Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam menegaskan bahwa integrasi ekonomi yang makin erat dengan Malaysia akan membawa kerugian bagi sebagian pelaku usaha di negaranya. Pernyataan tersebut disampaikan di Kuala Lumpur pada 15 Juli 2026, tepat setelah ia menuntaskan kunjungan kenegaraan selama empat hari ke Malaysia.
Menurut Tharman, penetapan Johor-Singapore Special Economic Zone (JS-SEZ) pada 2025 dan penyelesaian jalur kereta RTS Link yang dijadwalkan beroperasi Januari 2027 bakal memperkuat komplementaritas ekonomi kedua negara. Namun, ia mengakui sektor jasa tertentu di Singapura akan kehilangan pangsa pasar seiring semakin mudahnya pergerakan modal dan tenaga kerja ke Johor Bahru.
Langkah penguatan kerja sama ini bukan sekadar respons atas dinamika bilateral yang sudah berakar sejak dekade lalu. JS-SEZ dirancang untuk mempermudah aliran investasi, talenta, dan aktivitas bisnis lintas batas antara Singapura dan Johor. Sementara itu, RTS Link akan menghubungkan Woodlands dengan Johor Bahru, mengurangi kemacetan di Jalur Tambang dan mempercepat mobilitas harian puluhan ribu pekerja.
Di balik inisiatif fisik tersebut, terdapat visi lebih luas mengenai peran ASEAN sebagai panggung pengembangan energi hijau dan daya pemrosesan data. Tharman menyoroti kebutuhan bersama untuk membangun pusat energi terbarukan guna menyokong operasional pusat data di Malaysia. Kerja sama regional dinilai krusial untuk menghadapi fragmentasi global yang makin tajam.
Kedua negara juga sejalan dalam pandangan mengenai hukum laut internasional dan pengelolaan Selat Malaka serta Selat Singapura. Mereka berkomitmen menjaga prinsip transit aman tanpa tol atau biaya tambahan, serta terus bekerja dengan Indonesia sebagai negara pesisir ketiga. Kesamaan sikap terhadap pasar terbuka dan penolakan terseret ke blok geopolitik tertentu menjadi fondasi kuat hubungan tersebut.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka catatan penting terkait integrasi ekonomi kawasan. Sebagai negara pesisir yang ikut mengelola selat strategis, Jakarta telah lama berbagi kepentingan navigasi dengan Singapura dan Malaysia. Model JS-SEZ mengingatkan pada upaya serupa di Batam dan kawasan perdagangan bebas lainnya, meski tingkat integrasi lintas batas di sana belum setara.
Penguatan Johor-Singapura berpotensi mengalihkan arus investasi yang sebelumnya melirik Indonesia sebagai tujuan relokasi pabrik. Namun, di sisi lain, peluang muncul bagi pengusaha lokal untuk berperan dalam rantai pasok hijau, mengingat kebutuhan energi bersih di pusat data regional. Indonesia memiliki sumber daya matahari dan air yang bisa dipasok, asalkan infrastruktur penunjang tersedia.
Pendekatan menguntungkan bersama meski ada pihak yang rugi dari Tharman menawarkan pelajaran matang bagi pengambil kebijakan di Tanah Air. Kerja sama bilateral seringkali menimbulkan kecemburuan sektoral, namun perspektif jangka panjang dapat meredam gesekan. Indonesia pun dapat mengadopsi pola pikir serupa saat merancang zona ekonomi bersama dengan negara tetangga.
Dalam menghubungkan lebih erat dengan Johor melalui Zona Ekonomi Khusus dan RTS Link, akan ada sejumlah bisnis di Singapura, terutama sektor jasa, yang kalah, ujar Tharman kepada wartawan. Namun yang lain akan untung, dan secara keseluruhan kedua negara menjadi pemenang. Ia menekankan perlunya cara berpikir dewasa dalam hubungan bilateral.
Tharman juga menyoroti pentingnya merangkul generasi muda. Tak ada yang menggantikan pengalaman hidup, belajar, dan bergaul dalam waktu lama untuk membangun persahabatan abadi serta pemahaman yang mendalam, katanya. Ia mengusulkan pertukaran pelajar, magang, dan program kewirausahaan lintas Causeway diperluas, meski butuh penyesuaian kredit akademik.
Ke depan, operasional RTS Link pada Januari 2027 akan menjadi uji coba nyata kelancaran mobilitas regional. Singapura juga akan memegang kepemimpinan ASEAN pada 2027, sehingga kesepakatan hijau dan digital dengan Malaysia diproyeksikan mendominasi agenda blok tersebut. Pertemuan Tharman dengan Sultan Selangor dan kepala menteri setempat menunjukkan keterlibatan level negara bagian turut dirawat.
Investasi perusahaan Singapura seperti SIA Engineering yang membuka fasilitas perawatan pesawat di Subang menjadi bukti nyata arus modal terus berjalan. Kolaborasi seni budaya juga digagas agar tradisi yang sama mendapat daya tarik baru di kalangan anak muda. Integrasi yang matang, bukan sekadar pertumbuhan angka, menjadi kata kunci hubungan Singapura-Malaysia masa depan.