Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan serangan terhadap Iran akan meningkat dalam beberapa hari ke depan jika Teheran menolak kembali ke meja perundingan. Dalam wawancara dengan Fox News pada Selasa, Trump menyatakan pasukan AS akan terus menghantam berbagai sasaran di Iran hingga ia memutuskan untuk menghentikannya. "Kami menghantam mereka dengan sangat keras. Kami menghantam setiap sasaran yang mereka miliki di sepanjang pesisir... Serangan akan terus berlanjut sampai saya mengatakan sudah cukup," kata Trump.
Trump menambahkan bahwa sektor energi belum menjadi prioritas, tetapi pada akhirnya juga akan diserang. "Saya akan menyimpan sasaran energi untuk tahap terakhir, tetapi pada akhirnya kami akan menyerang fasilitas energi," ujarnya. Ancamannya tidak berhenti di situ; ia juga mengancam akan meningkatkan intensitas serangan mulai pekan depan dengan menyasar pembangkit listrik dan jembatan di Iran apabila Teheran tetap menolak berunding. "Malam ini kami akan menyerang mereka dengan sangat keras. Besok malam juga demikian. Malam berikutnya juga. Pekan depan keadaan akan menjadi jauh lebih buruk bagi mereka karena kami akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan mereka, kecuali mereka kembali ke meja perundingan," katanya.
Pernyataan Trump disampaikan setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan pasukan Amerika kembali melancarkan serangan terhadap Iran untuk melemahkan kemampuan Teheran menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. CENTCOM kemudian menyatakan Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade laut terhadap Iran dengan mengerahkan lebih dari 20 kapal perang Angkatan Laut AS dan ratusan pesawat militer di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat dalam beberapa hari terakhir di tengah saling serang yang terus berlanjut meski kedua negara sebelumnya menyepakati nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan untuk mengakhiri konflik. Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Selasa mengeklaim telah menghancurkan sejumlah persenjataan dan pesawat nirawak milik Amerika Serikat dalam serangan di Bahrain dan Kuwait.
Bagi Indonesia, eskalasi ini membawa kekhawatiran tersendiri. Indonesia sangat bergantung pada Selat Hormuz sebagai jalur utama impor minyak dan gas alam cair, selain rute alternatif melalui Selat Malaka. Gangguan terhadap lalu lintas maritim di selat tersebut dapat mengganggu pasokan energi dalam negeri dan meningkatkan biaya logistik. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia akibat konflik dapat memicu inflasi dan membebani anggaran subsidi energi Indonesia.
Dari sisi ekonomi makro, ketidakstabilan di Timur Tengah selalu berdampak pada fluktuasi harga minyak global. Ketika harga minyak naik, Indonesia sebagai importir bersih harus mengalokasikan dana lebih besar untuk subsidi bahan bakar, yang pada gilirannya dapat menekan anggaran negara untuk sektor-sektor lain seperti pendidikan dan kesehatan. Di sisi lain, kenaikan harga minyak juga dapat memacu pemerintah untuk mempercepat transisi energi dan mengembangkan sumber energi alternatif dalam negeri.
Secara regional, ketegangan ini menguji ketahanan keamanan maritim ASEAN. Negara-negara anggota ASEAN, termasuk Indonesia, berupaya menjaga kebebasan navigasi di perairan internasional, namun mereka juga harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam persaingan great power antara AS dan Iran. Indonesia dapat memainkan peran sebagai mediator atau penyeimbang, menggunakan posisinya di ASEAN untuk mendorong dialog dan mengurangi eskalasi.
Trump mengaku yakin Iran tidak memiliki pilihan selain mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat. Ia menambahkan bahwa pejabat kedua negara masih berkomunikasi hingga sekitar satu jam sebelum wawancara berlangsung. "Mereka ingin membuat kesepakatan... Lebih baik mereka melakukannya. Jika tidak, tidak akan ada yang tersisa," ujar Trump. Mengenai Selat Hormuz, Trump mengatakan Amerika Serikat ingin jalur pelayaran tersebut tetap terbuka bagi lalu lintas internasional. "Saya sempat ingin mengenakan biaya, tetapi mereka (negara-negara Teluk) lebih memilih membelanjakan lebih banyak uang di Amerika Serikat. Menurut saya itu lebih baik karena saya tidak menyukai gagasan mengenakan biaya. Selat itu harus tetap bebas," katanya.
Trump juga menegaskan bahwa tekanan militer merupakan satu-satunya cara untuk membawa Iran ke meja perundingan. "Satu-satunya cara berunding dengan mereka adalah melalui kekuatan, dan satu-satunya kekuatan itu adalah kekuatan militer. Itulah yang kami lakukan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa kedua pihak sebenarnya hampir mencapai kesepakatan dua hari sebelumnya, namun menurutnya Iran membatalkannya pada saat-saat terakhir.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya diversifikasi jalur pasokan energi dan penguatan pertahanan maritim. Upaya untuk mengurangi ketergantungan pada satu jalur pelayaran kritis, seperti Hormuz, dapat dilakukan melalui peningkatan kapasitas penyimpanan bahan bakar strategis, pengembangan jaringan pipa dalam negeri, serta penguatan armada laut nasional. Selain itu, pemerintah perlu memantau dinamika harga minyak global dan merancang kebijakan yang responsif untuk melindungi ekonomi domestik dari guncangan eksternal.
Ke depan, dunia akan menyaksikan apakah tekanan militer Trump berhasil memaksa Iran kembali bernegosiasi atau justru memperdalam konflik. Bagi Indonesia, perkembangan ini memerlukan kewaspadaan tinggi, terutama dalam menjaga stabilitas harga bahan bakar dan keamanan jalur laut yang menjadi tulang punggung perdagangan dan energi nasional.