Internasional

Asap Kebakaran Hutan Selimuti Toronto, Kualitas Udara Terburuk di Dunia

Ringkasan

  • Toronto catat kualitas udara terburuk dunia Rabu akibat asap kebakaran Ontario yang menyebar ke AS.

Toronto mencatat kualitas udara terburuk di antara kota-kota besar dunia pada Rabu (16/7/2026) setelah asap kebakaran hutan di Ontario barat laut menyelimuti langit kota dan menyebar ke wilayah timur laut Amerika Serikat. Environment Canada melaporkan indeks kesehatan kualitas udara di angka 10+, kategori risiko sangat tinggi, yang memicu peringatan kesehatan dan evakuasi di sejumlah titik.

IQAir, perusahaan teknologi pemantau udara asal Swiss, menempatkan Toronto di urutan pertama kota dengan polusi udara tertinggi secara global. Posisinya melewati Kinshasa di Kongo dan New Delhi di India. Armen Araradian dari IQAir menyebut kebakaran hutan sebagai penyumbang utama lonjakan polusi, ditambah suhu yang lebih panas dari rata-rata.

Kebakaran hutan melanda area berpenduduk jarang ratusan mil dari Toronto, kota terbesar di Kanada. Meski pusat api tidak mengancam langsung permukiman padat, asapnya terbawa angin ke wilayah luas termasuk Great Lakes dan negara bagian di AS seperti Pennsylvania, New York, Connecticut, Massachusetts, Maine, serta New Hampshire. Canadian National sempat menghentikan operasi kereta dekat Armstrong, Ontario, pada Senin malam setelah kereta dan warga setempat dievakuasi.

Musim kebakaran hutan Kanada tahun ini relatif tenang dibandingkan 2023 dan 2025 yang menjadi dua musim terparah. Pemerintah Kanada mencatat 835 titik api aktif pada Rabu, dengan 112 di antaranya tak terkendali. Sebagian besar terkonsentrasi di Manitoba, Saskatchewan, dan Ontario. Total lahan terbakar mencapai 1,9 juta hektare.

Suhu tinggi berperan mempercepat penyebaran api dan memburuknya kualitas udara. Greg Evans, profesor teknik kimia Universitas Toronto, mengatakan kota tersebut diserang bersamaan oleh gelombang panas ekstrem dan asap kebakaran. Ia memprediksi pola serupa bakal makin sering terjadi dalam beberapa dekade ke depan sehingga kota dan warga perlu bersiap.

Bagi Indonesia, peristiwa ini menyoroti risiko polusi lintas batas yang selama ini lebih dikenal melalui kabut asap dari kebakaran lahan di Sumatra dan Kalimantan. Data IQAir kerap menempatkan kota seperti Jakarta, Palangkaraya, dan Pekanbaru dalam daftar buruk saat musim kemarau. Perbedaannya, asap Kanada kali ini bergerak melintasi benua dan mengganggu even olahraga internasional.

Dampaknya terasa pada persiapan Piala Dunia FIFA yang akan digelar di stadion terbuka New Jersey pada Minggu. Lebih dari 80.000 penonton diperkirakan hadir, sementara 50.000 lainnya menonton di Central Park, New York, yang langitnya tampak berkabut. Gubernur New York Kathy Hochul mengimbau warga, terutama penderita penyakit pernapasan, untuk berhati-hati.

Layanan Cuaca Nasional AS memproyeksikan asap bertahan hingga akhir pekan. Dan Westervelt dari Columbia University menyatakan kondisi terburuk bagi New York, Great Lakes, dan New England belum terjadi. Peringatan kesehatan di New York meminta warga mengurangi aktivitas luar ruangan berat dan menambah istirahat jika terpaksa keluar.

Teknologi pemantau kualitas udara seperti IQAir dan sensor lokal sebenarnya sudah digunakan di Indonesia melalui aplikasi dan perangkat purifier. Namun integrasi data ke sistem peringatan dini pemerintah daerah masih terbatas. Kasus Toronto menunjukkan pentingnya dashboard udara real-time yang diakses publik saat krisis.

Di sisi lain, evakuasi warga dan penghentian operasi kereta oleh Canadian National menunjukkan bagaimana infrastruktur kritis rentan terhadap bencana iklim. Indonesia dengan jaringan kereta dan bandara padat perlu mencontoh protokol penghentian operasi berbasis indeks kesehatan udara.

Kanada memperingatkan suhu di atas rata-rata bakal memperbesar peluang kebakaran meski musim ini lambat mulai. Dengan 835 titik api dan tren panas ekstrem, dekade depan diproyeksikan memunculkan krisis udara periodik di Amerika Utara. Toronto dan kota lain wajib menyesuaikan rencana tata ruang dan tanggap darurat.

Proyeksi jangka panjang dari pakar Universitas Toronto mengarah pada kebutuhan adaptasi urban secara struktural. Filter udara di sekolah, gedung publik, hingga transportasi mungkin jadi standar baru. Bagi negara berkembang termasuk Indonesia, kolaborasi data iklim dan teknologi lingkungan menjadi kunci menghadapi ancaman serupa yang makin rutin.

Perspektif Indonesia menguatkan bahwa krisis udara bukan lagi isu lokal. Kabut asap regional dan polusi metropolitan butuh kebijakan terpadu serta literasi warga terhadap indeks kesehatan udara. Pengalaman Toronto memberi pelajaran tentang urgensi transparansi data dan mitigasi dini sebelum kualitas udara mencapai level berbahaya.

Mengapa Ini Penting

Krisis udara Toronto membuktikan bahwa polusi lintas batas sudah menjadi ancaman global yang bisa mengganggu even internasional dan mobilitas manusia. Indonesia yang rawan kabut asap perlu mempercepat integrasi data kualitas udara ke sistem peringatan dini daerah. Pengalaman evakuasi dan penghentian infrastruktur di Kanada layak dijadikan rujukan protokol iklim nasional. Masyarakat luas di Tanah Air harus mulai membiasakan membaca indeks kesehatan udara sebelum beraktivitas saat kemarau.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit