Nasional

ANTARA Hadirkan Euforia Piala Dunia 2026 ke Pulau Sebatik, UMKM Perbatasan Ikut Berdaya

Ringkasan

  • LKBN ANTARA menggelar nobar final Piala Dunia 2026 di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, melibatkan puluhan UMKM lokal guna meramaikan acara sekaligus menggerakkan ekonomi warga perbatasan.

Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara — Malam puncak Piala Dunia 2026 tidak hanya dimiliki warga metropolitan. Di ujung utara Kalimantan, tepatnya di Desa Aji Kuning, ratusan warga Pulau Sebatik menyaksikan laga final Spanyol melawan Argentina lewat layar raksasa yang disiapkan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA. Kegiatan nonton bareng (nobar) itu digelar sejak dini hari Senin, menjawab amanat Presiden Prabowo Subianto agar kegembiraan turnamen sepak bola terbesar dunia terasa hingga ke wilayah perbatasan.

Direktur Utama LKBN ANTARA, Benny Siga Butarbutar, menegaskan bahwa penyelenggaraan nobar di kawasan terdepan ini bukan sekadar hiburan semata. "Negara hadir memberikan kemeriahan, kegembiraan, untuk seluruh rakyat dalam menonton Piala Dunia. Dan kita berharap di situ akan menginspirasi orang-orang," ujarnya saat ditemui di lokasi. Ia menambahkan, kehadiran media publik di daerah terpencil bertujuh memperkuat rasa kebangsaan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.

Sebagai pelaksana mandat kepresidenan, ANTARA merancang rangkaian nobar di sejumlah titik perbatasan, dan Sebatik menjadi salah satu lokasi prioritas. Pulau yang berbatasan langsung dengan Malaysia ini kerap terabaikan dalam agenda nasional besar. Melalui acara ini, ANTARA ingin membuktikan bahwa jurnalisme publik mampu menjembatani kesenjangan informasi sekaligus hadir sebagai katalisator pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

Uniknya, penyelenggara sengaja melibatkan puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Sebatik untuk memenuhi kebutuhan kuliner penonton. Mulai dari pukul 00.00 WITA, warga sudah berdatangan mengantri menikmati kukusan, gorengan, kopi, teh, hingga sup khas Sebatik yang disajikan secara cuma-cuma. Seluruh bahan baku dan produksi diserahkan penuh ke tangan pengusaha lokal, sehingga uang yang berputar tetap berada di dalam komunitas.

Keterlibatan UMKM bukan sekadar tambahan logistik. Data dari tim lapangan menunjukkan minimal 35 kios UMKM tersebar di area nobar, masing-masing mampu melayani ratusan porsi sepanjang malam. Beberapa pedagang mengaku omzet naik hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa. "Ini pertama kalami kami ikut acara nasional besar. Biasanya cuma jual di pasar pagi," ucap Siti Rahma, penjual pisang goreng yang turut meramaikan event.

Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari beberapa perguruan tinggi di sekitar Nunukan juga menambah warna kolaborasi. Mereka membantu tim teknis ANTARA memastikan tayangan berjalan lancar, mengatur alur penonton, hingga mendokumentasikan momen-momen kebersamaan warga. Sinergi antara media negara, akademisi, dan masyarakat sipil menciptakan model pemberdayaan partisipatif yang langka dijumpai di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).

Dampak psikologis pun terasa nyata. Warga yang selama ini hanya mengikuti Piala Dunia lewat layar HP kecil atau warung internet berbayar, kini merasakan sensasi menonton bareng ribuan orang dengan fasilitas layar LED berukuran 4x6 meter dan sistem audio berkualitas stadion. "Kami merasa dihargai sebagai bagian dari Indonesia," ucap H. Amiruddin, tokoh masyarakat Desa Aji Kuning. Rasa bangga itu diperkuat saat Benny Siga Butarbutar menyampaikan sambutan secara langsung di hadapan massa.

Dari perspektif industri media, langkah ANTARA menonjolkan pergeseran peran LKBN dari sekadar penyedia berita menjadi agen pembangunan masyarakat. Di era di mana media swasta mengutamakan rating dan pendapatan iklan, kehadiran media publik di daerah terpencil menjadi bukti nyata fungsi sosial jurnalisme. Analis media, Dr. Arya Fernandes dari CSIS, menilai inovasi ini layak dijadikan benchmarak bagi lembaga penyiaran publik lainnya.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Nunukan melalui Dinas Koperasi dan UMKM mengapresiasi inisiatif ini. Kepala Dinas, Ir. H. Zulkifli, M.Si, mengungkapkan kesiapan pihaknya untuk mereplikasi skema kolaborasi media-UMKM dalam acara-acara nasional mendatang, seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) atau festival budaya perbatasan. "Kami akan fasilitasi izin dan pembinaan kapasitas UMKM agar siap hadir di panggung lebih besar," tuturnya.

Benny Siga Butarbutar menutup rangkaian acara dengan menekankan komitmen ANTARA untuk terus hadir di garis depan. "Jadi kegembiraan bersama itu juga berhak dinikmati oleh rakyat-rakyat Indonesia, saudara-saudara kita yang ada di perbatasan. Mereka merasakan kegembiraan yang sama dengan saudara-saudara di daerah lain," tegasnya. Frasa itu menggarisbawahi semangat merdeka belajar dan merdeka berkarya yang jadi narasi pembangunan era Presiden Prabowo.

Ke depan, model nobar berdaya guna UMKM ini diproyeksikan akan diadopsi di wilayah perbatasan lain seperti Entikong (Kalimantan Barat), Motaain (NTT), hingga Merauke (Papua Selatan). ANTARA sudah menyusun jadwal kunjungan ke sejumlah titik strategis untuk mensosialisasikan skema serupa. Jika berkelanjutan, Indonesia punya template baru: hiburan olahraga dunia jadi momentum pemberdayaan ekonomi kerakyatan di ujung negeri.

Mengapa Ini Penting

Artikel ini mengungkap model kolaborasi baru antara media publik dan ekonomi kerakyatan di wilayah 3T yang selama ini terpinggirkan dari momentum nasional. Berbeda dengan nobar komersial di kota besar yang justru mengekstraksi uang warga lewat tiket dan sponsor, pendekatan ANTARA justru memompa dana ke UMKM lokal. Ini menciptakan preseden penting: hiburan olahraga global bisa jadi instrumen redistribusi ekonomi ke perbatasan. Bagi industri olahraga Indonesia, ini membuka peluang sponsorship berbasis dampak sosial (impact sponsorship) bukan sekadar eksposur logo. Jangka panjang, skema ini bisa jadi fondasi pengembangan liga-liga grassroots di wilayah perbatasan dengan dukungan media negara.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
19 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit