Internasional

Serangan AS ke Iran Memuncak, Selat Hormuz Terancam Tutup Total

Ringkasan

  • Amerika Serikat melancarkan serangan udara baru ke sistem pertahanan pantai Iran di Selat Hormuz pada Rabu (15/7), memicu ancaman penutupan rute energi global oleh Teheran.

Pasukan Komando Pusat Amerika Serikat (US CENTCOM) memulai gelombang serangan pada pukul 06.00 waktu Timur (ET) hari Rabu terhadap instalasi pertahanan pantai dan situs peluncur rudal Iran. Serangan tersebut menyasar Pulau Greater Tunb serta sejumlah fasilitas penyimpanan rudal jelajah, dan rampung dalam kurun 90 menit.

Aksi militer ini merupakan eskalasi terbaru setelah Washington memberlakukan kembali blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Tehran membalas dengan mengklaim telah menyerang basis militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania, sekaligus mengancam akan menutup koridor ekspor energi lainnya di kawasan Timur Tengah.

Konflik bersenjata ini bermula dari serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari. Sejak itu, Tehran melancarkan serangan balasan ke negara-negara Teluk yang menaungi basis Amerika, yang memicu gangguan parah pada rantai pasok energi dunia. Kesepakatan gencatan senjata sementara yang ditandatangani bulan lalu sejatinya dirancang untuk membuka perundingan mengenai program nuklir dan menghentikan permusuhan secara permanen, namun negosiasi kembali mandek.

Ketegangan meroket setelah Iran menyatakan menutup Selat Hormuz pada akhir hari Sabtu pekan lalu. AS menuduh Iran menyerang tujuh kapal niaga dalam seminggu terakhir, yang menewaskan, menghilangkan, atau melukai hampir selusin awak kapal. Selat tersebut sebelum perang mengangkut seperlima pengiriman minyak dan gas global, sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada harga energi.

Presiden AS Donald Trump, yang menghadapi tekanan domestik untuk tidak kembali ke perang terbuka, pada Selasa mengancam akan menghantam pembangkit listrik dan jembatan Iran pekan depan bila Tehran tidak melanjutkan negosiasi. Ia sempat mengusulkan pungutan 20 persen bagi kapal yang melintasi selat, namun ide itu dibatalkan sehari kemudian dan diganti dengan rencana kesepakatan investasi dengan negara-negara Teluk.

Bagi Indonesia, terutama sektor teknologi dan industri yang bergantung pada rantai pasok global, eskalasi di Hormuz membawa risiko nyata. Negara kita mengimpor sebagian besar kebutuhan minyak mentah dan komponen elektronik melalui jalur laut internasional. Apabila selat tersebut benar-benar ditutup, biaya logistik untuk pengiriman perangkat keras teknologi dari Eropa maupun Timur Tengah akan melonjak.

Startup logistik dan e-commerce lokal mungkin menanggung beban kenaikan tarif pengiriman, yang pada gilirannya mendorong inflasi barang elektronik konsumsi. Di sisi lain, Indonesia telah mengembangkan sistem pemantauan maritim berbasis satelit dan drone untuk menjaga perairan sendiri, namun teknologi tersebut belum mampu mengatasi guncangan pasokan dari luar negeri. Hal ini menunjukkan betapa rentannya ekosistem digital kita terhadap gejolak geopolitik.

Dibandingkan dengan situasi di kawasan Teluk, Indonesia beruntung tidak memiliki basis militer asing yang menjadi target, tetapi ketergantungan pada energi impor membuat harga BBM dalam negeri rawan terkerek. Pemerintah perlu mempertimbangkan diversifikasi rute pengiriman melalui jalur selatan Afrika bila konflik tak kunjung reda.

Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap tertutup hingga apa yang disebut sebagai "akhir dari kejahatan Amerika". Klaim tersebut disertai seruan bahwa Washington harus bersiap menghadapi penutupan semua koridor ekspor lain yang menguntungkan AS dan sekutunya.

Di sisi lain, juru bicara pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani melaporkan sedikitnya 30 warga sipil tewas dalam serangan AS di Iran selatan beberapa hari terakhir. Sementara itu, Angkatan Darat Iran mengonfirmasi tujuh personel wajib militer dan dinas aktif gugur akibat serangan malam ke basis militer Bampur di tenggara negara itu. Trump sendiri menegaskan, "Saya akan menyimpan target energi untuk terakhir, tapi pada akhirnya kami akan menghantamnya."

Para analis meyakini kedua belah pihak tidak akan kembali ke perang skala penuh, meski risiko eskalasi tetap ada. Iran diperkirakan akan memobilisasi sekutu Houthi di Yaman untuk menutup Bab el-Mandeb, membuka front kedua yang mengancam jalur energi vital lainnya. Selat penghubung Laut Merah dan Teluk Aden itu sebelumnya sudah pernah terganggu akibat serangan terkait perang Gaza.

Data pelayaran menunjukkan ada peningkatan kapal berafiliasi Iran yang melintasi Hormuz sebelum blokade AS efektif. Komando Pusat AS menyatakan telah mengalihkan dua kapal komersial yang mencoba menerobos blokade. Harga minyak yang sudah menyentuh tertinggi satu bulan pada Selasa diprediksi terus naik selama ketidakpastian ini berlangsung, mempertebal kecemasan pasar global termasuk di Indonesia.

Mengapa Ini Penting

Krisis ini menguji ketahanan rantai pasok teknologi Indonesia yang bergantung pada impor komponen via jalur laut global. Kenaikan harga energi akan berimbas pada biaya operasional data center dan layanan cloud lokal yang sensitif terhadap tarif listrik. Pemerintah dan pelaku startup perlu memetakan alternatif rute logistik serta mempercepat adopsi energi terbarukan agar sektor digital tidak ikut terpuruk. Masyarakat luas akan merasakan dampaknya melalui inflasi barang elektronik dan potensi kenaikan harga BBM.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit