Pengurus Pusat Angkatan Muda Partai Golkar (PP AMPG) meluncurkan gerakan penghijauan masif dengan target menanam 444.444 pohon secara serentak di seluruh wilayah Indonesia. Inisiatif ini dicanangkan oleh Ketua Umum PP AMPG Said Aldi Al Idrus pada penutupan Diklat Kader Muda Nasional Gelombang III Tahun 2026 di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Minggu lalu. Kegiatan penanaman pohon simbolis tersebut menjadi penutup rangkaian pendidikan dan pelatihan yang diikuti oleh kader muda dari 36 provinsi selama lima hari penuh.
Gerakan ini lahir dari keprihatinan nyata terhadap meningkatnya frekuensi dan intensitas bencana alam di Indonesia, seperti banjir bandang, tanah longsor, dan kerusakan ekosistem hutan. Said menegaskan bahwa kader muda harus memiliki kepedulian lingkungan yang tinggi, mengingat bencana alam tidak lagi hanya soal cuaca ekstrem, melainkan juga akibat kumulatif dari degradasi lingkungan yang berlangsung bertahun-tahun. "Anak-anak muda harus peduli terhadap keselamatan bangsa dan keselamatan masyarakat di mana saja berada," tegas Said di hadapan peserta diklat.
Pelaksanaan penanaman tidak hanya bersifat simbolis di ibu kota, melainkan dirancang untuk menjalar ke seluruh lapisan organisasi AMPG. Mulai dari tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, hingga desa, seluruh jajaran dimobilisasi untuk menanam bibit pohon di wilayah masing-masing. Desentralisasi eksekusi ini bertujuan memastikan kepemilikan program (ownership) oleh kader daerah, sekaligus memastikan pemeliharaan pohon berkelanjutan karena dekat dengan komunitas lokal.
Pemilihan spesies pohon juga memperhatikan aspek identitas partai dan nilai manfaat ganda. Pohon beringin—simbol Partai Golkar—ditanam sebagai representasi identitas politik. Di sisi lain, AMPG menyertakan pohon produktif seperti rambutan, durian (termasuk varietas unggulan Musang King), serta pohon keras bernilai ekonomi dan ekologis tinggi seperti meranti dan mahoni. Pendekatan ini mengubah gerakan penghijauan dari sekadar kewajiban moral menjadi investasi aset alam yang berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar dalam jangka menengah hingga panjang.
Komitmen ini sejalan dengan arahan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia yang menuntut organisasi sayap partai tidak hanya aktif dalam dinamisasi politik, tetapi hadir memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Said menegaskan bahwa setiap gerakan AMPG harus bermanfaat dan merupakan pelaksanaan instruksi ketua umum agar Partai Golkar semakin relevan di tengah masyarakat. Narasi ini mencerminkan pergeseran strategi organisasi partai dari pendekatan struktural ke pendekatan berbasis isu (issue-based) yang lebih resonan dengan aspirasi publik kontemporer.
Ketua Penyelenggara Diklat Nasional AMPG Ilham Akbar menambahkan bahwa gerakan penghijauan ini selaras dengan karakteristik generasi muda saat ini. Generasi Z dan Milenial dikenal memiliki kesadaran tinggi terhadap isu iklim dan keberlanjutan. Oleh karena itu, program ini berfungsi dual: memperkuat basis kader politik menuju Pemilu 2029 sekaligus menjawab kebutuhan aktualisasi diri generasi muda melalui aksi nyata. "Gerakan ini tidak hanya bertujuan memperkuat Partai Golkar menuju 2029, tetapi juga memastikan masa depan lingkungan tetap terjaga," ujar Ilham.
Dukungan dari pengurus daerah memperkuat legitimasi program ini. Perwakilan dari Papua, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Utara yang hadir dalam diklat menyatakan kesiapan menggelar penanaman massal di wilayah masing-masing. Kesiapan ini menunjukkan bahwa gerakan nasional telah diterjemahkan menjadi rencana aksi lokal yang konkret, mengurangi risiko program hanya berhenti pada jargon di tingkat pusat. Koordinasi lintas wilayah ini juga membuka peluang pembelajaran silang (cross-learning) antar daerah terkait teknik penanaman dan pemeliharaan yang adaptif dengan kondisi mikroklimat lokal.
Secara makro, inisiatif AMPG berkontribusi pada target nasional rehabilitasi hutan dan lahan serta komitmen Indonesia dalam Paris Agreement untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Meskipun skala 444.444 pohon relatif kecil dibandingkan target rehabilitasi nasional yang mencapai jutaan hektar, nilai strategisnya terletak pada mobilisasi massa kader muda yang terorganisir dan tersebar di seluruh pelosok negeri. Jika dikelola dengan baik—termasuk sistem monitoring pertumbuhan dan pemeliharaan berbasis teknologi—gerakan ini bisa menjadi model replikasi bagi organisasi massa lain, lembaga swadaya masyarakat, maupun sector swasta dalam upaya kolektif menghadapi krisis iklim.