Aparat gabungan dari Ditresnarkoba Polda Metro Jaya, Bareskrim Polri, dan BNN melancarkan operasi penggerebekan narkoba berskala besar di Kampung Bahari, Jakarta Utara, Minggu (1/11). Dalam operasi yang dilakukan secara serempak dari berbagai sisi ini, petugas memilih menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL) sebagai sarana transportasi menuju lokasi target.
Penggunaan moda transportasi umum tersebut dilakukan untuk mengepung kawasan Kampung Bahari melalui jalur rel yang berbatasan langsung dengan area permukiman. Strategi ini terbukti efektif memberikan efek kejut bagi para pelaku penyalahgunaan narkoba yang kerap menjadikan kawasan tersebut sebagai basis peredaran barang haram.
VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menjelaskan bahwa perjalanan kereta luar biasa (KLB) dengan rute Jakarta Kota-Tanjung Priok pada pukul 06.25 WIB merupakan hasil koordinasi erat antara pihak kepolisian dengan operator KRL. Langkah ini diambil untuk memastikan mobilitas personel menuju lokasi penggerebekan dapat terlaksana tanpa hambatan berarti.
Meski koordinasi telah dilakukan, operasional KRL di jalur tersebut sempat terdampak. KAI Commuter mencatat adanya keterlambatan pada tiga perjalanan kereta dengan durasi antara 4 hingga 19 menit. Keterlambatan ini terjadi bukan karena kendala teknis kereta, melainkan akibat kerumunan warga yang memadati jalur rel saat proses penggerebekan berlangsung.
Kampung Bahari sendiri telah lama dikenal sebagai salah satu titik rawan peredaran narkoba di Jakarta. Upaya penindakan berulang kali dilakukan, namun karakteristik wilayah yang padat dan akses yang sulit kerap menjadi tantangan bagi aparat. Penggunaan jalur rel kereta sebagai akses masuk menunjukkan upaya inovatif kepolisian dalam menembus barikade yang mungkin disiapkan pelaku di jalan utama.
Dalam video yang viral di media sosial, terlihat puluhan personel kepolisian dengan perlengkapan lengkap, termasuk helm dan tameng, keluar dari gerbong kereta tepat di area Kampung Bahari. Aksi ini memicu perhatian publik karena jarang terjadi penggunaan angkutan massal untuk kepentingan operasi penegakan hukum taktis di lapangan.
Hasil dari operasi ini cukup signifikan. Sebanyak 27 orang berhasil diamankan petugas di lokasi. Mereka diduga kuat terlibat dalam jaringan peredaran narkoba yang beroperasi di wilayah tersebut. Pemeriksaan intensif kini tengah dilakukan oleh penyidik untuk mengungkap jejaring yang lebih luas.
Tidak hanya menangkap pelaku, tim gabungan juga menyita barang bukti dalam jumlah besar. Barang sitaan tersebut mencakup narkotika jenis sabu, ganja, hingga ekstasi. Selain itu, petugas menemukan mesin pencetak ekstasi, alat isap sabu (bong), senjata tajam, senjata api, serta uang tunai hasil transaksi narkoba.
Dirresnarkoba Polda Metro Jaya, Kombes Bismo Teguh Prakoso, menegaskan bahwa kolaborasi lintas instansi menjadi kunci keberhasilan operasi ini. Penggerebekan dilakukan secara serentak untuk mempersempit ruang gerak para pelaku agar tidak dapat melarikan diri saat petugas mulai bergerak dari berbagai penjuru, termasuk dari arah rel kereta.
Keberhasilan ini menjadi catatan penting bagi kepolisian dalam memetakan kembali strategi pemberantasan narkoba di kawasan padat penduduk. Penggunaan moda transportasi publik untuk operasi intelijen atau penindakan, meski efektif, tetap harus mempertimbangkan kenyamanan dan keselamatan penumpang umum lainnya agar tidak terjadi disrupsi layanan yang berkepanjangan.
Ke depannya, pihak kepolisian diprediksi akan terus melakukan pengawasan ketat di Kampung Bahari guna mencegah kawasan tersebut kembali menjadi zona nyaman bagi sindikat narkoba. Sinergi antara penegak hukum dan operator transportasi publik diharapkan tetap terjaga, namun dengan perencanaan yang lebih matang agar dampak terhadap operasional publik dapat diminimalisir.
Langkah tegas ini menegaskan komitmen pemerintah dalam memerangi narkotika di Jakarta. Publik berharap agar penindakan tidak hanya berhenti pada penangkapan pelaku lapangan, melainkan mampu menyentuh aktor intelektual di balik peredaran narkoba yang selama ini meresahkan warga.