Pemerintah Taiwan melalui Dewan Urusan Daratan (MAC) melayangkan protes keras terhadap rencana latihan militer gabungan antara China dan Indonesia yang dijadwalkan berlangsung di perairan timur Taiwan pada pertengahan Agustus ini. Taipei menilai manuver militer tersebut sebagai bentuk provokasi yang sengaja dirancang untuk mengubah status quo di kawasan yang sensitif secara geopolitik.
Dalam pernyataan resminya pada Selasa (11/8), MAC menegaskan bahwa langkah Beijing melibatkan negara lain dalam latihan militernya di wilayah tersebut merupakan manipulasi politik. Taiwan memandang tindakan ini sebagai upaya China untuk menciptakan ilusi yurisdiksi internasional atas perairan timur Taiwan, sebuah klaim yang selama ini terus dibantah oleh Taipei.
Kementerian Luar Negeri Taiwan juga telah mengambil langkah diplomatik dengan meminta klarifikasi resmi dari Indonesia terkait keterlibatan kapal perang RI dalam latihan tersebut. Hingga saat ini, Kementerian Luar Negeri Indonesia belum memberikan tanggapan resmi mengenai permintaan klarifikasi dari otoritas Taiwan.
Secara historis, Indonesia memang tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Taiwan, mengikuti kebijakan sebagian besar negara di dunia. Namun, keterlibatan militer dalam latihan di dekat area sengketa tetap menjadi perhatian serius bagi Taipei yang tengah menghadapi tekanan militer yang meningkat dari China dalam beberapa bulan terakhir.
Wu Tien-jen, asisten wakil kepala staf umum bidang intelijen Taiwan, memberikan penjelasan teknis mengenai keberadaan kapal perang Indonesia. Menurutnya, kapal tersebut tidak secara khusus dikerahkan untuk berlatih bersama angkatan laut China, melainkan sedang dalam perjalanan kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan misi di Jepang.
Posisi kapal perang Indonesia yang berada sekitar 70 hingga 80 mil laut di lepas pantai timur Taiwan memang menempatkannya di area yang saat ini menjadi titik panas. Meski secara militer tidak memberikan dampak langsung terhadap keamanan Taiwan, manuver ini memiliki signifikansi geopolitik yang sangat tinggi di mata para pengamat.
Kementerian Pertahanan China menyatakan bahwa latihan tersebut akan difokuskan pada penguatan kemampuan operasi gabungan, termasuk komunikasi dan manajemen logistik di laut. Beijing berdalih bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menjaga perdamaian dan stabilitas regional, sebuah narasi yang kerap digunakan untuk meredam kekhawatiran negara-negara tetangga.
Namun, bagi Taiwan, kehadiran militer asing di dekat wilayahnya dalam latihan yang dipimpin China adalah alarm bahaya. Ketegangan di Selat Taiwan memang sedang memuncak, terutama setelah China meningkatkan intensitas patroli coast guard di wilayah tersebut sejak Juni lalu.
Langkah China mengundang militer asing untuk berlatih di area tersebut merupakan taktik yang tidak biasa. Selama ini, China cenderung membatasi latihan gabungan di dekat Taiwan untuk menghindari eskalasi yang lebih luas atau kritik keras dari Amerika Serikat dan sekutunya.
Di sisi lain, Taiwan baru saja menyelesaikan latihan perang tahunan 'Han Kuang' yang melibatkan simulasi pertahanan komprehensif, termasuk penanganan ancaman biologis dan nuklir. Latihan ini menjadi bukti bahwa Taipei terus bersiap menghadapi berbagai skenario terburuk dari ketegangan dengan China.
Ke depan, situasi di perairan timur Taiwan diperkirakan masih akan menjadi perhatian dunia internasional. Indonesia, sebagai negara yang memegang prinsip politik luar negeri bebas aktif, tentu akan menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan hubungan dengan China tanpa harus terseret dalam konflik regional yang semakin kompleks.
Analisis para pakar menunjukkan bahwa insiden kecil seperti latihan bersama ini dapat memicu persepsi yang salah di tingkat internasional. Oleh karena itu, diplomasi yang lebih transparan diperlukan agar posisi Indonesia tidak disalahartikan oleh pihak-pihak yang bertikai di kawasan Indo-Pasifik.