Nasional

Siswa Sekolah Rakyat Sambut Seskab Teddy dengan Puisi Perjalanan dari Jalanan ke Kelas

Ringkasan

  • Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya dan Menteri Sosial Saifullah Yusuf menghadiri MPLS Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 di Tangerang, Sabtu (8/8), di mana siswa menampilkan puisi transformasi hidup dari pengamen jalanan jadi pelajar.

Suara tepuk tangan bergema memenuhi aula Gedung Politeknik Penerbangan Indonesia Curug, Banten, Sabtu (8/8) sore. Di atas panggung, puluhan siswa Sekolah Rakyat dari Jakarta dan Bekasi tampil percaya diri menyambut Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya bersama Menteri Sosial Saifullah Yusuf dan Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono. Acara itu menjadi bagian dari Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi angkatan baru Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 (SRT) Kabupaten Tangerang.

Puncak acara tiba saat Zahwa Anindita Fauzi, siswa Sekolah Rakyat 4 Jakarta, membawakan musicalisasi puisi berjudul "Dari Jalanan Menuju Harapan". Diiringi petikan gitar dan melodi "Pantaskah Surga Untukku", suara Zahwa mengantarkan hadirin ke perjalanan hidupnya. "Dulu jalanan adalah tempat kami mencari makan. Kini Sekolah Rakyat adalah tempat kami menjemput masa depan," ucapnya dengan mantap, mengundang tepuk tangan berulang dari orang tua dan calon siswa yang menghadiri prosesi.

Puisi itu bukan sekadar hiburan. Bait-baitnya mengungkap realitas keras yang pernah dialami anak-anak marginal. Dulu mereka bernyanyi di bawah lampu merah, di antara klakson dan debu, menengadahkan tangan untuk sesuap nasi. Sementara teman sebaya mereka berangkat sekolah membawa buku, mereka membawa gitar kecil berjalan dari satu kendaraan ke kendaraan lain. Hari ini, narasi itu berubah. Mereka tidak lagi bernyanyi untuk uang, melainkan untuk menyambut masa depan di bangku sekolah yang menyediakan tempat belajar, istirahat, makanan bergizi, guru yang peduli, dan teman sebaya.

Program Sekolah Rakyat merupakan salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto untuk menutup kesenjangan akses pendidikan. Letkol Teddy menegaskan, program ini ditujukan bagi anak-anak yang belum bersekolah, putus sekolah, atau tidak pernah sekolah sama sekali. "Sekolah Rakyat adalah cara Bapak Presiden Prabowo, gimana caranya seluruh anak-anak Indonesia dapat bersekolah," ujarnya di hadapan puluhan orang tua siswa. Data terbaru menunjukkan 43 ribu anak yang sebelumnya terpinggirkan kini sudah duduk di bangku Sekolah Rakyat se-Indonesia.

Pembiayaan program ini dibagi antara pusat dan daerah. Mensos Gus Ipul menjelaskan, pemerintah daerah bertanggung jawab menyediakan lahan, sementara pembangunan gedung permanen dibiayai APBN melalui Kementerian Pekerjaan Umum atas arahan Presiden. Skema kolaboratif ini dirancang agar program berkelanjutan dan tidak terbebani sepenuhnya pada anggaran pusat. Gus Ipul juga membagikan bukti nyata perubahan: siswa yang awalnya tidak lancar membaca bahasa Inggris, dalam setahun sudah fasih. Banyak yang awalnya buta huruf di kelas 1 SMA, kini sudah berprestasi.

Transformasi yang ditunjukkan para siswa bukan hanya soal kemampuan akademik. Rasa percaya diri yang tumbuh dalam waktu singkat menjadi indikator keberhasilan pendekatan holistik Sekolah Rakyat. Zahwa di puisinya bahkan menyebut Letkol Teddy sebagai "kakak" yang mengingatkan mereka untuk berani bermimpi. "Dari mana pun kita berasal, dengan disiplin, belajar, dan kerja keras, kami pun bisa berdiri tegak dan membanggakan Indonesia," bacanya, mengutip pesan Seskab yang jadi Duta Sekolah Rakyat.

Kebijakan tidak membeda-bedakan latar belakang dan kemampuan awal siswa menjadi fondasi program ini. Gus Ipul menegaskan, setiap siswa berharga di mata negara. Prinsip inklusif ini mencerminkan visi Presiden Prabowo yang ingin memastikan tidak ada anak Indonesia yang tertinggal karena kemiskinan. Pendidikan gratis berkualitas dengan fasilitas lengkap — asrama, makanan, sarana olahraga, hingga kurikulum internasional — dirancang setara dengan sekolah favorit swasta.

Di tengah euforia, tantangan nyata tetap ada. Skala program yang melibatkan 43 ribu siswa di tahun pertama membutuhkan manajemen logistik, tenaga pengajar berkualitas, dan pemeliharaan fasilitas yang konsisten. Kolaborasi dengan pemerintah daerah harus dijaga agar lahan dan dukungan operasional tidak terhambat birokrasi. Pengawasan masyarakat dan transparansi anggaran APBN akan jadi kunci kepercayaan publik jangka panjang.

Ke depan, keberhasilan Sekolah Rakyat akan diukur bukan hanya dari jumlah siswa terserap, tapi dari lulusan yang benar-benar keluar dari lingkaran kemiskinan. Integrasi dengan program kartu prakerja, beasiswa lanjutan, dan jejaring alumni perlu dirancang matang. Zahwa dan teman-temannya kini punya "tempat menjemput masa depan" — tapi masa depan itu harus didukung jalur lanjutan yang jelas ke pendidikan tinggi atau dunia kerja.

Acara di Curug itu sekadar cuplikan kecil dari gerakan besar. Di 43 ribu kisah lain di seluruh negeri, narasi serupa sedang ditulis: anak-anak yang dulu tak punya pilihan, kini punya pilihan. Puisi Zahwa mengingatkan, pendidikan bukan sekadar hak — tapi investasi negara pada generasi yang akan menentukan nasib bangsa. Dan negara, kali ini, memilih hadir di garis depan.

Mengapa Ini Penting

Sekolah Rakyat bukan sekadar program bantuan sosial, tapi upaya struktural memutus rantai kemiskinan intergenerasional lewat pendidikan berkualitas. Dengan 43 ribu anak terserap tahun pertama, program ini menguji kapasitas negara menyediakan layanan publik merata. Keberhasilannya akan jadi tolok ukur komitmen pemerintahan Prabowo dalam mewujudkan keadilan sosial nyata, bukan hanya jargon kampanye. Jika berlanjut, ini bisa jadi model reformasi pendidikan bagi negara berkembang lain yang menghadapi kesenjangan akses serupa.

Sumber Asli
CNN Indonesia Nasional
Tanggal
9 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit