Delapan serangan udara diluncurkan terhadap Pangkalan Udara Abu al-Duhur di Idlib, wilayah barat Laut Suriah, pada Selasa pagi. Serangan ini menyebabkan kerusakan pada landasan penerbangan, namun tidak ada laporan korban jiwa. Menurut sumber militer yang dikutip oleh televisi negara Suriah, serangan tersebut dilakukan oleh pesawat tempur Israel.
Ini adalah serangan pertama yang dilakukan terhadap pangkalan udara tersebut sejak jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada Desember 2024. Pangkalan udara ini pernah mengalami kerusakan besar selama konflik bersenjata yang berlangsung selama 14 tahun. Pasukan oposisi menguasai pangkalan ini pada 2015, namun pada 2019, pihak yang setia pada pemerintah Asy'araf berhasil merebut kembali. Namun, pangkalan ini tidak lagi beroperasi secara penuh akibat kerusakan yang dialami.
Latar belakang serangan ini terkait erat dengan strategi Israel untuk melemahkan kemampuan militer Suriah. Sejak kudeta yang menjatuhkan pemerintahan Asy'araf, Israel telah meningkatkan serangan-serangannya terhadap berbagai situs militer di Suriah. Menurut laporan dari Saraqib, Israel secara sistematis menghancurkan kemampuan udara Suriah hingga hampir punah. Dalam setiap enam bulan terakhir, upaya untuk membangun kembali kapasitas udara Suriah telah menjadi sasaran serangan berulang.
Dampak serangan ini tidak hanya terbatas pada Suriah, tetapi juga mencerminkan ketegangan yang lebih luas di wilayah Timur Tengah. Negara-negara yang mendukung rezim yang baru di Suriah mungkin akan menilai kembali kebijakan pertahanan mereka. Sementara itu, komunitas internasional akan memantau apakah serangan ini akan memicu eskalasi lebih lanjut.
Dari perspektif Indonesia, serangan ini menunjukkan betapa rapuhnya kondisi keamanan di wilayah yang seringkali menjadi sorotan global. Meskipun Indonesia tidak secara langsung terlibat dalam konflik ini, ketegangan yang ada dapat mempengaruhi kebijakan luar negeri dan keamanan maritim Indonesia, terutama di sektor perdagangan dan kepentanan kemanusiaan.
Sumber militer Suriah yang tidak diidentifikasi menyatakan bahwa serangan udara Israel bertujuan untuk merusak infrastruktur militer yang strategis. Menurut mereka, serangan ini adalah bagian dari kampanye yang lebih luas untuk mencegah pengembangan ulang kekuatan militer di wilayah yang terus berubah ini.
Analis keamanan regional mengamati bahwa serangan ini juga berfungsi sebagai sinyal bahwa Israel tidak akan mengakui keabsahan pemerintahan yang baru di Suriah. Dengan demikian, kebijakan agresif Israel di wilayah ini diharapkan akan terus berlanjut, terutama jika pemerintahan baru Suriah gagal mencapai konsensus nasional yang kuat.
Ke depan, para ahli memperkirakan bahwa serangan-serangan serupa akan terus terjadi, terutama jika Suriah gagal memperkuat pertahanan udaranya. Kampanye Israel untuk menjaga dominasi udara di wilayah ini kemungkinan akan bertahan, sementara upaya Suriah untuk memulihkan kemampuan militernya akan menghadapi tantangan yang semakin besar.
Sementara itu, pemerintah Suriah yang baru di bawah tekanan untuk menjawab serangan ini dengan cara yang tidak akan memicu konflik lebih lanjut. Mereka mungkin akan bergantung pada dukungan dari sekutu internasional untuk merestorasi kemampuan militer, namun hal ini akan menjadi tugas yang rumit mengingat dinamika politik yang terus berubah di wilayah tersebut.