TNI Angkatan Darat menggelar program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) di Desa Mekarmukti, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur, sejak Rabu (15/7) untuk memperbaiki infrastruktur pedesaan. Kegiatan lintas sektoral bersama Pemerintah Kabupaten Cianjur itu menyasar jalan, air bersih, rumah warga, hingga lahan ketahanan pangan guna menopang roda ekonomi lokal.
Kepala Staf Komando Resor Militer 061/Surya Kancana, Kolonel Inf. Yudi Ruskandar, menyatakan TMMD menjadi wujud sinergi antara Kodim 0608/Cianjur dan pemda setempat. Tujuannya tunggal: mempercepat pembangunan wilayah agar kesejahteraan masyarakat terangkat. Program ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan upaya menyambungkan desa dengan peluang ekonomi yang selama ini terkendala akses buruk.
Cianjur termasuk daerah dengan tantangan geografis cukup berat. Sebagian besar kecamatan di pedalaman masih bergantung pada jalan tanah dan air sumur tradisional. Keterbatasan itu membuat biaya logistik tinggi dan hasil tani sulit dipasarkan tepat waktu. TMMD hadir sebagai jembatan karena kemampuan personel TNI dalam mobilisasi cepat dan alat berat ringan.
Program TMMD sendiri lahir dari cetak biru pembangunan teritorial TNI sejak era Orde Baru. Namun dalam dua dekade terakhir, fokusnya bergeser dari keamanan murni ke pemberdayaan masyarakat. Desa yang sebelumnya tertinggal secara akses kini mendapat intervensi terukur tiap semester. Cianjur kerap jadi prioritas lantaran risiko bencana dan disparitas desa-kota yang lebar.
Dampak nyata dari TMMD kali ini terlihat pada target fisik yang spesifik. Personel TNI akan melakukan betonisasi jalan sepanjang 872 meter dan pengaspalan 90 meter. Angka tersebut cukup untuk menghubungkan sentra produksi warga ke jalan kabupaten. Tanpa perbaikan ini, hasil kebun kerap rusak sebelum tiba di pasar induk.
Selain jalan, lima unit rumah tidak layak huni akan direnovasi. Hal ini krusial karena hunian tak layak memperbesar risiko kesehatan saat musim hujan. TNI juga membangun lima titik air bersih sebagai bagian dari program unggulan ketersediaan sumber hidup. Air menjadi variabel penting mengingat kekeringan kerap melanda Cibinong di musim kemarau.
Satu hektar lahan akan dikelola menjadi lumbung pangan dengan tanaman jagung manis dan jenis tanaman lain. Lahan itu dikerjakan langsung oleh TNI, namun hasil panen dimanfaatkan warga. Model ini menekan ketergantungan pangan impor lokal dan memberi cadangan darurat jika pasokan terganggu.
Bagi industri pengolahan pangan skala mikro di Jawa Barat, akses jalan yang lebih baik berarti penurunan biaya transportasi. Pelaku UMKM desa bisa mengirim produk tanpa perantara banyak. Efek berantai dari infrastruktur sederhana seperti ini sering kali luput dari sorotan, padahal ia pengungkit utama perputaran uang desa.
Yudi Ruskandar menegaskan kolaborasi dengan pemda akan terus berlanjut agar proses pembangunan tak berhenti di penutupan TMMD. Ia berharap aktivitas warga semakin mudah sehingga ekonomi lokal bergairah. Harapan itu realistis bila pemeliharaan pasca-program dianggarkan pemda secara rutin.
Pola TMMD di Cianjur sejalan dengan arahan Wakasad sebelumnya yang meminta TMMD 2023 diarahkan untuk perbaikan infrastruktur pasca-bencana. Meski program berbasis militer, pendekatannya sipil dan partisipatif. Masyarakat dilibatkan sejak perencanaan agar kebutuhan riil tertampung.
Ke depan, keberlanjutan TMMD akan bergantung pada transfer pengetahuan kepada warga. Jalan beton dan titik air tak akan awet bila tak ada kader desa yang merawat. Pemerintah daerah perlu menyiapkan skema padat karya lanjutan agar momentum ini tak hilang usai personel TNI ditarik.
Tren pembangunan desa lewat kekuatan teritorial seperti ini diprediksi makin relevan seiring desentralisasi. Daerah dengan APBD terbatas butuh kolaborator cepat seperti TNI. Cianjur bisa jadi model replikasi bagi kabupaten lain di Priangan yang memiliki profil serupa.