Keir Starmer menutup masa jabatannya sebagai Perdana Menteri Inggris dengan sesi Pertanyaan Perdana Menteri (PMQs) terakhir di Gedung Parlemen, London. Suasana haru menyelimuti ruang sidang ketika Menteri Keuangan Rachel Reeves terlihat menahan tangis di bangku depan, sementara anggota parlemen Partai Buruh Carolyn Harris memuji ketulusan dan keberanian Starmer di hadapan rekan-rekannya.
Meski harus lengser dari kursi kekuasaan hanya dua tahun setelah memenangkan pemilu dengan mayoritas telak, Starmer tetap disambut sorak-sorai oleh kubu Partai Buruh saat memasuki ruang Commons. Sesi pamit tersebut berlangsung dengan nada yang jauh lebih santai dan penuh canda, berbeda dari debat parlemen yang kerap panas.
Kendati demikian, pengunduran diri Starmer merupakan dampak dari tekanan masif dari internal partainya sendiri. Ia akan secara resmi menyerahkan tampuk kepemimpinan pemerintahan kepada Andy Burnham pada Senin mendatang. Burnham, yang sebelumnya menjabat sebagai Wali Kota Greater Manchester, dipastikan menjadi pemimpin Partai Buruh usai konferensi khusus partai yang digelar pada Jumat.
Ketiadaan Burnham dalam sesi PMQs terakhir menarik perhatian, mengingat ia juga absen di semua sesi sejak kembali ke Parlemen bulan lalu. Kemi Badenoch, pemimpin oposisi dari Partai Konservatif, memilih untuk tidak menyerang rekam jejak Starmer. Sebaliknya, ia memuji komitmen perdana menteri yang keluar terhadap Ukraina serta persahabatannya dengan Presiden Volodymyr Zelensky.
Sikap Badenoch tersebut mencerminkan tradisi parlemen Inggris yang masih menjunjung etika politik meski berada di kubu berlawanan. Ed Davey dari Partai Liberal Demokrat turut menyebut Starmer sebagai seorang patriot sejati yang mampu bekerja sama melintasi fraksi di Dewan Rakyat. Hal ini menunjukkan bahwa polarisasi tidak selalu menghilangkan rasa saling menghargai antar elite politik.
Di sisi lain, bagi pembaca di Indonesia, dinamika pergantian kekuasaan di Inggris ini menawarkan cerminan tentang matangnya mekanisme demokrasi internal partai. Berbeda dengan tradisi politik di Tanah Air yang kerap sarat dengan konflik terbuka dan perebutan kursi yang mengarah pada perpecahan permanen, transisi di Westminster berjalan sesuai prosedur konstitusional. Keharuan di bangku parlemen menunjukkan bahwa ikatan kelembagaan tetap kuat meski ada pergantian figur.
Fenomena calon legislatif di Clacton juga relevan dengan perkembangan budaya politik digital di Indonesia. Nigel Farage mengundurkan diri memicu pemilihan sela yang diboikot partai utama karena dianggap sekadar pencitraan. Starmer bahkan menyarankan warga membuang suara mereka, sementara Ed Davey mendukung kandidat satir bernama Count Binface. Di Indonesia, kemunculan kandidat lucu atau akun parodi di media sosial kerap menjadi saluran kritik politik generasi muda terhadap elit yang dianggap tidak serius.
Boikot partai besar terhadap pemilihan sela di Clacton menunjukkan strategi komunikasi politik yang berbeda. Danny Kruger dari Reform UK membela kehadiran komedian ber-topeng tempat sampah tersebut sebagai pengganti yang layak. Bagi pengguna internet Indonesia, pola ini familiar: ruang digital kerap diisi oleh figur-figur satire yang mengekspos absennya solusi nyata dari partai arus utama.
Starmer menggunakan momen pamitnya untuk menyapa para tamu yang hadir di galeri, termasuk para aktivis yang pernah ia temui selama di Downing Street. "Untuk semua orang di galeri yang hidupnya berubah atau membaik karena pemerintahan Buruh ini, dan mereka di seluruh negeri yang berjuang untuk terlihat atau didengar, kalianlah alasan saya masuk politik," ujarnya. Pernyataan tersebut menutup sesi dengan nada personal yang menggetarkan.
Sesi tersebut sempat dibuka dengan nuansa kelam saat Starmer memberikan penghormatan terakhir bagi mantan anggota parlemen Ann Widdecombe. Ia menyebut "mencekam" kenyataan bahwa selama masa jabatannya, tiga anggota parlemen aktif atau mantan anggota telah kehilangan nyawa. Badenoch membalas dengan memuji Widdecombe sebagai sosok berprinsip tinggi dengan selera humor tajam.
Sementara itu, menjelang akhir acara, nuansa mencair berkat lelucon seputar Piala Dunia. PMQs berlangsung delapan jam sebelum semifinal Inggris melawan Argentina. Anggota parlemen Konservatif Graham Stuart bercanda bahwa Starmer mendapat kartu merah dari "400 wasit curang". Will Forster dari Liberal Demokrat meminta deklarasi libur nasional jika Inggris juara, yang dibalas Starmer dengan enggan mengundang nasib buruk.
Sebagai kenang-kenangan, kabinet mengumpulkan dana melalui Wakil Perdana Menteri David Lammy untuk membelikan Starmer jam dinding perak vintage buatan tahun 1920-an. Jam tersebut diproduksi oleh perusahaan yang membangun Big Ben dan diserahkan pada rapat kabinet terakhir Rabu pagi. Plak di atasnya bertuliskan "Perubahan dijanjikan, perubahan diperjuangkan, perubahan terwujud. Terima kasih Keir – Kabinet," menutup era singkat namun bersejarah bagi politik Inggris.