Trump menekan Netanyahu untuk menarik pasukan Israel dari Suriah dan Lebanon dalam percakapan telepon pekan lalu, dengan alasan penolakan lokal dan risiko eskalasi lebih lanjut.
Percakapan tersebut terjadi setelah Trump bertemu dengan Presiden Suriah Ahmed al‑Sharaa, seorang mantan pemberontak yang kini memimpin pemerintahan transisi. Pejabat AS mengatakan Trump told Netanyahu, “Mereka tidak menginginkan Anda di sana. Pasukan Anda harus dipindahkan,” menurut laporan Axios.
Axios juga melaporkan permintaan serupa terkait Lebanon, di mana Israel dan Hezbollah telah terlibat dalam konflik berkepanjangan. Sikap Trump mencerminkan upaya de‑eskalasi yang lebih luas di kawasan.
Sementara itu, perundingan damai terpisah antara Lebanon dan Israel dilanjutkan di Kedutaan Besar AS di Roma. Perwakilan Israel menyatakan kesiapan untuk menerapkan rencana penarikan pasukan dari selatan Lebanon sesuai kesepakatan yang ada.
Seorang pejabat AS yang terlibat dalam pembicaraan tersebut menggambarkan diskusi sebagai “positif” dan berfokus pada penerapan kerangka kerja yang bertujuan mengakhiri perang di Lebanon. Kedua belah pihak menyatakan keinginan untuk melanjutkan proses dengan cepat, meskipun jadwal pastinya masih belum pasti.
Sumber diplomatik Lebanon mengatakan angkatan bersenjata negara itu sudah siap mengambil alih wilayah yang akan ditinggalkan pasukan Israel. “Tentara Lebanon siap secara bertahap mengambil alih wilayah-wilayah yang akan ditinggalkan oleh tentara Israel,” kata sumber tersebut, dikutip AFP.
Dorongan penarikan pasukan datang pada momen kritis bagi keamanan regional. Suriah di bawah kepemimpinan baru berusaha mengkonsolidasikan kekuasaan setelah bertahun-tahun perang saudara, sementara Lebanon menghadapi fragmentasi politik dan keberadaan kelompok bersenjata.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi diplomatik dan strategis. Jakarta menerapkan kebijakan netral dalam sengketa Israel‑Palestina, tetapi terus memantau pergeseran dinamika di Timur Tengah yang dapat memengaruhi pasar energi global dan keamanan maritim di Samudra Hindia.
Industri pertahanan Indonesia, yang masih berkembang, dapat belajar dari teknologi kontra-pemberontakan dan sistem pengawasan Israel. Kerjasama atau transfer teknologi mungkin dipertimbangkan jika stabilitas regional membaik.
Selain itu, pengurangan aktivitas militer Israel di dekat Suriah dan Lebanon dapat meringankan tekanan pada pekerja dan bisnis Indonesia yang beroperasi di kawasan Teluk. Eskalasi yang lebih sedikit umumnya berarti rute perdagangan dan iklim investasi yang lebih dapat diprediksi.
Analis juga mencatat bahwa pendekatan langsung Trump terhadap pemimpin regional menandakan kemungkinan pergeseran menuju diplomasi unilateral AS. Hal ini dapat memengaruhi cara negara-negara emerging seperti Indonesia berinteraksi dengan Amerika Serikat dalam isu-isu multilateral.
Langkah selanjutnya bergantung pada kepatuhan Israel dan kemampuan otoritas Lebanon dan Suriah untuk mengisi kekosongan keamanan. Jika berhasil, penarikan pasukan dapat menjadi preseden bagi de‑eskalasi di tempat lain, menguntungkan stabilitas global dan kepentingan strategis Indonesia.