Internasional

Trump Setujui Serangan Saudi ke Bandara Sanaa Sebelum Pimpinan Houthi Tiba

Ringkasan

  • Presiden AS Donald Trump menyetujui serangan udara Arab Saudi ke Bandara Sanaa, Yaman, pada 13 Juli 2026.
  • Persetujuan itu diberikan lewat sambungan telepon sebelum pesawat pembawa pimpinan Houthi tiba.

Washington memberikan lampu hijau kepada Riyadh untuk melancarkan agresi militer di wilayah Yaman. Laporan yang dikeluarkan oleh media Axios pada Selasa, 14 Juli 2026, mengungkap bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara langsung mengizinkan operasi udara Arab Saudi ke Bandara Sanaa. Persetujuan tersebut bukan sekadar dukungan normatif, melainkan diberikan melalui panggilan telepon langsung antara Trump dan pihak Kerajaan Saudi menjelang eksekusi serangan.

Insiden tersebut terjadi pada Senin, 13 Juli 2026, ketika tiga serangan udara menghantam landasan dan fasilitas Bandara Sanaa. Ibukota Yaman tersebut saat ini berada di bawah kendali kelompok Syiah Houthi, yang juga dikenal dengan gerakan Ansar Allah. Serangan dilancarkan tepat sebelum kedatangan sebuah pesawat dari Iran yang membawa para pemimpin Houthi. Pesawat tersebut akhirnya dialihkan dan mendarat di wilayah Yaman bagian barat daya.

Ketegangan antara Saudi dan Houthi bukanlah peristiwa baru. Sejak intervensi militer dipimpin Saudi di Yaman pada 2015, konflik bersenjata terus berkecamuk di Semenanjung Arab tersebut. Riyadh menuduh Iran memasok senjata dan dukungan logistik kepada Houthi, yang dianggap mengancam keamanan perbatasan utara Saudi. Bandara Sanaa sendiri menjadi titik strategis karena sering digunakan untuk distribusi bantuan kemanusiaan sekaligus jalur masuk pergerakan elit kelompok bersenjata.

Menurut laporan yang dikutip dari kantor berita Rusia RIA Novosti, sumber di Yaman membenarkan bahwa tiga ledakan dahsyat mengguncang bandara sesaat sebelum pesawat dari Tehran tiba. Upaya untuk melumpuhkan infrastruktur penerbangan di Sanaa menunjukkan eskalasi taktik militer yang tidak lagi hanya menyasar instalasi militer, tetapi juga fasilitas sipil yang berpotensi digunakan lawan.

Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, melalui Kementerian Pertahanan mereka, secara terbuka mengklaim bertanggung jawab atas operasi udara tersebut. Di sisi lain, kelompok Houthi dengan tegas menuding Arab Saudi sebagai pihak yang menjatuhkan bom. Klaim saling bertentangan ini mencerminkan kompleksitas propaganda perang yang kerap menyelimuti konflik di Timur Tengah, di mana aktor di balik serangan sering kali disamarkan untuk menekan eskalasi diplomatik langsung.

Bagi masyarakat global, termasuk Indonesia, eskalasi militer ini membawa kekhawatiran atas nasib jalur diplomasi di kawasan Timur Tengah. Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki kepentingan moral dan kemanusiaan terhadap stabilitas Yaman. Posisi politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif menuntut Jakarta untuk terus mendorong gencatan senjata alih-alih membiarkan kekuatan besar mendikte konflik regional.

Dampak langsung dari serangan ini juga dirasakan oleh sektor penerbangan sipil dan kemanusiaan. Penutupan atau kerusakan pada Bandara Sanaa akan mempersulit masuknya bantuan medis dan pangan bagi jutaan warga Yaman yang sudah berada di ambang kelaparan. Penggunaan ruang udara untuk kepentingan militer oleh kekuatan asing menunjukkan betapa rentannya infrastruktur kritis ketika terjebak dalam pusaran perang proksi antara Amerika, Iran, dan sekutunya.

Dibandingkan dengan situasi di Asia Tenggara, di mana konflik diselesaikan lebih banyak melalui meja perundingan seperti yang diterapkan ASEAN, intervensi langsung Washington dalam rencana serangan Saudi menunjukkan pola kekuasaan yang berbeda. Hal ini menjadi pengingat bagi negara berkembang akan pentingnya kedaulatan udara dan kemandirian pertahanan, mengingat keputusan di luar negeri dapat dengan mudah mengubah dinamika keamanan regional.

Salah satu reaksi keras datang dari internal kelompok Houthi. Mohammed al-Farah, anggota biro politik gerakan Ansar Allah, menegaskan bahwa Amerika Serikat adalah pihak yang mendorong Arab Saudi menuju perang terbuka melawan kelompoknya. Pernyataan tersebut sejalan dengan temuan Axios yang menyebut Trump secara spesifik menyetujui operasi Riyadh selama percakapan telepon dengan pihak Saudi.

Laporan Axios yang mengutip pejabat AS tersebut menjadi catatan penting bahwa Gedung Putih di bawah kepemimpinan Trump tidak ragu untuk terlibat langsung dalam operasi militer luar negeri, asalkan sejalan dengan kepentingan strategis sekutu utamanya di Teluk. Keterlibatan ini mempertegas kembali doktrin keamanan Timur Tengah yang berpusat pada perlindungan terhadap Saudi.

Ke depan, serangan di Bandara Sanaa diprediksi akan memicu balasan dari pihak Houthi, baik melalui serangan rudal ke wilayah Saudi maupun penutupan selat strategis di Laut Merah. Eskalasi timbal balik ini berisiko memperpanjang perang saudara yang sudah berlangsung lebih dari satu dekade dan mematikan harapan bagi perundingan damai yang digagas PBB.

Bagi komunitas internasional, langkah selanjutnya berada di tangan Dewan Keamanan PBB untuk menekan pihak-pihak yang bertikai. Tanpa intervensi diplomatik yang kuat untuk mengerem ambisi militer Riyadh dan Washington, Yaman akan terus terperosok ke dalam krisis kemanusiaan yang lebih dalam, sementara ketegangan antara poros Amerika-Saudi dan Iran terus membara di atas tanah Yaman.

Mengapa Ini Penting

Eskalasi konflik di Yaman memiliki dampak langsung terhadap stabilitas harga minyak global yang berimbas pada subsidi energi di Indonesia. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk terus mengawal resolusi damai PBB demi mencegah krisis kemanusiaan yang lebih parah. Keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam konflik proksi ini juga menjadi peringatan bagi Jakarta mengenai pentingnya kemandirian diplomasi dan pertahanan udara. Masyarakat Indonesia perlu menyadari bahwa perang di Timur Tengah dapat memicu inflasi dan gangguan rantai pasok yang menyentuh kehidupan ekonomi harian mereka.

Sumber Asli
Dunia
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit