TNI Angkatan Udara (TNI AU) terus mengerahkan armada pesawat militer untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan ke wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diguncang gempa bumi magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026. Sejak hari bencana hingga Kamis (20/8), Posko Bencana Alam Lanud Halim Perdanakusuma telah memproses 707 ton logistik dan berhasil mengantarkan 293 ton di antaranya ke posko-posko penanganan di lapangan.
Khusus pada Kamis, TNI AU mengirimkan 42 ton bantuan dalam sekali operasi penerbangan. Armada yang dikerahkan meliputi satu unit Airbus A400M dan dua unit Boeing 737 yang beroperasi dari Jakarta menuju dua titik masuk utama: Bandara Labuan Bajo dan Bandara Maumere. Dari kedua bandara tersebut, bantuan didistribusikan ke daerah-daerah terpencil menggunakan jalur darat, helikopter, serta pesawat kecil milik TNI AU.
Gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores pada Sabtu lalu (15/8) memicu kerusakan masif pada infrastruktur dan hunian warga. Gempa susulan yang berkelanjutan memperparah situasi, memaksa puluhan ribu warga mengungsi ke titik-titik pengungsian yang tersebar di sejumlah kabupaten. Kondisi medan yang sulit dan cuaca tidak menentu menjadi tantangan tersendiri bagi tim penanggulangan bencana.
Menurut data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 20 Agustus pukul 16.00 WIB, korban meninggal dunia telah mencapai 75 jiwa — bertambah empat orang dari data sebelumnya. Penambahan korban jiwa berasal dari Kabupaten Sikka (dua orang), Manggarai (satu orang), dan Nagekeo (satu orang). Korban luka-luka juga meningkat menjadi 907 orang, dengan sembilan kasus baru dari Kabupaten Ngada.
Jumlah pengungsi mencatat lonjakan signifikan seiring berlangsungnya gempa susulan. Kabupaten Nagekeo mencatat peningkatan terbanyak dengan 21.883 jiwa pengungsi baru, diikuti Manggarai (9.649 jiwa) dan Manggarai Barat (1.556 jiwa). Total pengungsi saat ini mencapai 92.375 jiwa yang tersebar di berbagai titik pengungsian darurat.
Bantuan yang disalurkan mencakup kebutuhan pokok, makanan siap saji, tenda, selimut, serta obat-obatan. Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsma TNI Ali Gusman menegaskan penyaluran akan berlanjut selama dibutuhkan. "Kami siap mengerahkan kapasitas penuh untuk mendukung penanganan bencana dan memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak," ujarnya.
Di sisi lain, BNPB melalui Pos Pendukung Logistik Nasional di Halim Perdanakusuma mencatat total distribusi bantuan dari 15 hingga 20 Agustus sebesar 729 ton. Bantuan tersebut bersumber dari Dana Siap Pakai (DSP), anggaran BNPB, serta donasi masyarakat. Komposisi bantuan meliputi paket sembako, mie instan, obat-obatan, tenda, matras, selimut, kasur, hingga genset untuk kebutuhan listrik di lokasi pengungsian.
Operasi pengiriman udara ini menjadi jalur utama mengingat keterbatasan akses darat ke sejumlah wilayah terisolir. Angin kencang sempat menghambat operasi helikopter menurunkan bantuan ke desa-desa terpencil beberapa hari lalu. Namun, dengan kombinasi pesawat besar untuk rute Jakarta-NTT dan pesawat kecil serta helikopter untuk distribusi akhir, aliran bantuan mulai stabil.
Kesiapan TNI AU dalam mengoperasikan Airbus A400M — pesawat angkut taktis modern dengan kemampuan mendarat di landasan pendek dan tidak bersapu — terbukti krusial. Kapasitas muat besar dan performa landasan pendek memungkinkan pengiriman volume logistik signifikan ke bandara-bandara regional seperti Labuan Bajo dan Maumere yang memiliki fasilitas terbatas.
Tantangan ke depan bukan hanya soal volume bantuan, tapi efisiensi distribusi hingga ke tangan warga. Koordinasi antara TNI AU, BNPB, BPBD kabupaten/kota, dan organisasi kemanusiaan menjadi kunci agar bantuan tidak macet di titik-titik transit. Pengelolaan data pengungsi yang akurat dan real-time juga diperlukan untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
Pemulihan jangka panjang akan menuntut lebih dari bantuan darurat. Rehabilitasi hunian, restorasi infrastruktur dasar, serta penanganan trauma psikologis warga — terutama anak-anak — harus direncanakan sejak kini. Pengalaman bencana gempa Lombok 2018 dan Cianjur 2022 menunjukkan bahwa fase transisi dari darurat ke pemulihan sering kali menjadi titik lemah dalam manajemen bencana nasional.
Sementara itu, kegempaan susulan yang terus tercatat oleh BMKG menandakan aktivitas tektonik di wilayah Flores dan sekitarnya masih tinggi. Masyarakat diminta tetap waspada, mengikuti arahan petugas, dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi tidak terverifikasi. Mitigasi bencana berbasis komunitas dan penguatan struktur bangunan tahan gempa harus jadi prioritas pembangunan jangka menengah di NTT.