Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) resmi meluncurkan inisiatif strategis bertajuk SMK Go Global guna menggenjot penempatan tenaga kerja terampil ke luar negeri. Program yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto ini menargetkan penempatan 40.000 calon pekerja migran Indonesia (CPMI) pada tahun 2026. Langkah ini diambil sebagai upaya konkret pemerintah dalam memperluas peluang kerja internasional sekaligus menekan angka pengangguran di dalam negeri.
Menteri P2MI, Mukhtarudin, dalam rapat kerja bersama Komite III DPD RI di Jakarta, menegaskan bahwa target penempatan ini akan dilaksanakan secara bertahap sepanjang periode 2026 hingga 2029. Pemerintah memproyeksikan lonjakan target yang signifikan, yakni mencapai 140 ribu CPMI pada 2027, 180 ribu CPMI pada 2028, dan ditutup dengan target 140 ribu CPMI pada 2029. Inisiatif ini merupakan bagian dari visi besar untuk menyiapkan 500 ribu tenaga kerja siap pakai bagi pasar global.
Rapat kerja tersebut tidak hanya membahas kuantitas penempatan, tetapi juga fokus pada pengawasan implementasi Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia. Pemerintah berkomitmen menata ekosistem penempatan yang lebih aman, transparan, dan akuntabel. Agenda ini mencakup penguatan ekosistem pelindungan dari hulu ke hilir, implementasi kebijakan lintas kementerian, serta program pelindungan hak anak dari purna pekerja migran.
Untuk mencapai tujuan tersebut, KP2MI mengadopsi pendekatan holistik yang mencakup fase sebelum keberangkatan, selama masa kerja di negara penempatan, hingga kepulangan pekerja ke tanah air. Peningkatan kesiapan kompetensi dan mental menjadi pilar utama, didukung oleh penguatan kerja sama bilateral dengan negara-negara mitra strategis serta optimalisasi peran Atase Ketenagakerjaan di luar negeri.
Selain aspek teknis penempatan, pemerintah juga memberikan perhatian serius pada pemberdayaan purna-pekerja migran Indonesia. Mukhtarudin menekankan bahwa pemberdayaan ini diwujudkan melalui integrasi program sosial yang matang, yang meliputi program reintegrasi sosial, rehabilitasi, literasi keuangan yang sehat, hingga pengembangan kewirausahaan mandiri agar para purna-pekerja dapat mandiri secara ekonomi.
Melalui program Quick Win SMK Go Global, pemerintah berharap dapat meningkatkan nilai tawar tenaga kerja Indonesia di pasar internasional. Dengan membekali lulusan SMK melalui keahlian yang relevan dengan kebutuhan global, Indonesia tidak hanya sekadar mengirimkan tenaga kerja, tetapi juga meningkatkan martabat dan kesejahteraan pekerja migran Indonesia secara berkelanjutan.