Kondisi jalan amblas di kawasan bantaran Kali Pulo Gadung, Jakarta Timur, dilaporkan semakin mengkhawatirkan. Kerusakan yang telah berlangsung selama lima bulan sejak April 2026 ini terus meluas akibat pergeseran struktur tanah ke arah aliran kali. Warga setempat mengungkapkan bahwa area yang terdampak kini mencapai panjang sekitar 100 meter, sebuah kondisi yang dinilai sangat membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Ketua RT 11 RW 03 Pulo Gadung, Warjono, menyatakan bahwa pihaknya telah berupaya melakukan mitigasi mandiri dengan menutup akses bagi kendaraan roda empat. Saat ini, hanya sepeda motor yang diizinkan melintas dengan sistem bergantian karena lebar jalan yang tersisa hanya sekitar satu meter. Langkah ini diambil sebagai tindakan preventif untuk menghindari risiko kecelakaan lalu lintas yang lebih fatal di area tersebut.
Menurut keterangan warga, kerusakan jalan ini diduga dipicu oleh aktivitas pengerukan Kali Pulo Gadung yang dinilai terlalu dalam. Proses pengerukan tersebut diduga menyebabkan struktur tanah di bantaran kali menjadi tidak stabil dan mengalami longsor secara bertahap. Akibatnya, badan jalan yang menjadi akses utama warga menuju permukiman dan pusat aktivitas ekonomi kini terancam terputus total.
Dampak dari kerusakan ini tidak hanya dirasakan oleh para pengendara, tetapi juga mengganggu mobilitas pedagang UMKM dan warga yang beraktivitas sehari-hari. Selain badan jalan, sejumlah fasilitas lingkungan seperti saluran air dan tempat penampungan sampah juga mulai mengalami keretakan serta kerusakan fisik. Warga khawatir jika perbaikan permanen tidak segera dilakukan, kondisi ini akan semakin memperparah kerusakan infrastruktur di sekitar permukiman.
Meski hingga saat ini belum ada korban jiwa, kekhawatiran warga terus meningkat terutama bagi keselamatan anak-anak yang sering melintas di kawasan padat penduduk tersebut. Warga takut sewaktu-waktu jalan akan kembali bergeser secara mendadak saat pengendara melintas, yang berpotensi menyebabkan korban terjatuh ke dalam kali. Minimnya penanganan hingga bulan kelima ini menjadi sorotan utama bagi warga setempat.
Merespons situasi tersebut, warga mendesak Pemerintah Kota Jakarta Timur melalui instansi terkait untuk segera melakukan penanganan secara permanen. Perbaikan infrastruktur dianggap krusial untuk memulihkan akses mobilitas warga dan memastikan keamanan lingkungan. Harapan besar ditumpukan pada pemerintah agar segera melakukan kajian teknis dan restorasi jalan sebelum kerusakan menyebar ke bangunan rumah warga di sekitarnya.