Internasional

Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan Keluarga, Satu Anak Selamat

Ringkasan

  • Sebuah serangan udara Israel di Deir el-Balah, Gaza tengah, pada Rabu (15/7) menewaskan tiga anggota keluarga dan menyisakan satu anak yang selamat, meski gencatan senjata berlaku sejak Oktober.

Serangan udara yang dilancarkan pasukan Israel ke sebuah apartemen di Deir el-Balah, Gaza tengah, merenggut nyawa tiga anggota keluarga pada Rabu (15/7). Korban tewas terdiri dari seorang ayah, ibu, dan putri mereka yang baru berusia enam tahun.

Satu-satunya korban selamat dari tragedi tersebut adalah anak kedua pasangan itu. Tim Pertahanan Sipil Palestina bergegas ke lokasi untuk memadamkan kobaran api yang dipicu oleh ledakan serangan tersebut sebelum akhirnya berhasil mengevakuasi bocah yang selamat itu dari reruntuhan.

Peristiwa mematikan ini terjadi di tengah eskalasi serangan Israel di seluruh wilayah Gaza, yang secara konsisten melanggar kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat pada Oktober tahun lalu. Meski pertempuran darat mayoritas telah mereda, serangan udara hampir setiap hari terus menghantui warga sipil.

Militer Israel membenarkan pihaknya telah melakukan serangan di Deir el-Balah. Mereka mengklaim operasi tersebut menargetkan seorang pejuang Hamas. Klaim serupa kerap dilontarkan pihak Israel untuk membenarkan serangan di area padat penduduk, meski korban jiwa sipil, termasuk anak-anak, terus bertambah.

Di lokasi lain, serangan udara Israel juga menghantam pusat rehabilitasi di Kota Gaza serta sebuah taman di Khan Younis, Gaza selatan. Taman tersebut sedang digunakan sebagai tempat berteduh oleh ratusan keluarga pengungsian yang kehilangan rumah akibat perang berkepanjangan.

Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan dalam pembaruan harian bahwa setidaknya 12 jenazah dibawa ke rumah sakit, satu orang meninggal akibat luka parah, dan 18 lainnya terluka dalam serangan Israel selama periode 24 jam terakhir. Kondisi kesehatan di wilayah itu semakin kritis karena rumah sakit beroperasi dengan kapasitas sangat terbatas.

Bagi masyarakat Indonesia, tragedi kemanusiaan ini menguatkan posisi diplomatik Jakarta yang sejak awal konsisten mendukung kemerdekaan Palestina. Pemerintah dan berbagai organisasi sipil di Tanah Air telah berkali-kali mengirimkan bantuan kemanusiaan, namun akses masuk ke Gaza yang terblokade membuat distribusi obat-obatan dan logistik medis menghadapi hambatan masif.

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan 96 persen anak-anak di Gaza merasa kematian sudah di depan mata. Sejak gencatan senjata Oktober, serangan udara Israel telah menewaskan lebih dari 1.100 orang, termasuk 275 anak. Di sisi lain, empat tentara Israel juga dilaporkan tewas dalam periode yang sama.

"Anak-anak dibunuh setiap hari di Gaza, dan jika mereka selamat dari serangan udara, banyak yang meninggal karena luka akibat kekurangan pasokan medis serta rumah sakit yang beroperasi dengan kapasitas sangat berkurang," ujar jurnalis Al Jazeera, Hind Khoudary, yang melaporkan langsung dari Kota Gaza.

Skala kehancuran di wilayah tersebut tergolong luar biasa. Israel telah menjatuhkan sekitar 223.000 ton bahan peledak ke Gaza selama perang berlangsung. Jumlah itu 16 kali lipat lebih besar dibandingkan bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat di Hiroshima, Jepang, pada 1945, yang menyisakan reruntuhan dan jutaan warga mengungsi.

Konflik ini bermula pada Oktober 2023 ketika serangan yang dipimpin Hamas ke Israel selatan menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 240 warga. Respons militer Israel kemudian memicu perang yang telah menewaskan lebih dari 73.200 warga Palestina, termasuk 21.000 anak.

Prospek pengakhiran permanen permusuhan belum menemui titik terang. Pembicaraan untuk fase kedua gencatan senjata yang lebih sensitif, di mana Hamas diminta melepaskan senjata dan Israel harus menarik penuh pasukannya dari Gaza, saat ini mengalami kebuntuan total.

Mengapa Ini Penting

Berita ini menegaskan urgensi diplomasi Indonesia di forum internasional, seperti PBB, untuk terus menekan agar koridor kemanusiaan dibuka secara paksa mengingat akses bantuan saat ini terhambat. Bagi masyarakat luas di Tanah Air, eskalasi ini juga menjadi pengingat akan pentingnya literasi digital agar warga tidak terjebak dalam narasi propagandistik yang mempolarisasi konflik melalui media sosial. Di sisi ekonomi, ketidakstabilan geopolitik Timur Tengah berpotensi memperpanjang volatilitas harga energi global yang pada akhirnya berdampak pada inflasi domestik Indonesia. Kegagalan fase kedua gencatan senjata akan semakin mempertegas bahwa resolusi konflik bersenjata membutuhkan intervensi multilateral yang lebih dari sekadar mediasi bilateral.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit