Tujuh personel Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) tewas dalam perkelahian massal di atas kapal induk USS Abraham Lincoln yang sedang beroperasi di Samudra Hindia. Insiden berdarah itu dipicu oleh kelelahan dan frustrasi awak kapal akibat penugasan yang diperpanjang tanpa kepastian waktu pulang.
Perkelahian pecah setelah seorang penasihat kepala Komando Pusat (CENTCOM), Brad Cooper, naik ke kapal untuk meredam keresahan kru. Alih-alih mereda, kehadirannya justru memicu kemarahan. Cooper dicemooh dan dilempari botol saat berbicara di hadapan para personel yang sudah berada di laut selama berbulan-bulan.
Konfrontasi verbal itu dengan cepat berubah menjadi kekerasan fisik. Menurut laporan kantor berita Tasnim, pertengkaran antar-awak melibatkan pisau dan senjata tajam lainnya. Tujuh orang tewas di tempat, sementara sejumlah lainnya mengalami luka-luka. Suasana di atas kapal setelah kejadian dilaporkan tegang dan tidak kondusif.
Kapal induk USS Abraham Lincoln telah dikerahkan selama 263 hari, dengan 208 hari di antaranya dihabiskan berturut-turut di laut. Ini merupakan pengerahan berkelanjutan terpanjang dalam sejarah kapal tersebut. Misi utamanya saat ini adalah memblokade Iran di kawasan Timur Tengah, sebuah penugasan yang awalnya dijadwalkan berakhir pada Mei lalu.
Perpanjangan penugasan tanpa tanggal kepulangan yang jelas menjadi akar masalah. Pekan lalu, ratusan keluarga personel angkatan laut AS menemui Pelaksana Tugas Sekretaris Angkatan Laut Hung Cao dalam pertemuan virtual. Mereka menyampaikan kekhawatiran serius tentang kesehatan mental, kelelahan, dan keselamatan para awak kapal.
Sejumlah personel bahkan sempat dikabarkan mencoba melompat ke laut karena frustrasi tak kunjung dipulangkan. Salah satunya adalah suami dari Annabelle Loma, yang kini menjalani perawatan medis setelah percobaan bunuh diri tersebut gagal. "Dia takut. Dia pikir dia akan diberhentikan secara tidak hormat, dan hanya karena dia kelelahan, kariernya selama 13 tahun hancur begitu saja," ujar Loma.
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bahwa tekanan psikologis dalam penugasan militer bisa berujung fatal. Sekitar 5.000 pelaut dan Marinir di atas kapal induk Lincoln masih menjalani penugasan yang dimulai pada 21 November tahun lalu. Mereka telah berpisah dari keluarga selama lebih dari delapan bulan untuk mendukung operasi militer AS melawan Iran.
Cao telah mengatakan kepada para anggota keluarga bahwa Angkatan Laut sedang menyiapkan kelompok serang kapal induk USS Theodore Roosevelt untuk menggantikan Lincoln. Namun, para pejabat belum memberikan jadwal pasti dengan alasan keamanan operasional. Ketidakjelasan ini semakin memperbesar kecemasan di kalangan awak kapal dan keluarga mereka.
Bagi Indonesia, insiden ini relevan dengan kondisi personel TNI yang kerap ditugaskan dalam misi perdamaian PBB di berbagai negara konflik. Meski skala dan durasinya berbeda, tekanan psikologis yang dialami prajurit di perantauan adalah isu universal yang sering luput dari perhatian publik. Kesehatan mental personel militer sama pentingnya dengan kesiapan alutsista.
Kementerian Pertahanan dan TNI sejauh ini belum banyak membahas program dukungan psikologis jangka panjang bagi prajurit yang bertugas di luar negeri. Insiden di USS Lincoln bisa menjadi pelajaran berharga bahwa manajemen kelelahan personel adalah bagian tak terpisahkan dari efektivitas operasi militer, apa pun negara yang menjalankannya.
Ke depan, Angkatan Laut AS dituntut segera memulangkan Lincoln dan memberikan kejelasan jadwal pergantian. Jika tidak, risiko kerusuhan serupa atau aksi nekat lainnya akan terus membayangi. Tragedi ini juga membuka mata dunia bahwa perang modern tidak hanya memakan korban di medan tempur, tetapi juga di atas geladak kapal yang jauh dari rumah.