahwa AS akan terus melancarkan serangan "sangat keras" ke Iran. Negara adidaya itu tidak akan berhenti sebelum Teheran bersedia duduk di meja negosiasi dan mengakomodasi permintaan dari Gedung Putih.
Prospek perdamaian tampak suram mengingat MoU yang dirancang sebagai jembatan diplomasi justru diabaikan begitu saja. Teheran dipastikan akan memperketat pertahanan infrastruktur strategisnya, sementara Washington memperlihatkan sinyal tidak akan mundur dari posisi menekan.
Tren konflik masa depan kemungkinan besar akan semakin mengaburkan batas antara target militer dan sipil, terutama fasilitas teknologi tinggi. Masyarakat global, termasuk Indonesia, harus bersiap menghadapi volatilitas rantai pasok dan disrupsi digital akibat peperangan yang tidak lagi mengenal batas kedaulatan.